Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

8 Petinggi KAMI Ditangkap Polisi, Bukti KAMI Sarang Provaktor

8 Petinggi KAMI Ditangkap Polisi: Bukti KAMI Sarang Provaktor

Page Visited: 6267
Read Time:5 Minute, 42 Second

Penangkapan 8 Petinggi KAMI Ditangkap Oleh Bareskrim Polri, Bukti KAMI Sarang Provaktor

Bareskrim Polri menangkap petinggi dan anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Total ada 8 anggota KAMI Medan dan Jakarta yang ditangkap.

Karopenmas Divisi Humas Polri Brigjen Awi Setiyono merinci identitas 8 orang tersebut. Awi menyebut 4 orang berasal dari KAMI Medan dan 4 orang dari KAMI Jakarta.

“Medan KAMI: Juliana, Devi, Khairi Amri, Wahyu Rasari Putri. Jakarta: Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur, Kingkin,” kata Awi saat dikonfirmasi, Selasa (13/10/2020).

Ketua Komite Eksekutif KAMI Ahmad Yani ketika dikonfirmasi mengatakan penangkapan Anton disebabkan posting-annya di akun Facebook pribadinya. Namun, belum diketahui bagaimana kelanjutannya sampai saat ini.

“Kalau Pak Anton itu karena posting-annya di media sosial,” ujarnya

Adapun Khairi Amri menjabat sebagai Ketua KAMI Medan. Sementara itu, ada empat anggota yang diamankan di Jakarta, yakni Anton Permana, Syahganda Nainggolan, Jumhur Hidayat, dan Kingkin.

Dari keterangan sebelumnya, polisi mengungkapkan bahwa Syahganda ditangkap karena diduga melanggar UU ITE.

Di antara mereka yang ditangkap tersebut, beberapa di antaranya merupakan petinggi KAMI. Misalnya Anton Permana yang merupakan deklarator KAMI bersama Gatot Nurmantyo, Din Syamsuddin dan beberapa tokoh lainnya.

Jumhur Hidayat, yang turut ditangkap juga termasuk deklarator KAMI. Kemudian Syahganda Nainggolan adalah anggota Komite Eksekutif KAMI.

Kata Polisi, Isi Chat Grup WA KAMI Ngeri!

Grup WA KAMI berisi hasutan dan ujaran kebencian SARA yang arahnya adalah sebagai provokasi agar demo menjadi aksi kerusuhan. Polri memastikan penangkapan dan penahanan terhadap pegiat Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) sudah berdasar bukti yang kuat. Hal itu diungkapkan Karopenmas Divhumas Polri, Brigjen Awi Setiyono. Bukti tersebut berupa percakapan grup WhatsApp (WA), proposal, hingga bukti postingan di media sosial.

Awi mengatakan salah satu bukti yang paling mencolok adalah isi percakapan grup WA KAMI. Di grup tersebut dibahas upaya penghasutan yang membahayakan negara.

Baca Juga :  Menjaga Kampus Agar Tak Ada Lagi Deklarasi Khilafah

“Kalau rekan-rekan membaca WA-nya ngeri. Pantas kalau di lapangan terjadi anarkistis, masyarakat yang tidak paham betul, gampang tersulut,” ujar Awi di Mabes Polri, Jakarta, Selasa (13/10/2020).

Dari delapan anggota KAMI yang ditangkap polisi, baik di Jakarta maupun Medan, tidak semua tergabung dalam satu grup WA, namun ada beberapa grup WA.

“Enggak, bukan tergabung (dalam satu grup). Semua akan diprofiling. Kasus per kasusnya diprofiling,” ujar Awi.

Namun ia belum mau membeberkan sejak kapan percakapan yang membahas penghasutan dengan ujaran kebencian berdasar SARA itu dimulai. Karena hal itu sudah masuk dalam ranah penyidikan.

Awi menerangkan tindakan penghasutan yang dilakukan anggota KAMI tersebut berkaitan dengan demo penolakan UU Cipta Kerja.

“Ini terkait dengan demo Omnibus Law Cipta Kerja yang berakhir anarkistis. Patut diduga mereka itu (pegiat KAMI) memberikan informasi yang berbau SARA dan penghasutan,” terang Awi.

Ia pun memastikan bahwa pegiat KAMI yang ditangkap telah merencanakan penghasutan hingga terjadi perusakan fasilitas umum dan penyerangan terhadap aparat.

“Mereka memang merencanakan sedemikian rupa untuk membawa ini, membawa itu, melakukan perusakan itu ada jelas semua terpapar jelas (dalam grup WA),” jelas Awi.

Saat disinggung terkait apakah ada pihak yang membiayai atau dalam grup WA tersebut membahas soal bayaran aksi demo, Awi mengatakan hal tersebut sudah masuk materi penyidikan belum bisa diungkap sekarang.

“Sudah mulai masuk materi penyidikan, proposalnya ada. Nanti itu barang buktinya (proposal),” kata Awi.

Namun, Awi belum mau merincikan isi proposal yang dimaksud. Menurutnya, hal teraebut akan diungkapkan oleh penyidik yang saat ini masih melakukan pemeriksaan.

Delapan pegiat KAMI yang ditangkap adalah Juliana, Devi, Wahyu Rasari Putri, Khairi Amri, Kingkin Annida, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Khairi Amri. Beberapa orang itu sudah dijadikan tersangka dan ditahan Bareskrim Polri.

Baca Juga :  Sumanto Al Qurtuby: "Khilafah Sebagai Propaganda Politik Hizbut Tahrir"

Mereka diduga melangggar Pasal 45 A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 160 KUHP tentang penghasutan yang ancaman hukumannya mencapai enam tahun penjara.

(https://selasar.co/read/2020/10/14/3157/kata-polisi-isi-chat-grup-wa-kami-ngeri-hasutan-dan-ujaran-kebencian-sara)

Isi Grup WA KAMI : Buat Skenario 98 dan Demo Wajib Bawa Bom Molotov

Mabes Polri memastikan penangkapan 8 orang anggota Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) dalam rangkaian penolakan Omnibus Law Cipta Kerja sudah memenuhi bukti permulaan yang kuat.

Kepala Divisi Humas Polri Argo Yuwono 4 dari 8 yang ditangkap, sudah ditetapkan sebagai tersangka, yakni inisial KA, J, NZ dan WRP.

“Mereka adalah aktivis KAMI yang tergabung dalam WhatsApp Group KAMI Medan dengan tersangka KA sebagai admin,” kata Argo, Jumat 16 Oktober 2020.

Argo mengatakan bahwa di WAG tersebut, ditemukan konten foto kantor DPR RI disertai dengan tulisan “Dijamin komplit kantor sarang maling dan setan”.

Kemudian tersangka KA juga menulis kalimat “Mengumpulkan saksi untuk melempari DPR dan melempari polisi” dan “Kalian jangan takut dan jangan mundur” pada WAG tersebut.

Sementara tersangka J di grup WA itu menuliskan pesan “Batu kena satu orang, bom molotov bisa ngebakar 10 orang, bensin bisa berceceran”, “Buat skenario seperti 98, penjarahan toko Cina dan rumah-rumahnya, preman diikutkan untuk menjarah”.

Tersangka NZ dan WRP masing-masing menuliskan “Yakin pemerintah sendiri bakal perang sendiri sama Cina” dan “Besok wajib bawa bom molotov” di grup WA tersebut.

Keempat tersangka ditangkap setelah Siber Bareskrim memantau adanya konten provokasi di grup percakapan dari Grup WA Medan yang mendorong demonstran melakukan aksi demonstrasi yang anarkis, melakukan vandalisme dan melukai aparat. Dan menjalankan skenario kerusuhan 1998.

Baca Juga :  Tolak Khilafah dengan : "NKRI OK, ISLAM YES, KHILAFAH NO !"

“Unjuk rasa kemarin ada yang anarkis, vandalisme yang merusak fasilitas dinas Polri, fasilitas pemerintah dan fasilitas umum, melukai orang salah satunya petugas, contohnya di Medan, polisi menjadi korban unjuk rasa anarkis.”

“Dengan adanya anarkis dan vandalisme akibat unjuk rasa ini, kami cek ada beberapa kegiatan terpantau di medsos dari Medan. Pola yang digunakan pola hasut, pola hoaks,” tuturnya.

Terbukti! KAMI Menjadi Sarang Provokator untuk Merusak Indonesia

Barang bukti yang disita polisi dari keempat tersangka adalah ponsel, dokumen percakapan masing-masing tersangka, uang Rp500 ribu dan kartu ATM.

“Dari WAG itu, dikumpulkan uang untuk suplai logistik, baru terkumpul Rp500 ribu,” tuturnya.

Seperti diberitakan delapan anggota KAMI yang ditangkap adalah Juliana, Devi, Wahyu Rasari Putri, Khairi Amri, Kingkin Annida, Anton Permana, Syahganda Nainggolan, dan Jumhur Hidayat.

Mereka semua diduga melanggar Pasal 45A ayat 2 UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang ITE dan/atau Pasal 160 KUHP tentang penghasutan. Awi hanya menjelaskan penghasutan itu dilakukan di media sosial namun ia tidak menjelaskan detailnya.

Ancaman pidananya untuk yang UU ITE 6 tahun pidana penjara atau denda Rp 1 miliar, dan untuk penghasutannya di Pasal 160 KUHP ancaman pidananya adalah 6 tahun pidana penjara.

(https://isubogor.pikiran-rakyat.com/warta/pr-45839605/ngeri-isi-percakapan-di-grup-wa-kami-buat-skanario-98-dan-demo-wajib-bawa-bom-molotov)

Nah, dari pemaparan bukti-bukti yang diperoleh Bareskrim Polri dari lapangan bisa diambil kesimpulan bahwa KAMI mulai saat ini telah menjadi sarang provokator untuk merusak Indonesia. Apakah pantas KAMI disebut KOALISI AKSI MENYELAMATKAN INDONESIA? Tidak, KAMI lebih tepat disebut sarang provokator untuk menghancurkan Indonesia.

Oleh karena itu keberadaan KAMI ke depan wajib ditolak oleh segenap rakyat Indonesia. Kita rakyat Indonesia tidak butuh KAMI dari sejak awal dideklarasikan, buktinya deklarasi KAMI ditolak masyarakat dimana-mana di berbagai kota di Indonesia.

8 Petinggi KAMI Ditangkap Polisi, Bukti KAMI Sarang Provaktor
Bagikan ini :