Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Abuya Muhtadi Dimyati Ingatkan Ormas-ormas yang Menolak Pancasila

Page Visited: 1615
Read Time:3 Minute, 57 Second

Abuya Ahmad Muhtadi bin Dimyati Al-Bantany Ingatkan Generasi Muda Agar Waspadai Ormas-ormas yang Menolak Pancasila

Salah satu ulama Ahlussunnah wal Jama’ah asal Banten, KH. Abuya Muhtadi Dimyathi al-Bantani menyatakan cita-cita Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) untuk menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara merupakan salah satu bentuk pemberontakan.

Pengasuh Pondok Pesantren Cidahu Cadasari Pandeglang Banten ini memberikan pernyataan secara tertulis dalam surat pernyataan tertanggal 21 Agustus 2013. Surat pernyataan tersebut disampaikan langsung oleh beberapa murid Abuya Muhtadi ke kantor redaksi NU Online Jakarta pada Selasa (3/9/2013). Sebelumnya surat pernyataan itu juga sudah dikirimkan ke PBNU.

Dalam surat yang ditanda-tangani sendiri oleh Abuya Muhtadi itu, beliau menyatakan HTI adalah ormas Islam dari luar negeri yang datang ke Indonesia dan ingin menghilangkan Pancasila sebagai dasar negara.

Perbuatan tersebut adalah salah satu macam dari pemberontakan, padahal memberontak negara itu dosa besar, maka dari itu HTI haram hukumnya dalam berbagai keadaan.

Abuya Ahmad Muhtadi bin Dimyati Al-Bantany Soal Ormas-ormas yang Menolak Pancasila.

Abuya Muhtadi adalah seorang ulama ahlussunnah kharismatik di Pandeglang dan mempunyai banyak murid di wilayah Banten. Ayahanda beliau KH. Abuya Muhammad Dimyati adalah pendiri Ponpes Cidahu yang dirintis tahun 1965. Sejak 2003 sampai sekarang Abuya Muhtadi menggantikan ayahnya memimpin Ponpes Cidahu.

Dari pesantren ini melahirkan banyak ulama ahlussunnah seperti Al Habib Hasan bin Ja’far Assegaf pemimpin Majelis Nurul Musthofa Jakarta.

Baca Juga :  Pancasila Sudah Final Sebagai Dasar Berbangsa dan Bernegara

Pada 22 Agustus 2013 lalu dalam Halal Bihalal Majlis Pesantren Salafiyah (MPS) Banten di Masjid Agung Ats Sauroh, Kota Serang, Abuya Muhtadi memperingatkan agar waspada dan menjaga anak-anak, keluarga dan masyarakat, khususnya di Banten agar tidak ikut-ikutan ormas Islam yang menentang NKRI dan Pancasila.

Diungkapkan Abuya Muhtadi, agama Islam dan ulama besar di Banten mengajarkan persatuan, kesatuan dan Pancasila sebagai buah perjuangan bersama yang harus dijaga. Meski begitu, lanjut Abuya Muhtadi, mesti diingat bahwa mereka yang menentang NKRI dan Pancasila juga adalah saudara-saudara sesama umat Islam kita yang tidak boleh dianggap murtad.

Menurut murid Abuya Muhtadi, beliau gerah dengan gerakan kelompok HTI di wilayah Banten. Informasi yang dilansir dari NU Online, putra tokoh besar Abuya Dimyathi ini merasa dirugikan oleh HTI karena namanya sering dicatut dalam berbagai aktifitas mereka di Banten.

Fatwa Abuya Muhtadi Tentang Pancasila Sebagai Dasar Negara & Haramnya HTI

Abuya Muhtadi, Rois ‘Am M3CB (Majelis Mudzakarah Muhtadi Cidahu Banten) mengeluarkan dua fatwa yang ditandatangani Abuya kharismatik itu pada 21 Agustus 2013. Fatwa ini ditulis menggunkan Bahasa Arab.

Berikut adalah isi Fatwa Abuya Muhtadi Dimyati:

Fatwa pertama tentang Pancasila yang artinya kurang lebih “Dasar Negara yang bersifat global mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemashlahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke yang terdiri dari beragam Agama, ras dan suku.

Fatwa kedua tentang HTI. Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia kurang lebih “HTI dan misi kaum muslimin tersebut adalah menghilangkan Pancasila, mereka juga menghina dan meremehkan tokoh-tokoh perumus dan pengesah Pancasila dan menganggap bahwa tokoh-tokoh perumus Pancasila adalah taghut. Perbuatan seperti itu adalah salah-satu macam pemberontakan terhadap negara. Padahal memberontak negara itu dosa besar, maka HTI dan ormas-ormas Islam yang sejalan dengan HTI itu hukumnya harom dalam beberapa masalah/situasi dan kondisi.

Pengasuh Pondok Pesantren Rodlotul Ulum Cidahu, Banten, Abuya Muhtadi Dimyati mengingatkan kepada para santri agar tidak meninggalkan budaya dan ideologi negara Indonesia. Menurut Abuya, setiap muslim harus mampu meneguhkan tekad yang kuat dalam menjaga spirit berbangsa dan beragama. Setiap tindakan pembangkangan terhadap Indonesia merupakan sikap yang bertentangan dengan cita-cita bersama bangsa Indonesia yang didirikan ulama.

Baca Juga :  Bareskrim Polri Tunjukkan Bukti Petinggi KAMI Sebar Hoaks Agar Demo Rusuh

“Jangan kebanyakan melihat kesana kesini, teruskan mengaji, untuk yang belajar ke luar negeri nanti ketika pulang jangan macam-macam, pokoknya jangan aneh-aneh. Jangan kembali dari luar negeri malah jadi anti tahlil anti shalawat, serba anti, anti ini anti itu, paling bahaya mereka yang kembali dari luar negeri ke Indonesia lalu menjadi anti NKRI dan anti Pancasila, ini yang parah,” terang Kiai yang menguasai berbagai kitab madzhab Syafi’i itu.

Ulama yang dikenal karena kedalaman ilmunya itu menambahkan, Pancasila merupakan konstitusi bersama yang disepakati untuk menaungi segenap perbedaan komponen masyarakat Indonesia, baik perbedaan agama, ras, maupun suku. Ideologi apapun tidak boleh menggantikan Pancasila karena Pancasila sudah final dan tak perlu dipertentangkan. Apalagi Indonesia bukan negara agama, melainkan negara yang beragama, bukan Darul Islam tetapi Darus Salam.

“Pancasila adalah dasar negara yang bersifat global, mencakup keseluruhan komponen bangsa yang dirumuskan dan disahkan oleh tokoh-tokoh sebelum kita untuk kemaslahatan seluruh rakyat NKRI dari Sabang sampai Merauke, yang terdiri dari beragam agama, ras, suku,” papar Abuya Dimyati.

Baca Juga :  Cinta NKRI Perlu Ditingkatkan untuk Bentengi Diri dari Ideologi Asing

Ulama Banten yang dijuluki Mufti Syafiiyah itu memberi pesan agar segenap masyarakat Indonesia menjaga Pancasila dari rongrongan ideologi yang ingin menggantikanya. Menurut Abuya, menjaga Pancasila adalah suatu kewajiban karena Pancasila adalah amanah para ulama pendahulu kita.

“Ya Allah, itu Pancasila tidak dibuat oleh sembarang orang, tidak! Awas jangan macam-macam ,” tegas ulama kharismatik asli Putra Banten tersebut. (*)

Bagikan ini :