Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Ada Apa dengan Radikalisme Agama dan Neo-Ateisme?

Page Visited: 1186
Read Time:1 Minute, 32 Second

Tumbuhnya Radikalisme Agama Adalah Tumbuhnya Neo-Ateisme

Gambar di atas adalah pose Dawkins sambil tersenyum dalam acara pelepasan kampanye gerakan ateisme melalui iklan di badan biskota London pada tahun 2008. Acara ini diselenggarakan oleh Dawkins dan Asosiasi Humanis Inggris untuk melawan kampanye umat Kristiani Evangelis beberapa waktu sebelumnya.

Dalam acara itu, Dawkins memberi sambutan kurang lebih begini: “atas nama Tuhan, manusia kehilangan rasa kemanusiaannya, “tuhan” diciptakan manusia untuk melegalisir kekejaman kepada manusia lainnya.” Lalu Dawkins menyitir berbagai sejarah pembunuhan atas nama Tuhan di Eropa.

Dawkins ada benarnya. Dalam tataran perilaku manusia, apa yang dikatakannya adalah fakta. Tapi Dawkins sepenuhnya keliru, kekejaman manusia seolah perintah Tuhan – padahal aksi kekerasan dan kekejian, sejatinya adalah perintah manusia kepada manusia. Tuhan hanya dipakai sebagai alat pembenar dalam berbagai aksi dehumanisasi. Dawkins tidak memahami segregasi perilaku manusia dan perintah keilahian dalam memanusiakan manusia.

Dawkins sekarang mungkin tertawa, melihat naiknya eskalasi radikalisme global, “Bellum Sacrum” dan pertikaian redenominasi dalam agama yang tak ada habisnya. Gerakan neo-ateisme yang digagasnya seolah menghantar pembuktian semua taklimatnya. Ia kecipratan celah-celah kosong di kepala kaum skeptis, yang setiap hari hanya diisi oleh caci maki dan kekerasan atas nama agama.

Baca Juga :  Catatan Sisi Gelap Sistem Khilafah

Banyak penganut agama terjebak dalam aksi radikalisme yang sebenarnya memundurkan peradaban agamanya. Mereka mengedepankan kekerasan, yang dianggap akan membuat agamanya lebih berdiri tegak. Padahal sejarah membuktikan, kemajuan intelektuallah yang justru membangkitkan daya tarik berbagai agama – dan ia hanya bisa berkembang dalam suasana yang tenang dan damai.

Terutama dalam sejarah Islam, pluralitas kekuasaan di Eropa dan metode akulturasi budaya khalifah Harun al-Rasyid di Baghdad, justru menyuburkan lahirnya para cendekiawan Muslim yang hebat, dan berhasil merubah peradaban manusia. Islam lalu berdiaspora melalui ilmu pengetahuan.

Damai dan kemanusiaan dalam agama bukan sekedar daya tarik, ia elemen utama. Jika kekerasan yang lebih diutamakan, tidak mustahil agama akan semakin kehilangan peminatnya. (*)

Sumber: https://www.facebook.com/1076831809/posts/10217702770455818/

Bagikan ini :