Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Adik Gus Dur Pernah Ingatkan Bahaya PKS dan Bicara Soal Masa Depan NU

Adik Gus Dur Pernah Ingatkan Bahaya PKS dan Bicara Soal Masa Depan NU

Page Visited: 2059
Read Time:2 Minute, 49 Second

Tentang Bahaya PKS Sebagai Mainan Amerika sudah pernah diingatkan Adik Gusdur ini pada 18/12/2008 dalam refleksi akhir tahun bertajuk NU dalam Konstalasi Politik Nasional oleh IKA-PMII di aula gedung PBNU Jakarta ….

Sepuluh Tahun Lalu, Adik Gus Dur Sudah Ingatkan Bahaya PKS

Sepuluh tahun lalu, yakni pada tanggal 18/12/2008, KH. Hasyim Wahid (Gus Iim), adik kandung Gus Dur sudah mengingatkan warga NU akan bahaya PKS. Hal itu disampaikan oleh Gus Iim dalam acara refleksi akhir tahun yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Iakatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau IKA-PMII.
Bagaimana penjelasan Gus Iim terkait PKS?

Berikut redaksi lampirkan penjelasan Gus Iim tentang PKS yang sebelumnya dimuat oleh Situs Resmi PBNU NU Online sepuluh tahun lalu.

Pengamat politik internasional KH Hasyim Wahid (Gus Iim) menyatakan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS), salah satu partai politik berbasis Islam yang mulai berkembang di Indonesia hanyalah mainan baru Amerika Serikat.

Baca Juga :  Toleransi Menjaga Bangsa dari Bahaya Radikalisme

Baca juga : Humor Gus Dur : Agama Gus Dur Paling Jauh dari Tuhan

KH Hasyim Wahid (Gus Iim), Adik Gus Dur Ini Pernah Ingatkan Bahaya PKS Sebagai Mainan Amerika

Dikatakannya, keadaan dunia berubah pasca perang dingin. Dunia menjadi kawasan pasar bebas sehingga dikehendakilah masyarakat yang pro pasar. Sementara kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap terlalu nasionalis untuk bisa menyesuaikan diri dengan pasar bebas.

”Maka dimunculkanlah Islam baru yang namanya PKS, yang lebih sesuai dengan pasar global,” katanya.

Gus Iim berbicara dalam acara refleksi akhir tahun bertajuk NU dalam Konstalasi Politik Nasional yang diselenggarakan oleh Pengurus Besar Ikatan Keluarga Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia atau IKA-PMII di aula gedung PBNU Jakarta, Kamis (18/12/2008).

Menurut adik kandung KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini, sebagai organisasi yang berjenjang global, PKS terpolarisasi dalam beberapa kelompok. “Di dalamnya memang retak-retak. Yang satu berkiblat ke Departemen Luar Negeri Amerika, satu lagi terkait dengan DI/TII tapi semuanya Amerika juga,” katanya.

Baca juga : Gus Dur : Perbedaan NU dan Muhammadiyah

Menurut Gus Iim, reformasi Indonesia sebenarnya tidak ada. Yang ada hanyalah peristiwa penjatuhan Soeharto oleh Amerika Serikat. Menurutnya, pasca perang dingin Amerika sudah tidak perlu lagi “centeng” di beberapa negara, termasuk Soeharto.

Baca Juga :  Indonesia - Rusia Akan Kerjasama Kembangkan Vaksin dan Obat Covid-19

“Gelombang demokratisasi itu sebenarnya tidak ada. yang ada adalah cerita bahwa Amerika sedang sibuk membawa pembaharuan pengelolaan ekonomi di negara kaya minyak dan mineral,” katanya.

Bersamaan dengan itu kelompok Islam tradisionalis dan modernis dianggap sudah tidak dibutuhkan.

NU di Masa Depan Menurut Gus Iim

Dikatakannya, sebelumnya memang dimunculkan dikotomi Islam tradisionalis dan Islam modernis. Islam yang tradisionalis dalam hal ini diwakili oleh Nahdlatul Ulama (NU) disingkirkan. Kelompok yang identik dengan kaum sarungan ini dianggap tidak layak turut serta dalam pembangunan ekonomi sehingga dianggap tidak berhak mendapatkan akses.

Namun, lanjut Gus Iim, meski tak mendapat akses langsung, kelompok tradisionalis bergerak dan berkembang terus. Anak-anak dari kelompok sarungan ini belajar berbagai macam disiplin ilmu, selain ilmu keagamaan, sehingga bisa beraktifitas di mana-mana.

”Orang sekarang kaget melihat orang NU paling rapak ilmunya,” katanya. ”Betapa NU tumbuh dengan luar biasa, tanpa fasilitas negara. Sekarang kalau ada anak NU berusia 30, kalau dikasih kesempatan akan bisa melobi negara di dunia manapun.”

Baca Juga :  Hari Raya Idul Adha 2020, Masjid Istiqlal Tiadakan Salat Id 1441 H

Dalam hal pengembangan teknologi informasi, tambahnya, orang akan kaget melihat peringkat dalam www.alexa.com, situs pemantau rating website seluruh dunia, di mana media informasi NU Online www.nu.or.id menjadi website organisasi sosial kemasyarakatan yang paling banyak dikunjungi di dunia.

”Menurut kenyataan ini, kaum sarungan sudah tidak dianggap enteng,” kata Gus Iim. (Sumber NU Online)

Bagikan ini :