Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Asal Muasal Penyebaran Paham Khilafah Di Kampus

Asal Muasal Penyebaran Paham Khilafah Di Kampus

Page Visited: 1014
Read Time:2 Minute, 45 Second

Penyebaran paham khilafah di kampus bukan perkara baru, bahkan hingga kini masih aktif meskipun HTI sudah dilarang di Indonesia. Para pemangku kebijakan di perguruan tinggi harus dapat segera mengidentifikasi lembaga-lembaga, aktor, serta jaringan dalam kampus yang mempromosikan paham Khilafah yang bertentangan dengan ideologi negara.

Penyebaran paham radikal terutama Khilafah di lingkungan perguruan tinggi sesungguhnya bukan isu baru di Indonesia. Meski konsep Khilafah juga diusung oleh sejumlah kelompok lain, namun harus dilihat bahwa HTI-lah yang sangat masif mempromosikan paham tersebut dan aktif melakukan rekrutmen dan penggalangan di masyarakat.

Baca juga : Membantah Propaganda Palsu Khilafah Tentang Pajak

Sejak awal 1980-an, masuknya Hitzbut Tahrir ke Indonesia disertai dengan penetrasi ke kalangan menengah perkotaan dan kelompok terdidik. Kampus kemudian menjadi target strategis kelompok ini untuk menyebarluaskan paham politik Khilafah dan memperluas sumber rekrutmen politik untuk mengembangkan organisasinya.

Kiprah HTI di Indonesia dimotori oleh Abdullah bin Nuh, pemilik Pesantren Al-Ghazali yang mengajak Abdurahman Al-Bagdadi, seorang aktivis Hitzbut Tahrir yang tinggal di Australia untuk menetap di Bogor guna mengembangkan pendidikan di pesantren miliknya. Hal ini menjadi peluang bagi Abdurahman Al-Bagdadi untuk mengembangkan interaksinya dengan berbagai komunitas terutama para aktivis Masjid Al-Ghifari, Institut Pertanian Bogor.

Baca Juga :  Ayik Heriansyah Tentang Pasang Surut Hubungan FPI dan HTI

Baca juga : Kenapa Rakyat Indonesia Harus Mewaspadai HTI ?

Ide-ide khilafah menjadi sentral dari gerakan “dakwah” yang dilakukan kelompok-kelompok diskusi dan pengajian halaqah yang telah terpengaruh oleh Abdurahman Al-Bagdadi.

Aktivis HTI Menyamarkan Gerakan Politiknya dalam Dakwah Kampus

Setelah berhasil menanamkan pengaruh di lingkungan IPB, HTI segera menyebar dengan memanfaatkan jaringan kegiatan Lembaga Dakwah Kampus (LDK). Ide khilafah HTI kemudian berkembang seperti epidemik, menyusup ke berbagai perguruan tinggi di Indonesia seperti Universitas Padjajaran, ITB, IKIP Malang, Unhas, UI, UGM, Unair, ITS dan perguruan tinggi lainnya.

Kini, diperkirakan hampir keseluruhan perguruan tinggi di Indonesia, terutama perguruan tinggi Islam dan PTN terkemuka telah disusupi oleh para aktivis HTI yang menyamarkan gerakan politiknya dalam kegiatan dakwah kampus.

Baca juga : HTI Siuman Lagi, Apakah Perlu Gerakan Besar Menolak Kebangkitan HTI ?

Cover dakwah ini membuat HTI leluasa untuk merekrut anggota dan menanamkan doktrin politik khilafah. Para kelompok muda terdidik di kampus yang memang dicirikan dengan kehausannya akan ide-ide baru dan keluar dari mainstream yang telah mapan kemudian segera masuk dalam perangkap propaganda HTI.

Baca Juga :  Tidak Paralel dengan Pancasila, Ideologi Khilafah Jadi Ancaman bagi NKRI

Konsep Khilafah menurut HTI, merupakan kepemimpinan umum bagi kaum muslimin seluruhnya di dunia untuk menegakkan hukum-hukum Syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia. Khilafah adalah institusi politik yang menggantikan negara nasional dan mempersatukan umat Islam tanpa melihat lagi batas-batas negara-bangsa (nation state). Khilafah juga bertugas untuk menerapkan syariah Islam dalam segala aspek kehidupan, baik itu politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, politik luar negeri, dan sebagainya dalam lingkup negara Khilafah.

Selain itu, Khilafah juga berfungsi menyebarkan dakwah Islam ke seluruh dunia dengan menjalankan jihad fi sabilillah ke negara-negara lain. Elemen penting yang menjadi fondasi daripada Khilafah ini terletak pada prinsip kedaulatan di tangan syariah, bukan di tangan rakyat; kekuasaan di tangan umat; mengangkat satu orang khalifah adalah wajib atas seluruh kaum muslimin; dan hanya khalifah saja yang berhak melegislasikan hukum-hukum syara’, dan Khalifah saja yang berhak melegislasi UUD dan segenap UU.

Baca juga : Ayik Heriansyah Tentang Pasang Surut Hubungan FPI dan HTI

Baca Juga :  Hizbut Tahrir Ditolak di Negara-negara Muslim

Ringkasnya, Khilafah adalah otoritas tertinggi dengan kekuasaan yang absolut dalam negara imperium yang tidak mengenal sekat nation state.

Oleh: Otjih Sewandarijatun – Alumnus Universitas Udayana, Bali.

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda