Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Awas-Propaganda-Khilafah-Lewat-Buku-Bacaan

Awas! Propaganda Khilafah Lewat Buku Bacaan

Page Visited: 1622
Read Time:3 Minute, 47 Second

Awas! Selamatkan Anak-anak dari Propaganda Khilafah Lewat Buku Bacaan

Anak-anak kita rawan menjadi korban propaganda khilafah yang terus mengincar anak-anak. Setidaknya ini pernah terjadi pada beberpa tahun yag lalu, banyak ditemukan buku pelajaran sekolah bermuatan propaganda khilafah. Anak-anak di sekolah tingkat dasar dan menengah bahkan taman kanak-kanak rentan terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme yang merupakan efek samping dari khilafahisme, seperti ditunjukkan sejumlah penelitian.

Beberapa tahun lalu, ajaran radikalisme pernah ditemukan oleh organisasi pemuda Nahdlatul Ulama, yaitu GP Ansor, yang menyebut beberapa jilid buku pelajaran siswa Taman Kanak-kanak (TK) berjudul “Anak Islam Suka Membaca”, mengajarkan radikalisme dan memuat kata-kata ‘jihad’, ‘bantai’, dan ‘bom’.

Akhirnya buku itu pun ditarik setelah menimbulkan kritikan gencar dari masyarakat.

Bahkan guru besar Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta Azyumardi Azra mengungkapkan paham radikal, yang menganggap pemahamannya paling benar, juga telah menyusup ke sekolah menengah melalui guru.

“Saya mengalami sendiri. Putri saya sekolah di sebuah sekolah yang bagus, elite, cukup mahal di Jakarta selatan. Ada satu atau dua gurunya yang kalau mengajar suka menyisipkan pesan-pesan ajaran salafi, yang berpikir hitam putih, atau mengajarkan paham-paham yang kelihatan proradikalisme untuk mengubah keadaan,” kata Azyumardi.

Baca Juga :  5 Tokoh Penting HTI dan Perannya Ini Dibongkar Warganet

Survei Lembaga Kajian Islam dan Perdamaian (LaKIP), yang dipimpin oleh Prof Dr Bambang Pranowo, yang juga guru besar sosiologi Islam di UIN Jakarta, pada Oktober 2010 hingga Januari 2011, mengungkapkan hampir 50% pelajar setuju tindakan radikal.

Data itu menyebutkan 25% siswa dan 21% guru menyatakan Pancasila tidak relevan lagi. Sementara 84,8% siswa dan 76,2% guru setuju dengan penerapan Syariat Islam di Indonesia.

Jumlah yang menyatakan setuju dengan kekerasan untuk solidaritas agama mencapai 52,3% siswa dan 14,2% membenarkan serangan bom.

Peneliti Maarif Institute, Abdullah Darraz, mengatakan melemahnya nilai Pancasila dan kebangsaan di sekolah berbanding lurus dengan maraknya radikalisme itu.

Selain itu, menurut Darraz yang melakukan penelitian di Garut Jawa Barat, lingkungan keluarga juga berpengaruh karena sering kali orang tua membiarkan anak-anaknya mengikuti kelompok radikal, daripada anaknya terlibat tawuran atau narkoba.

Itulah kenapa setahun yang lalu, Kementerian Agama (Kemenag) merombak 155 judul buku pelajaran agama yang kontennya dianggap bermasalah, termasuk soal khilafah. Perombakan dilakukan untuk seluruh buku pelajaran agama mulai dari kelas 1 sekolah dasar hingga kelas 12 sekolah menengah atas.

Direktur Jenderal Pendidikan Islam (Dirjen Pendis) Kemenag Kamaruddin Amin mengatakan pihaknya mengevaluasi konten-konten yang berpotensi salah dimaknai oleh anak didik. Salah satunya, konten mengenai khilafah.

Baca Juga :  Waspada Ancaman Radikalisme di NKRI

“Khilafah itu kan bisa disalahpahami oleh anak-anak kita, oleh guru-guru kita juga bisa salah paham kalau tidak dijelaskan secara baik. Khilafah itu kan pernah ada dalam sejarah Islam sampai runtuhnya Turki Usmani kan, pada tahun 1923,” kata Amin saat ditemui di Kantor Kemenkominfo, Jakarta, Senin (11/11/2019).

Amin menyampaikan harus dijelaskan khilafah ada dalam sejarah, tapi tidak serta-merta bisa diterapkan di Indonesia saat ini. Menurutnya, khilafah sudah tidak lagi relevan di negara bangsa Indonesia.

Selain itu, konten yang akan diulas kembali berkaitan dengan ajaran yang berpotensi memicu pertentangan di masyarakat. Misalnya, soal tahlilan yang sering dimaknai berbeda di antara kelompok mazhab.

“Jadi upaya kita dalam penulisan buku ini tidak hanya yang kontennya berpotensi radikal, tapi juga konten-konten yang berpotensi menimbulkan perpecahan di antara umat Islam,” ucap dia.

Ketika itu, Amin berkata perombakan bakal selesai pada Desember 2019 dan akan disahkan Menteri Agama Fachrul Razi. Setelah itu, buku-buku baru akan mulai dipakai untuk pelajaran agama Islam, baik di sekolah agama seperti madrasah di bawah Kemenag maupun sekolah umum di bawah Kemendikbud.

Baca Juga :  Terorisme Berawal dari Intoleransi dan Radikal Kemudian Aksi Teror

Menteri Agama (Menag) Fachrul Razi sebelumnya menyatakan pemerintah bakal melarang keberadaan atau penyebaran paham khilafah di Indonesia. Hal itu disampaikannya di depan para imam masjid dalam Lokakarya Peningkatan Peran dan Fungsi Imam Tetap Masjid.

Dia mengatakan tak perlu lagi ada perdebatan soal khilafah. Sebab menurutnya paham itu lebih banyak unsur merugikan untuk keutuhan bangsa Indonesia.

“Saya sudah mulai lakukan secara tegas kita katakan khilafah tidak boleh ada di Indonesia. Memang kalau ngomong khilafah ini kan kalau dilihat dari aspek-aspek Alquran atau hadis-hadis dan lain sebagainya, kontroversial. Kalau kita berdebat enggak akan selesai-selesai,” kata Fachrul dalam lokakarya di sebuah hotel di Jakarta, Rabu (30/10/2019).

Kementerian Agama (Kemenag) tengah menggodok ulang kurikulum tentang pelajaran agama Islam untuk siswa sekolah. Hal ini dilakukan untuk mencegah paham radikalisme dan perpecahan sejak dini yang mungkin menyusup ke pelajaran agama.

Ia juga menjelaskan bahwa perombakan ini didasari atas temuan tentang sistem khilafah di buku-buku lama. Menurutnya, hal tersebut bisa disalahtafsirkan oleh sejumlah kalangan. Memang sudah seharusnya kita mengawasi anak-anak kita jangan sampai menjadi korban ajaran radikalisme yang terdapat dalam buku-buku bacaan umum, ataupun buku pelajaran sekolah. (*)

Bagikan ini :