Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Perempuan Terlibat Radikalisme dan Terorisme, Apa Faktor penyebabnya

Bagaimana Perempuan Bisa Terlibat Radikalisme dan Terorisme?

Page Visited: 1215
Read Time:3 Minute, 7 Second

Perempuan Terlibat Radikalisme dan Terorisme, Apa Faktor penyebabnya?

Menurut Umi Sumbulah dalam Perempuan dan Keluarga: Radikalisasi dan Kontra Radikalisme di Indonesia (2019), ada empat faktor yang menjadi daya penarik bagi perempuan terlibat radikalisme.

  • Pertama, faktor religius berupa kuatnya doktrin bahwa menegakkan khilafah adalah kewajiban bagi setiap Muslim.
  • Kedua, faktor ideologis berupa doktrin hijrah, jihad, syahid, Islam kaffah yang dimaknai dalam dimensi politis sebagai kewajiban untuk mewujudkan piranti dan institusi politik. ”Islam adalah agama yang kaffah dan mengatur semua kehidupan di dunia ini. Maka, tegakkanlah khilafah agar ber-Islam-mu menjadi kaffah.”Orang yang memiliki kemampuan literasi keagamaan lemah dicekoki argumentasi seperti ini, pasti orang ini akan goyah dan menganggap bahwa Pancasila tidak Islami.
  • Ketiga, faktor politis berupa munculnya radikalisme sebagai respon terhadap narasi ketidakadilan yang dipertontonkan negara.
  • Keempat, faktor pribadi berupa provokasi dan propaganda melalui internet yang dapat mempengaruhi para perempuan muda untuk meninggalkan zona nyaman mereka untuk bergabung dengan kelompok radikal.
Baca Juga :  Masjid Adalah Benteng Utama Lawan Radikalisme

Terkait poin keempat ini, sudah banyak contoh atau korbannya. Perempuan yang masuk dalam lingkaran setan radikalisme dan terorisme adalah persoalan yang serius, karena perempuan selain bisa menjadi aktor gerakan radikalisasi dan aksi teroris, juga bisa mencetak kader radikal yang super militan.

Testimoni seorang istri anggota gerakan radikal

Secara spesifik memang tidak ada faktor yang berbeda antara laki-laki dengan perempuan ketika mereka terpapar ajaran ideologi radikal, hampir rata-rata tahapanya sama mulai dari titik mengenal ideologi radikal sampai menjadi teroris. Hanya saja, yang diluar keumuman, biasanya hal-hal yang berbau kekerasan itu identik dengan laki-laki tetapi ternyata kemudian perempuanpun berada di di dalamnya.

Dalam sebuah artikel pernah dituliskan mengenai testimoni seorang istri dari anggota gerakan radikal, kira-kira isinya seperti ini:

“Saya yang menguatkan suami untuk berjihad dengan ikut ISIS di Suriah. Saya bilang “jangan takut soal Umi dan anak-anak, rezeki Allah yang atur”. Saya bilang ke suami “Izinkan Umi dan anak-anak mencium bau surga melalui Abi, semoga Abi selamat. Tapi kalau tidak, saya ikhlas, saya bersyukur karena dengan suami menjadi syahid, saya dan anak-anak akan terbawa ke surga.”

Baca Juga :  Tidak Datang ke Bareskrim Polri, Ahmad Yani Ngaku Belum Terima Surat Panggilan Resmi

Dari testimoni tersebut dapat kita lihat bahwa peran perempuan dalam dunia terorisme bukan hanya sekedar pelengkap saja, melainkan begitu menentukan dalam memainkan perannya.

Selain itu, ada fakta lain yang menyatakan bahwa perempuan bukan sekedar memberikan dorongan saja, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi terorisme. Sebagai contoh: aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh oleh satu keluarga (suami, istri dan anak) di Surabaya pada mei 2018 lalu.

Peristiwa tersebut cukup menyita perhatian publik, bukan hanya publik dalam negeri, tapi juga menyita perhatian dunia. Dalam kasus ini Jelaslah bahwa tindakan teror bisa dilakukan oleh siapa saja, tidak terbatas pada usia ataupun jenis kelamin, bahkan anak-anakpun bisa terlibat didalamnya.

Mereka yang terpapar ideologi Islam radikal, biasanya mereka akan memiliki keyakinan bahwa wajib hukumnya bagi seorang muslim untuk membunuh orang kafir (non-Muslim), meyakini kewajiban menegakkan negara Islam dan khilafah islamiyah dengan melakukan jihad menumpas ketidakadilan, walau dengan cara membunuh.

Mereka juga terjejali dengan narasi ketertindasan sehingga sangat meyakini bahwa umat Islam kini dalam kondisi tertindas karena itu harus diselamatkan dengan jihad. Jihad dalam makna membunuh semua musuh Islam yang mereka istilahkan dengan thagut. Selain itu perempuan juga didoktrin dengan pemahaman bahwa perempuan harus ikut berjihad membela Islam.

Baca Juga :  Mencegah Radikalisme dengan Moderasi Beragama

Jika dilihat lagi testimoni yang ada di awal itu, sepertinya testimoni itu selaras dengan sebuah petuah bijak yang mengatakan bahwa: “Di balik kesuksesan seorang suami atau laki-laki, ada doa dan dorongan dari seorang istri atau perempuan.” Di sinilah dimulainya peran perempuan dalam karir seorang laki-laki.

Maksudanya adalah ketika perempuan sudah terlibat dalam terorisme kemudian melaksanakan perannya dengan maksimal maka para lelaki yang menyebut dirinya jihadis ini akan bergerak dengan semangat lebih dan lebih siap membombardir. Namun pernyataan tersebut tidak berlaku untuk perempuan-perempuan yang bergabung dengan ISIS karena iming-iming harta semata. (*)

Bagikan ini :