Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Benarkah Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Terkait Dinasti Usmaniyah di Turki

Benarkah Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Terkait Dinasti Usmaniyah di Turki ?

Benarkah Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Terkait Dinasti Usmaniyah di Turki ?

Page Visited: 6911
Read Time:2 Minute, 1 Second

Fenomena Penggiringan Opini Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Terkait Dinasti Usmaniyah di Turki

Akhir akhir ini muncul suatu penggiringan opini bahwa sejarah kerajaan kerajaan Islam di Nusantara ini ada kaitannya dengan Dinasti Usmaniyah di Turki.

Untuk menggiring opini tersebut disebutlah bahwa Dewan Walisongo dibentuk oleh Dinasti Usmaniyah, Kerajaan Demak di sahkan oleh Usmaniyah, Raja Raja Mataram Islam di bawah kekuasaan Usmaniyah dan terakhir Pangeran Diponegoro dibantu laskar laskar Usmaniyah.

Tujuan akhir penggiringan opini tersebut adalah untuk mendirikan negara Khilafah di Nusantara. Hati hati terhadap penggiringan opini sesat tersebut.

Mari kita mulai belajar Sejarah. Dari jaman dulu Kerajaan Kerajaan di Nusantara itu merupakan kerajaan yang mandiri. Tidak berada di bawah kekuasaan atau pengaruh dari manapun. Ketika kerajaan Demak berdiri memang pernah mendapat pengakuan dari Dinasti Usmaniyah tahun 1479, tapi itu hanya hubungan diplomatik.

Baca juga : Benarkah Khilafah Ala HTI Sama dengan Khilafah Ala Minhajin Nubuwwah ?

Begitu pula Sultan Agung dari Kerajaan Mataram yang mendapat gelar Sultan Abu Muhammad Al-Matarami. Itu semua hanya hubungan diplomatik. Hubungan diplomatik antar kerajaan merupakan suatu hal yang biasa. Kerajaan Sriwijaya (Hindu/Budha) pun menjalin hubungan diplomatik dengan Dinasti Umayyah di Damaskus.

Baca Juga :  Tahun 2024, Tahun Tegaknya Khilafah Islamiyah di Indonesia?

Lalu dikatakan Walisongo bentukan Usmaniyah? Ini merupakan distorsi sejarah. Para Wali itu berasal dari berbagai wilayah seperti Champa (Bekas wilayah Majapahit), Aceh (Kerajaan Mandiri tidak berada dibawah kekuasaan manapun).

Dan harus dipahami bahwa Islam berkembang di Nusantara bukan lewat jalur Politik atau Kekuasaan. Akan tetapi Islam berkembang pesat di Nusantara lewat jalur Kebudayaan dan Toleransi. Dua hal inilah yang membuat masyarakat Nusantara berbondong bondong memeluk Islam.

Terakhir dikatakan Pangeran Diponegoro dibantu oleh Khilafah Usmaniyah ketika perang Jawa. Mari kita ketawa hehehe, yang membantu Diponegoro adalah Laskar para Ulama (Kyai dan Habaib), Santri dan rakyat asli Nusantara.

Baca juga : Propaganda Khilafah HTI Bisa Jadi Bom Waktu di Indonesia

Memang di dalam pasukan Diponegoro disebut Turkio Bulkio, Pasha dan berbagai Istilah angkatan Perang Usmaniyah. Tapi itu hanya istilah istilah dalam kemiliteran yang mencontoh namanya saja. Laskar Pangeran Diponegoro adalah laskar yang berdiri di atas kaki sendiri dan bukan di bawah pengaruh dan kekuasaan manapun.

Baca Juga :  Kita Beruntung karena Pemerintah Tidak Menjalankan Locdown

Hati hati di jaman Ghozwul Fikr (Perang Pemikiran) ini. Jangan sampai opini opini penggiringan yang jelas-jelas salah tersebut menjadikan kita anti NKRI.

Ingat, NKRI harga mati, artinya untuk bentuk negara kita sudah final, tidak ada tawar menawar dengan bentuk negara apapun. Inilah bentuk negara, NKRI yang sudah terbukti bisa merangkul seluruh suku, budaya, bahasa dan berbagai perbedaan yang lain dalam satu negara. (qa/ummatina)

Bagikan ini :