Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

China Sebut Rumor Soal Penghancuran Ribuan Masjid di Xinjiang

China Sebut Hanya Rumor Soal Penghancuran Ribuan Masjid

Page Visited: 1009
Read Time:1 Minute, 18 Second

Soal Penghancuran Ribuan Masjid di Xinjiang, China Sebut Laporan Lembaga Australia Hanya Rumor

BEIJING – Kementerian Luar Negeri (Kemlu) China menolak klaim lembaga Think Thank Australia bahwa Beijing menghancurkan ribuan masjid di wilayah Xinjiang.

Menurut Kemlu China terhadap lebih dari 24.000 masjid di Xinjiang atau lebih banyak masjid per kapita dibandingkan sebagian besar negara-negara Muslim di dunia.

Sebelumnya, Australian Strategic Policy Institute (ASPI) mengumumkan laporan bahwa ada sekitar 16.000 masjid di Xinjiang telah dihancurkan atau dirusak akibat kebijakan pemerintah, sebagian besar terjadi sejak 2017.

Perkiraan itu dibuat menggunakan citra satelit dan berdasarkan sampel 900 lokasi tempat suci hingga 2017, termasuk masjid, kuil dan tempat suci lainnya.

“Pemerintah China telah memulai kampanye sistematis dan sengaja untuk menulis ulang warisan budara Wilayah Otonom Uighur Xinjiang untuk menjadikan tradisi budaya pribumi itu patuh pada ‘bangsa China’,” papar laporan ASPI Australian tersebut.

“Bersama upaya tekanan lain untuk menyusun ulang kehidupan budaya dan sosial Uighur dengan mengubah atau menghapus budaya, musik, rumah dan bahkan makanan Uighur, kebijakan pemerintah China secara aktif menghapus dan mengubah elemen kunci warisan budaya mereka yang terlihat,” ungkap laporan ASPI.

Baca Juga :  Pasca Debat Capres, Warga AS Berburu Cara Pindah ke Kanada

Untuk merespon laporan itu, juru bicara Kemlu China Wang Wenbin menyebut laporan itu hanya rumor. Menurut dia, ASPI menerima dana asing untuk mendukung berbagai serangan kebohongan terhadap China.

“Jika kita lihat pada angka, di sana lebih dari 24.000 masjid di Xinjiang yang lebih dari 10 kali lipat dibandingkan di Amerika Serikat. Ini artinya ada satu masjid untuk setiap 530 Muslim di Xinjiang, yang lebih banyak masjid per kapita dibandingkan kebanyakan negara-negara Muslim,” kata Wenbin. (qa)

Bagikan ini :