Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Di Ethiopia, Pembantaian Massal Warga Sipil Dibacok Hingga Tewas

Di Ethiopia, Pembantaian Massal Warga Sipil Dibacok Hingga Tewas

Page Visited: 1101
Read Time:2 Minute, 53 Second

Pembantaian Massal Di Ethiopia, Warga Sipil Satu Kota Dibacok Hingga Tewas

ADDIS ABABA – Lembaga pemantau HAM internasional, Amnesty Internasional (AI), telah melaporkan adanya kemungkinan pembantaian massal terhadap ratusan orang di wilayah Tigray Ethiopia. PBB pun menyerukan penyelidikan serius dengan mengatakan kematian itu akan menjadi kejahatan perang jika telah berhasil dikonfirmasi.

Amnesty International mengatakan banyak warga sipil dibacok atau ditikam sampai mati di satu kota, dan Perdana Menteri Abiy Ahmed menuduh pejuang dari Front Pembebasan Rakyat Tigray (TPLF) sebagai pelaku pembantaian itu. Para pejabat Tigrayan membantah terlibat dalam kekejaman itu dan pemimpin kawasan itu, Debretsion Gebremichael, mengatakan kepada kantor berita AFP bahwa tuduhan itu tidak memiliki dasar yang jelas.

Dalam sebuah pernyataan yang disiarkan di Facebook, Abiy mengatakan bahwa pejuang TPLF mengamuk setelah pasukan pemerintah “membebaskan” bagian barat Tigray. Mereka secara brutal membantai warga sipil tak berdosa di Mai-Kadra, sebuah kota di zona barat daya Tigray.

Baca Juga :  Iran Sebut Kematian Soleimani Hadiah Terbesar AS untuk Teroris

Para saksi juga menyalahkan pasukan yang setia kepada TPLF, menurut Amnesty International, yang melaporkan bahwa mereka yang mengunjungi kota itu sehari setelah serangan itu menemukan mayat-mayat berlumuran darah dan berserakan di seluruh penjuru kota.

“Ini adalah tragedi mengerikan yang hanya waktu yang akan menjawabnya karena komunikasi di Tigray tetap ditutup,” kata Deprose Muchena, Direktur Amnesty International untuk Afrika Timur dan Selatan seperti dilansir dari Newsweek, Sabtu (14/11/2020).

Dia mengatakan para korban tampaknya adalah pekerja harian, dan sama sekali tidak terlibat dalam serangan militer yang sedang berlangsung di wilayah itu.

Amnesty International mengatakan telah memeriksa dan memverifikasi secara digital foto dan video mayat-mayat di tanah atau yang dibawa dengan tandu. Amnesty International mengkonfirmasi jika itu adalah gambar-gambar terbaru dan menggunakan citra satelit, yang ditempatkan secara geografis ke Mai-Kadra.

“Pemerintah harus memulihkan semua komunikasi ke Tigray sebagai tindakan akuntabilitas dan transparansi untuk operasi militernya di wilayah tersebut, serta memastikan akses tanpa batas ke organisasi kemanusiaan dan pemantau hak asasi manusia,” kata organisasi itu.

Baca Juga :  Di Ethiopia, Kelompok Bersenjata Bantai 34 Orang di Dalam Bus

“Amnesty International bagaimanapun juga akan terus menggunakan semua cara yang tersedia untuk mendokumentasikan dan mengungkap pelanggaran oleh semua pihak dalam konflik,” tegas AI.

Kelompok hak asasi itu mengatakan seorang ahli patologi independen mendukung klaim yang dibuat oleh para saksi bahwa mayat-mayat tersebut memiliki luka menganga akibat senjata tajam seperti pisau dan parang.

“Amnesty International belum dapat memastikan siapa yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu, tetapi telah berbicara dengan para saksi yang mengatakan pasukan yang setia kepada TPLF bertanggung jawab atas pembunuhan massal itu, tampaknya setelah mereka dikalahkan oleh pasukan federal EDF,” katanya.

Kepala Hak Asasi Manusia PBB Michelle Bachelet telah menyerukan penyelidikan penuh atas pembantaian massal tersebut.

“Ada risiko situasi ini akan benar-benar lepas kendali, yang menyebabkan banyak korban jiwa dan kehancuran, serta pemindahan massal di Ethiopia sendiri. dan melintasi perbatasannya,” kata seorang juru bicara Bachelet.

Pemerintah Ethiopia dan TPLF, yang mengendalikan Tigray, terlibat ketegangan berkepanjangan. Ketegangan telah memuncak menjadi bentrokan militer antara TPLF dan Pasukan Pertahanan Ethiopia (EDF) pemerintah, termasuk serangan udara oleh pasukan federal.

Baca Juga :  20 Lebih Pengungsi Rohingya Tenggelam di Perairan Malaysia

Abiy menuduh TPLF memulai konflik dengan menyerang pangkalan militer federal dan menentang otoritasnya, sementara Tigrayans mengatakan mereka telah dianiaya selama dua tahun pemerintahannya.

Akibatnya, ribuan warga sipil telah melintasi perbatasan ke Sudan, yang mengatakan akan melindungi mereka di kamp pengungsi. Lebih dari 11.000 pengungsi Ethiopia telah menyeberang ke Sudan sejak pertempuran dimulai, menurut badan bantuan.

Pemerintah Ethiopia telah mengeluarkan surat perintah penangkapan untuk pejabat Tigray dan menunjuk “administrator sementara” sebagai bagian dari upayanya untuk menggulingkan kepemimpinan regional. PBB mengatakan bahwa pasokan bantuan penting kepada ratusan ribu orang di Ethiopia utara terancam karena konflik tersebut. (*)

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda