Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Teror Ala PKI & DI - TII di Madura

Di Madura Mulai Muncul Teror Ala PKI, ISIS & DI / TII

Page Visited: 694
Read Time:3 Minute, 6 Second

Teror Ala PKI & DI / TII di Madura

Mendatangi rumah orangtua dengan pengerahan massa militan merupakan teror gaya Komunis yang menghalalkan segala cara yakni mencampuradukkan urusan negara dan provokasi pribadi dengan teror.

Teror sejenis juga dilakukan oleh massa militan pendukung DI / TII, Darul Islam dan Tentara Islam Indonesia – di Jawa Barat pada masa lalu. Entah pola mana yang dipakai, sebab keduanya berdampak sama, yakni mengancam keselamatan penduduk dan menakut nakuti.

Selasa siang, 1 Desember 2020, pukul 13.45 WIB dikabarkan massa sebanyak 20 truk mengatas-namakan umat Islam Pamekasan, telah mengepung rumah Ibunda Menko Polhukam Mahfud MD di Jalan Dirgahayu, Kelurahan Bugih, Kecamatan Pamekasan, Kabupaten Pamekasan,

Di depan rumah ibunda Mahfud MD, massa sempat berorasi sebelum dengan cepat dihalau polisi.

Selain mengepung rumah orang tua Mahfud dan mendatangi Mapolres Pamekasan. Dalam orasinya, mereka meminta agar pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab tidak dijadikan tersangka.

Sebelumnya di Jakarta, Menkopolhukham Mahfud MD menegaskan semua pihak akan dimintai keterangan khususnya Moh Riziek Shihab yang selama ini menunjukkan sikap tidak kooperatif.

Baca Juga :  Katakan Tidak pada Radikalisme, Katakan Tidak Kepada Terorime

Aparat sepantasnya sigap menangani ini. Melakukan pembiaran akan membuat mereka besar kepala. Kucing kucing liar itu akan berubah jadi serigala dan macan yang menyerang warga tidak berdosa.

Massa yang demo lebih kasar dari PKI karena pelakunya mengatas namakan “umat Islam”. Ajaran Islam tak membenarkan aksi tidak berakhlak yang mengintimidasi orangtua untuk urusan yang tak ada hubungannya dengan politik.

Islam aliran apa mereka itu, DI / TII – ISIS?

Memaklumi tindakan mereka berpotensi menumbuh-suburkan radikalisme. Seharusnya aparat segera melakulan proses profiling, terhadap otak penggeraknya, dan terhadap setiap warga negara radikal itu.

DALAM sejarah perjalanan bangsa, yang kelam, ada dua kelompok militan yang kerap mengintimidasi / meneror penduduk, dan membuat keresahan yaitu PKI dan DI / TII.

Aksi persekusi mereka dilakukan kepada lawan politik menggunakan massa pendukung atau ormas undebouw-nya. Sedangkan DI / TII menganggap warga, penduduk yang tidak mendukung gerakan mereka dianggap “kafir” dan pantas diperangi. Atau dirampas hartanya.

Tindak teror yang belakangan terulang – khususnya di Madura disinyalir peninggalan dari kelompok Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang menggunakan cara cara PKI.

Baca Juga :  Skill Academy Sumbangkan Seluruh Penghasilan dari Program Kartu Prakerja

Dua duanya adalah kelompok ekstrim – ektrim kiri dan ektrim kanan – yang menentang kelompok tengah yakni Nasionalis Moderat Pancasila – yang memerintah sekarang.

Meski pemberontakan mereka telah dipadamkan di zaman Orla dan Orba, namun ideologinya tak mudah mati. Dan berbeda dengan PKI yang sudah tumpas hingga akarnya, DI/TII justru dimanfaatkan oleh rezim Orde Baru.

Paska tumbangnya Suharto, sel sel DI / TII bangkit kembali dengan membentuk partai Islam. Mimpi mendirikan negara Islam masih terus diupayakan. Apalagi kemudian berdatangan ormas Islam Transnasional seperti HTI dan Ikhwanul Muslimin serta Salafi dan Wahabi.

Gerakan Islam radikal di Indonesia juga tak lepas dari gejolak Timur Tengah, sebagai upaya penghancuran negara sumber minyak oleh Barat lewat ISIS yang dibentuk Amerika, sebagaimana diakui Hillary Clinton

MENINGKATNYA suhu politik dan maraknya aksi teror ormas yang bergerak di Indonesia, pada hari hari ini – tak lepas dari pengaruh dunia barat dan korporasi global yang mempunyai kepentingan di Indonesia, setelah kontrak karya mereka banyak diambil alih pemerintah Presiden Jokowi.

Baca Juga :  Komjen Sigit Tegaskan Terorisme Musuh Bersama

Di sisi lain elite dalam negeri yang telah dirugikan dan bisnisnya tersingkir juga ikut membacking dan ikut mendanai. Faktor internal dan elite Jakarta sangat menguat hari hari ini.

Gerakan massa di Madura tak bisa dilepaskan dari komando geng elite anti pemerintah di Jakarta.

Agama menjadi modusnya. Karena dengan menunggangi isu agama dan ketidak-adilan, massa militan akan kehilangan akal sehat dan tak ragu mempertaruhkan nyawa dan melakukan aksi perusakan penjarahan dan pembantaian sesama anak bangsa dan saudara sendiri dan seagama.

Penanganan kasus ini memang harus hati hati. Namun juga tak perlu waktu lama. Harus cepat dan tegas. Untuk menunjukkan hukum dan negara hadir.

Kucing kucing liar itu sudah jadi serigala. Dan boleh berubah menjadi macan.

Supriyanto Martosuwito

Sumber: https://www.facebook.com/100000549211511/posts/4092647927430141/

Bagikan ini :