Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Mengapa Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

Dianggap Ancaman, Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

Page Visited: 506
Read Time:5 Minute, 34 Second

ANKARA – Kebijakan ekstrim Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan terhadap para pengkritiknya semakin meningkat. Selasa pekan lalu, media pemerintah merilis surat perintah penangkapan kepada lebih dari 400 orang terdiri dari tentara, dokter, dan guru.

Kejahatan apa yang dituduhkan kepada mereka? Ternyata sederhana saja, yaitu mereka diduga berafiliasi dengan gerakan keagamaan yang dipimpin oleh ulama Fethullah Gulen. Dia adalah seorang tokoh agama Islam Turki berpaham Aswaja yang kini tinggal di Amerika Serikat sebagai pengasingan.

Baca juga : Selama Lockdown, Kasus Perceraian di Arab Saudi Capai 7000 Lebih

Penahanan terhadap mereka merupakan upaya terbaru rezim Erdogan sebagai tekanan gerakan Gulen. Penangkapan oleh rezim Erdogan secara besar-besaran telah menjadi subjek penumpasan berkelanjutan di Turki sejak 2016.

“Pemerintah Erdogan telah menjadikan Gulenist (pendukung Gulen) sebagai musuh yang dianggap paling buruk di Turki,” kata Henri Barkey, seorang peneliti untuk studi Timur Tengah di Council on Foreign Relations, seperti dikutip dari Al Arabiya English.

tanda-tanda “perlawanan” atas kondisi politik baru-baru ini terjadi setelah mantan Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu pada Senin pekan lalu mengatakan kesiapannya bekerjasama dengan partai-partai oposisi untuk menentang Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), partai berkuasa yang dipimpin Erdogan.

“Erdogan pun merasa terancam oleh meningkatnya oposisi terhadapnya,” kata Barkey.

“Dan setiap kali Erdogan terpojok maka isu komunitas Gulen dijadikan sebagai senjata,” imbuh Imam Abdullah Antepli, seorang profesor hubungan antaragama di Universitas Duke dan mantan pemimpin dalam komunitas Gulen.

Baca juga : Rusia Kirim Senjata Berat ke Suriah, SAA Siapkan Operasi Besar di Idlib

Sekelumit Tentang Gerakan Gulen

Gerakan Gulen merupakan gerakan keagamaan internasional yang merujuk pada sosok Fethullah Gulen, 81, seorang ulama Aswaja Turki yang memulai dakwahnya di kota Izmir, Turki barat pada pertengahan 1960-an. Gulen kemudian memegang posisi di Kementerian Agama Turki sebagai seorang imam.

Baca Juga :  Salat Jamaah di Hagia Sophia, 500 Orang Didiagnosa Terjangkit Covid-19

“Gulen adalah seorang pendakwah yang sangat berpengaruh dan memanfaatkan popularitas untuk menciptakan jaringan pendidikan dan mempromosikan keterlibatan antaragama,” kata Antepli.

Dia menambahkan bahwa interpretasi Gulen tentang Islam sebagai ajaran yang moderat, terbuka dengan pendidikan gaya Barat, nilai-nilai demokrasi, dan hubungan antaragama.

Gerakan Gulen terkenal di Turki sebagai Hizmet, yang berarti “layanan”. Pengikut Gulen mengoperasikan sekolah di Turki dan di seluruh dunia, di mana lebih dari 100 lembaga untuk di AS saja.

“Sekolah-sekolah ini terbuka untuk siswa dari semua latar belakang dan bertujuan untuk memberdayakan siswa melalui sains, seni, dan pendidikan bahasa dengan memperhatikan lingkungan yang saling menghormati kepada berbagai agama, etnik dan budaya,” kata Alp Aslandogan, anggota dewan Institut Gulen dan pimpinan Aliansi Nirlaba untuk Nilai Bersama yang berbasis di New York.

Menurut Antepli, Gerakan Gulen dapat dipersamakan dengan ordo religius Yesuit dalam agama Katolik, sebuah sekte yang juga dikenal karena fokus pada pendidikan.

Baca juga : Ada 8 Partai Komunis Justru Berdiri di Negara Islam, Aneh Bukan?

Gulen telah bertemu dengan pemimpin Katolik Paus Yohanes Paulus II, juga Kepala Rabi Israel Eliyahu Bakshi-Doron. Pertemuan itu untuk membahas dialog antaragama pada tahun 1998.

Tahun berikutnya Gulen melarikan diri ke AS setelah dianiaya oleh pejabat militer di Turki. Hingga kini dia masih tinggal di Pennsylvania, Amerika.

Ironisme Erdogan yang Anggap Gerakan Gulen sebagai Ancaman

Erdogan dan Gulen adalah dua sosok pejuang di Turki dalam melawan sekularisme. Gulen dan Erdogan pernah bersekutu melawan sekularisme absolut, yang diberlakukan oleh Mustafa Kemal Ataturk.

Keduanya berhasil mendesain ulang sistem pemerintahan Turki untuk memungkinkan agama berperan lebih aktif.

Tetapi menurut Atepli, Gulen yang menginginkan Turki sebagai negara yang menerapkan nilai-nilai demokrasi, berseberangan ketika Erdogan ingin negara itu tetap berada di bawah pemerintahan Islam.

Aliansi Gulen dan Erdogan tamat pada 2011 ketika Gulen menolak untuk memberikan dukungan kepada Erdogan dalam upaya menghapuskan check and balance pada kekuatannya.

Baca Juga :  Menghina Presiden Erdogan, 3.800 Orang Dipenjara di Turki

“Erdogan ingin Gulen mendukung semua tindakannya. Gulen menolak ini dan Gerakan Gulen kini membayar mahal harga kebebasannya,” kata Aslandogan.

Erdogan menuding pendukung Gulen membangun “negara paralel” melalui jaringan berbagai sektor termasuk bidang pendidikan, media, dan militer.

Baca juga : Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki dan Kisah Kematian yang Indah

Aslandogan mengatakan, sesungguhnya gerakan itu tidak pernah menghadirkan ancaman bagi Erdogan. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu menggunakannya sebagai kambing hitam untuk membenarkan perebutan kekuasaan.

Beginilah Erdogan Memperlakukan Pendukung Gulen

Erdogan menganggap Gerakan Gulen adalah organisasi teroris pada Mei 2016. Erdogan juga pernah menuduh Gulen dan para pengikutnya memimpin upaya kudeta yang gagal pada 15 Juli tahun 2016.

Ketika itu Erdogan juga bersumpah untuk “memenggal kepala para pengkhianat” yang menjadi dalang kudeta.

“Tetapi kepemimpinan Gulen meyakini bahwa sebenarnya Erdogan sendiri yang merencanakan kudeta yang ‘didramakan’ sebagai alasan untuk memperluas penganiayaan,” ujar Aslandogan.

Sejak itu Ankara telah menangkap puluhan ribu orang atas tuduhan memiliki keterkaitan dengan Gulen. Juga lebih dari 100.000 orang telah dipecat atau ditangguhkan dari pekerjaan di sektor publik.

Aslandogan memaparkan para pendukung Gulen di Turki dikenai hukuman penjara, tidak diberikan kesempatan kerja, pemotongan tunjangan perawatan kesehatan, pembekuan aset, dan penyitaan paspor.

Hal ini juga menimpa atlet Turki terkemuka, seperti pemain sepak bola Hakan Sukur dan pemain NBA Enes Kanter, telah dijadikan targetkan oleh negara karena mendukung Gulen dan dituduh menentang Erdogan.

Baca : Palestina khawatir aneksasi Israel akan semakin membatasi akses Laut Mati

Pada tahun 2016 pemerintah Turki mengeluarkan surat perintah untuk menangkap Sukur dan Kanter, menuduh keduanya menghina Erdogan di Twitter.

“Komunitas Gulen menolak untuk tetap diam selama masa pemerintahan Erdogan dan akibatnya ditargetkan sebagai orang yang tidak tunduk pada keinginan presiden yang semakin otoriter,” kata Kanter, yang kini tinggal di AS.

Baca Juga :  Yunani Ancam Jadikan Rumah Ataturk Museum Genosida untuk Balas Turki

“Harga yang harus dibayar terlalu buruk. Ketika datang untuk menekan komunitas Gulen, tidak ada hukum domestik atau internasional yang dipatuhi pemerintah,” kata Kanter dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya English.

“Saya tidak menyebutnya sebagai sistem hukum Turki, karena ia tidak melayani rakyat Turki dengan keadilan, tetapi hukum ini hanya untuk Erdogan dan kepentingannya saja,” kata Kanter.

Siapa Lagi yang Ditindak Erdogan?

Menurut Amnesty International, undang-undang anti-terorisme di Turki tidak jelas. Peraturan undang-undang banyak disalahgunakan dalam kasus-kasus palsu terhadap jurnalis.

Turkey Purge menyebut lebih dari 319 wartawan telah ditangkap di Turki sejak 2016, dan 189 outlet media ditutup. Data yang diungkap Turkey Purge, sebuah situs web yang dijalankan oleh wartawan Turki telah mendokumentasikan berbagai penangkapan di negara itu.

Salah satu korban penangkapan adalah jurnalis Turki; Abdülhamit Bilici. Dia adalah pemimpin redaksi surat kabar Zaman.

Pemerintah Erdogan banyak membungkam outlet berita, memenjarakan banyak wartawan organisasi, dan menunjuk kepemimpinan baru.

“Setelah serangan polisi ke markas kami di Istanbul, hal pertama yang dilakukan pengawas yang ditunjuk Erdogan adalah memecat saya,” kata Bilici dalam sebuah wawancara dengan Al Arabiya English.

Baca : Peter F Gontha 2018: Indonesia akan Menjadi Negara Kuat dan Makmur

Setelah menerima ancaman dari Erdogan dan pendukungnya, Bilici meninggalkan negaranya menuju AS.

“Saya mendapat pesan peringatan seperti ‘siapkan tas Anda untuk dipenjara’. Saya merasa bahwa percakapan telepon saya disadap. Kemana pun saya pergi, orang-orang mengejar saya—sebagai akibat dari semua ini, saya tidak merasa aman untuk terus tinggal di Turki,” lanjut dia.
(qa)

Bagikan ini :