Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Fakta Khilafah Lahir dari Rahim Politik Bukan dari Rasulullah SAW

Fakta Khilafah Lahir dari Rahim Politik Bukan dari Rasulullah SAW

Page Visited: 6211
Read Time:8 Minute, 25 Second

Tahukah Anda, Ternyata Khilafah Lahir dari Rahim Politik Bukan dari Rasulullah SAW ?

Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) akhir-akhir ini menjadi tranding topik di berbagai media, baik di situs-situs web maupun medsos. Bukan tanpa sebab, hal itu karena gaung suara Khilafah terus didengungkan oleh anggota eks HTI yang mana akhir-akhir ini semakin berani dan terang-terangan. Mereka mendompleng soal isu munculnya kembali paham terlarang Partai Komunis Indonesia (PKI).

Yang membuat miris, dalam setiap kesempatan, mereka selalu menjual opini kalau sistem pemerintahan khilafah adalah konsep pemerintahan yang diterapkan Rasulullah.

Padahal, konsep pemerintahan Khilafah yang mereka sebut sebagai satu-satunya sistem pemerintahan wahyu (Islam) ternyata sama sekali tidak pernah disinggung atau dianjurkan oleh alquran dan al-hadits. Hal ini kita bisa buktikan sendiri tak satupun ayat atau hadits yang memerintahkan terhadap pemeluk Islam untuk memberlakukan pemerintahan Khilafah.

Lalu, darimanakah dasar HT (Hizbut-Tahrir) meyakini bahwa Khilafah adalah satu- satunya konsep pemerintahan Wahyu (Islam) yg wajib diberlakukan oleh umat Islam?

Baca juga : Mahfud MD Tantang Pengusung Khilafah untuk Tunjukkan Sistem Negara Khilafah

Sejarah singkat asal muasal khilafah

Untuk memahami Tentang Khilafah, tentunya kita harus mengetahui terlebih dahulu asal muasal munculnya pemerintahan tersebut.

Pemerintahan Khilafah muncul dari sikon memanasnya suhu politik pasca wafatnya Nabi Muhammad saw.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW menjadikan suasana tanah Hijaz (Makkah-Madinah) gaduh. Masing-masing dari para pemuka Quraisy dan Anshar saling merasa paling berhak mengganti posisi Rasul saw (khalifah). Antara kubu Muhajirin Vs kubu Anshar mengadakan perundingan meja bundar di saqifah Bani Sa’idah hampir berakhir ricuh. Kemudian Sayidina Abu Bakar bersama Sayidina Umar ra menengahi dan singkat cerita perundingan (ijtima’) di saqifah Bani Sa’idah menghasilkan konsensus berupa pembaiatan pertama Abu Bakar ra sah menjadi Khalifah (pengganti) Rasul Saw.

Kemudian pembaitan kedua atas Abu Bakar ra dilakukan di mesjid sebagai pembaitan Umum.

Rupanya, hasil Konsensus di Saqifah dengan di Baiatnya Abu Bakar ra sebagai Pengganti Rasul Saw, menjadikan sebagian kaum muslim di dalam Tanah Hijaz maupun di wilayah lain tidak setuju. Akhirnya banyak suku yang membangkang. Ada yang murtad, ada juga yang menolak zakat, bahkan ada yang mengaku sebagai Nabi.

Suku (qabilah) yang menolak zakat diprakarsai oleh Abs dan Zubyan.

Wilayah-wilayah yang kembali murtad adalah, Bahrain, Amman, Nujair, dan wilayah- wilayah kecil lainnya. Dan di antara nabi palsu ketika itu adalah Tuliahah yang mengaku mendapat Wahyu dari Allah Swt, di antara wahyu yang diterimanya adalah :

والحمام والیمام، والصرد والصوام، قد صمن قبلکم باعوام، لیتلغنا ملکنا العراق والشام

Demi burung dara dan burung tekukur, demi burung pemangsa yang kelaparan, yang sudah diburu beberapa tahun sebelummu, raja kita pasti dapat mengalahkan Irak dan Syam / Syuriah.

Baca Juga :  Masih Bermimpi Menegakkan khilafah? Belajar dari Sesal WNI eks ISIS

(kok isi wahyunya persis sama dengan target ISIS ya … ?)

Baca juga : Kisah Kholifah Bangkrut, Fakta Sejarah Khilafah Islamiyah

Alasan Kemurtadan, penolakan membayar zakat dan pengakuan sebagai nabi, yang dilakukan mereka adalah sebagai bentuk penolakan dan pembangkangan terhadap ke-Khalifahan Abu Bakar ra. Mereka menginginkan pimilihan ke-khalifahan dilakukan dengan cara pemilihan umum ( انتخاب العام ), bukan dengan cara perundingan para pemuka.

Genap pada umur 63 th, Abu Bakar ra mengalami sakit keras, para sahabat berkumpul dan Abu Bakar bertanya kepada mereka : ”Apakah kalian akan menerima orang yang akan saya calonkan sebagai pengganti saya? Saya bersumpah bahwa, saya melakukan yg terbaik dalam hal ini. Dan saya memilih Umar Ibnul Khattab sebagai pengganti saya.”

Para sahabat menjawab : ”Kami mendengarnya dan kami akan menta’atinya“. Akhirnya Abu Bakar ra meninggal. Masa kemipinannya cukup singkat hanya berlangsung dua tahun tiga bulan.

Kemudian Umar ra mengganti posisi Abu Bakar ra sebagai khalifah kedua dengan penunjukkan oleh Abu Bakar. Di masa kemimpinan Umar ra, banyak sekali amir-amir (gubernur) yang mendadak kaya raya. Akhirnya Umar ra meresufle sebagian dari mereka, dan Abu Hurairah ra adalah salah satu orang yang diangkat menjadi gubernur Bahrain.

Dan ternyata, belum lama Abu Hurairah ra menjabat sebagai Gubernur Bahrain, tiba-tiba kekayaan Abu Hurairah meningkat pesat, hingga membuat Umar ra Geram. Akhirnya Abu Hurairah dipanggil menghadap Umar ra, dan Umar pun mengambil semua kekayaan Abu Hurairah lalu dimasukkan ke Baitul Maal.

Di penghujung sakitnya Sayidina Umar ra, imbas terkena belati (Peroz) Abu Lu’luah, Umar membentuk team Formatur / Team Ahwa (Ahlul Halli wal-‘aqdi) yang terdiri atas enam orang sahabat terkemuka untuk membentuk penggantinya sebagai khalifah di antara anggota team.

Baca juga : Hukuman Bagi ASN Terlibat Ideologi Khilafah Akan Diberhentikan Tidak Hormat

Enam sahabat yang yang menjadi anggota formatur (team Ahwa) adalah, Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Thalhah, Zubair, Abdurrahman bin ‘Auf dan Sa’ad bin Abi Waqash.

Untuk menghindari deadlock dalam pemilihan, Umar ra mengangkat putranya, Abdullah bin Umar, sebagai anggota formatur dengan disertai hak pilih tanpa berhak untuk dipilih. Pada saat pemilihan, Thalhah sedang tidak berada di Madinah dan baru kembali ke Madinah setelah proses pemilihan selesai.

Dewan Formatur akhirnya berhasil mengangkat Utsman bin Affan sebagai Pengganti Khalifah Umar ra. (inilah Sistem Ahwa yang di ambil oleh NU untuk mencetuskan ketua Dewan Syura).

Ke-Khalifahan pada era Sayidina Utsman lebih perah lagi dibanding dua khalifah sebelumnya. Pasalnya, Utsman ra terkesan Nepotisme. Di antara sikap Utsman ra yang lebih cenderung memilih keluarganya untuk menduduki kursi-kursi basah adalah :

1). Perluasan wilayah kekuasaan.
Mu’awiyah- yg pada era Umar ra – di angkat menjadi wali Damaskus, wilayah kekuasaan Muawiyah di perluas pada era Utsman ra menjadi 5 wilayah : Damaskus, Himsh, Palestina, Yordania dan Libanon.

Baca Juga :  Tahun 2024, Tahun Tegaknya Khilafah Islamiyah di Indonesia?

2). Promosi jabatan kepada keluarga. Marwan bin hakam ( Saudra sepupuh Utsman ra) diangkat menjadi skretaris Jenderal Negara yang menyebabkan negara di kendalikan oleh satu keluarga.

3). Pemecatan wali atau amir (Gubernur) yg berprestasi di ganti dengan keluarga dan kerabat dekatnya.

Tindakan khalifah Utsman yang menyebabkan terkumpulnya seluruh kekuasaannya di tangan keluarganya menimbulkan reaksi keras dari masyarakat. Terlebih dari mereka yang dipecat jabatannya tanpa alasan yang jelas. Disamping itu, tindakan bawahan khalifah Utsman dinilai oleh Masyarakat telah banyak menyimpang dari ajaran islam. Walid bin Uqbah pernah shalat subuh 4 rakaat disebabkan dalam kedaan mabuk.
Sayidina Utsman ra tdk dapat mengatasi ambisi keluarga hingga pelanggaran tidak dpt diatasi.

Tanah fadak yang pernah disengketan oleh Sayidah Fatimah ra dengan khalifah Abu Bakar ra, dimasukkan menjadi milik pribadi oleh marwan bin Hakam.

Baca juga : Membantah Propaganda Palsu Khilafah Tentang Pajak

Reaksi masyarakat terhadap khalifah Utsman berupa protes atas prilaku pejabat pemerintah di daerah; dan akhirnya protes terbesar datang dari Mesir yang menuntut pemecatan Abdullah bin Abi Syarh sebagai wali Mesi. Setelah di nasihati Thalhah dan Aisyah serta desakan Ali bin Abi Thalib ra, akhirnya Utsman memecat Abdillah bin Abi Syarh.

Setelah tuntutan protesnya dipenuhi oleh Utsman ra, penduduk Mesir yang berjumlah 700 beserta Muhammad bin Abi Bakar (putra Khalifah pertama), kembali ke Mesir. Di tengah perjalanan mereka mendapati seorang budak yg mencurigakan yang ternyata membawa surat rahasia berstempel khalifah. Surat tersebut ditujukan kepada Abdullah bin Abi Syarh yg berisi perintah agar memenggal kepala Muhammad bin Abi Bakar sesampainya di Mesir.

Muhammad bin Abi Bakar beserta rombongan akhirnya kembali ke Madinah untuk melakukan konfirmasi kepada Khalifah tentang surat yang dibawa oleh Budak.

Baca juga : Tolak Khilafah dengan : “NKRI OK, ISLAM YES, KHILAFAH NO !”

Berdasarkan penelitian terhadap tulisan tangan surat yang dibawa budak, diduga kuat bahwa surat tersebut berasal dari Marwan bin Hakam. Muhammad bin Abi Bakar meminta kepada khalifah Utsman agar Marwan diserahkan kepada mereka, akan tetapi Utsman menolak permintaan tersebut, karena khawatir Marwan akan dibunuh.

Situasi menjadi tegang dan tidak terkendali dan pengawalan terhadap khalifah menjadi tak berdaya, karena banyaknya penduduk Mesir yg melakukan protes. Akhirnya, Utsman bin Affan ra wafat terbunuh pada tanggal 18 Dzulhijjah 35 H. dalam usia 82 th, dan pembunuhannya tidak diketahui siapa pelakunya secara pasti.

Setelah kewafatan Utsman ra, Sayyidina Ali ra dibaiat menjadi khalifah ke 4. Awalnya Ali ra menolak pengangkatan tersebut, akan tetapi karena kursi kekhalifahan kosong, akhirnya Ali ra rela diBaiat menjadi Khalifah.

Baca Juga :  Klaim Khilafah Menyatukan Ummat Adalah Klaim Dusta

Pada era kekahlifahan Ali ra, tidak kalah memanasnya dengan Suhu politik pada masa 3 khalifah sebelumnya. Dari mulai perang Jamal (Kubu Ali ra vs Aisyah ra), perang Shiffin (kubu Ali ra Vs Mu’awiyah) sampai pada pembunuhan Ali ra oleh Golongan khawarij (Abdurrahman bin Muljam). Suhu politik yang luarbiasa memanas dari para pemuka Quraisy di era ke-khalifahan Ali ra mampu menyayat hati kaum muslim.

Dari paparan sejarah singkat khilafah di atas, kita bisa menarik kesimpulan bahwa, selain tidak ada anjuran Nash (baik Al-Quran maupun Hadits) yang mengharuskan utk memberlakukan Khilafah sebagai sistem pemerintahan. Juga bisa dilihat bahwa Khilafah lahir dari rahim politik pasca Wafatnya kanjeng Nabi Muhammad Saw (khilafah sama sekali bukan lahir dari wahyu).

Baca juga : Di “Zaman Khilafah” Muawiyah Banyak Pembunuhan Terhadap Sahabat Nabi

Pemerintahan Islami Tidak Harus Khilafah

Jadi yang terpenting itu bukan harus memakai khilafah sebagai sistem pemerintahannya, melainkan sistem yang di mana umat islam bisa hidup sentausa dan bisa tenang menjalankan agamanya. Konsep pemerintahannya ya terserah mau menggunakan konsep apa.

Makanya imam Al-Syafi’i pernah berkata :

لاسیاسه الا ماوافق الشرع

Tidak ada politik yang baik kecuali ia sesuai dengan Syari’at.

Jadi bentuk pemerintahan itu bukan harus khilafah. Bentuk pancasila pun jika sesuai atau tidak bertentangan dengan Syari’at maka hal itu dikatan sebagai pemerintahan yang baik, pemerintahan yang islami.

Jika memang Khilafah adalah sistem pemerintahan yang telah diwajibkan oleh Allah dan Rasulnya, lalu, kenapa dari khalifah pertama sampai khalifah ke 4 proses cara terpilihnya tidak sama? Kenapa Allah dan Rasulnya tidak mengatur proses pemilihannya?

Baca juga : Buku “Proyek Khilafah”, Kritik Faktual Atas Khilafah Islamiyah

Dan jika bangsa indonesia menuruti keinginan Hizbut-tahrir dan Salafi Wahabi, untuk merubah Negara Pancasila beralih ke sistem Khilafah, lalu siapakah di dunia ini orang yang layak bakal kami Baiat sebagai Khalifahnya?

Dari Sunny-kah, syiahkah atau dari wahabi? Dan sistem Khalifah manakah dari 4 khalifah di atas yang hendak dicontoh oleh Khalifah produk Hizbut-tahrir dan Wahabi sekarang ini? Abu Bakar kah, Umar kah, Utsman kah atau Ali?

Kalau Khilafah yang diperjuangkan oleh Hizbut-tahrir adalah baik, kenapa Hizbut-tahrir tidak laku di Negerinya sendiri (Palestina)? Kenapa malah lakunya di Inggris dan dikendalikan dari Inggris? Cobalah berpikir ada apa ini?

Sebenarnya yang diperjuangkan kalian itu Khilafah apa Khilapret?

Ada pertanyaan lagi, Jika memang Pancasila adalah dasar pemerintahan Thoghut seperti yang selalu kalian katakan, lalu kenapa kalian masih betah menginjakkan kaki di NKRI? Kenapa kalian masih enjoy cari makan di NKRI? Betapa jahatnya kalian wahai manusia-manusia tak tahu diri.

Sumber: Muslimedianews

Bagikan ini :