Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Film Jejak Khilafah Putar-balik Fakta dalam Film Sejarah Islam di Nusantara

Film Jejak Khilafah Putar-balik Fakta dalam Film Sejarah Islam di Nusantara

Page Visited: 1987
Read Time:6 Minute, 13 Second

Film Jejak Khilafah, Eks HTI Memutar-balikkan Fakta dan Sejarah Islam di Nusantara

Para simpatisan dan member eks HTI makin menjadi-jadi dalam mengadu-domba ummat Islam di Nusantara ini ( NKRI kita tercinta ). Mereka mau menghilangkan sejarah kehadiran Islam di Indonesia yang sesungguhnya dengan versi mereka sendiri lewat film propaganda yang dibuat oleh mereka dan sasarannya ialah rakyat Indonesia (umumnya) dan ummat Islam (khususnya).

Segala cara dan seluruh lini akan dimasuki oleh gerombolan pengasong khilafah tersebut untuk memporak-porandakan NKRI dengan senantiasa mengatasnamakan “AGAMA” selaku kedok untuk maksud yang ingin mereka raih. Salah satu usahanya yaitu lewat film propaganda dengan maksud dan tujuan untuk menghilangkan jejak sejarah kehadiran Islam di Indonesia.

Baca juga : Belajar dari Khilafah ISIS yang Gagal Total

Semoga saja anda sekalian tidak jenuh membacanya, agar tahu dan mengerti bagaimana cara mereka dengan culas dan licik sebagaimana halnya yang senantiasa mereka pertontonkan selama ini. Baik itu dengan demo-demonya yang berjilid-jilid, framing mereka dengan kalimat tauhid yang dianggap selaku bendera Rosulullah SAW.

Film Jejak Khilafah Putar-balik Fakta dalam Film Sejarah Islam di Nusantara

Penipuan-Penipuan HTI dalam Film ‘Jejak Khilafah’

“Khilafah terosss,” kata seorang rekan mengomentari tulisan-tulisan saya yang senantiasa membicarakan ancaman khilafah ala Hizbut Tahrir Indonesia. Komentar tersebut, 1 sisi, Adalah ketidaktahuan dirinya, selaku representasi milenial, kepada fakta sejarah, juga Adalah kebodohan dirinya akan realitas lapangan: bahwa saya tidak tengah bercanda, hari ini, dan makin hari, gerak-gerik para aktivis khilafah makin keterlaluan. Saat ini, mereka tengah penggarapan film indoktrinasinya: Jejak Khilafah.

perdebatan teranyar ini, berawal dari sebuah poster Talkshow Launching Film garapan Khilafah Channel, berjudul “Jejak Khilafah di Nusantara”. Dalam acara tersebut, beberapa dedengkot HTI jadi pemateri: Nicko Pandawa, Ismail Yusanto, Rokhmat S. Labib, dan Felix Siauw. Sementara selaku narasumber spesial, ada Tengku Zulkarnain, Mizuar Mahdi, Alwi Alatas, Moeflich Hasbullah, dan, ini yang jadi polemik, Profesor Peter Carey, sejarawan otoritatif soal Nusantara dari Oxford, dicatut.

Akan hadirnya Prof Carey dalam talkshow tersebut, lantas, diklarifikasi oleh asisten risetnya, Feureau Himawan Susanto, sesudah menanyakan ke Prof Carey langsung. Dan hasilnya, ia menjelaskan tidak pernah terlibat dalam agenda-agenda semacam itu dan, dengan sedemikian, apa yang tertera dalam poster di atas, murni ialah kelicikan, kebohongan, fitnah, dan keburukan intrik politik para agen khilafah itu. Prof Carey diedit sedemikian rupa, seakan dirinya mengafirmasi agenda licik mereka.

Baca Juga :  Masih Bermimpi Menegakkan khilafah? Belajar dari Sesal WNI eks ISIS

Baca juga : “Cara Menghancurkan NKRI” Menurut Pengakuan Kader PKS

Terang, ini Adalah intrik paling negatif, di mana para aktivis khilafah telah bermain-main di pusaran otoritas akademik. Boleh jadi, itu sebab mereka sadar, Felix Siauw dan Ismail Yusanto saja tidak cukup kuat, dan orang-orang menganggapnya sampah tidak bermutu. Prof Carey amat kecewa atas pencatutan nama dirinya. Melalui sang asisten, ia lantas membikin siaran pers pada Senin (3/8) kemarin terkait beredarnya poster Talkshow Lauching Film Jejak Khilafah, selaku berikut:

Ke-1, walau Prof Carey pernah melaksanakan Tanya Jawab dengan yang membikin film Jejak Khilafah, tetapi itu ditujukan untuk meluruskan fakta soal hubungan Turki Utsmani dengan Pangeran Diponegoro, yang ternyata nol besar. Ke-2, Prof Carey tidak pernah diundang jadi special guest, itu fitnah. Lagi pula, ia tidak datang dalam acara launching tersebut. Video dirinya diedit seakan-akan Sepakat pandangan bahwa Islam di Nusantara, dulu, juga raja-rajanya, ialah bagian dari apa yang mereka anggap khilafah Islam yang berpusat di Turki. Sungguh kepalsuan yang menjijikkan.

Felix Dkk yang Membelokkan Sejarah

Memalukan, itu kata yang pas untuk para dedengkot khilafah, yang di antara aktor Intinya ialah Felix Siauw dan Ismail Yusanto itu. Mereka melaksanakan segala cara, menghalalkan segala bentuk fitnah, untuk mengelabui warga. Semestinya, itu membikin kita, makin percaya, juga membikin pengikutnya sadar diri, bahwa segala yang para pengusung khilafah itu sampaikan, ialah kebohongan besar. Bagaimana dapat mereka menjelaskan berpolitik sesuai ajaran Islam tetapi melaksanakan fitnah?

Film Jejak Khilafah sendiri dibuat oleh Felix dkk, untuk mengarahkan opini publik bahwa raja-raja Islam di Nusantara ialah bagian, atau setidaknya jadi relasi, pemerintahan Turki Utsmani. Padahal, aslin, Prof Carey telah menceritakan, Turki Utsmani sama sekali tidak peduli dengan Jawa, apalagi bermitra dengyaan raja Nusantara tatkala itu. Islam juga masuk ke Indonesia tidak melalui jalur ekspansi politik, tidak melalui jajahan Turki Utsmani. Islam masuk melalui jalur penetrasi budaya, masuk secara damai.

Baca Juga :  Indonesia Adalah Khilafah dengan Sistem Demokrasi dan Berideologi Pancasila

Jejak Khilafah, konon, ada 3 episode. Episode pertamanya akan tayang 20 Agustus nanti, 3 haris sesudah perayaan HUT RI ke-75. Felix dan Ismail membicarakan panjang film tersebut waktu launching kemarin. Kesimpulannya, dirinya, tentu berbarengan rekan-rekan para pengusung khilafah, hendak membelokkan sejarah Nusantara. Ummat akan makin dibuat bingung dan tidak suka negara mereka sendiri, Indonesia yang demokratis. Ghirah yang berusaha dibawa film tersebut ialah: “Ayo kita kembali ke pangkuan khilafah ala pendahulu kita!”

Penipuan untuk penipuan terus dikerjakan, seraya menjelaskan ke ummat bahwa ada semacam pemutar-balikan sejarah di Indonesia. Padahal, merekalah yang malah memanipulasi sejarah, lalu kenapa malah menuding balik? Para aktivis khilafah di Indonesia sungguh tidak punya Track Record yang gamblang, dan kesemuanya ialah eks politikus, politikus kadaluarsa yang Mendadak berlagak membela Islam. Tengku Zulkarnain, Yusuf Martak, dan sahabat Ismail-Felix lainnya, memangnya mereka sungguh-sungguh paham sejarah? Palsu!

Pada tataran yang lebih mendalam, mereka juga sesungguhnya sudah menipu tatkala menjelaskan bahwa Turki Utsmani itu menerapkan sistem khilafah. Khilafah itu, ini telah saya ucapkan dalam banyak tulisan sebelumnya, artinya ‘pemerintahan’, bukan sistem spesifik. Waktu seseorang bilang, ‘khilafah Turki Utsmani’, maka ia tengah menjelaskan ‘pemerintahan Turki Utsmani’. Lalu sistem pemerintahan seperti apa yang dimaksud? Monarki-absolut? Kalau ia, maka apa yang dituturkan Tengku Zulkarnain bahwa tegaknya khilafah tidak berbahaya bagi NKRI, ialah tipuan selanjutnya.

Baca juga : Anarkisme Laskar Takfiri di Pasar Kliwon Solo, GP Ansor Jateng Desak Polisi Tangkap Para Perusuh

Tidak cuma mencatut, mereka menipu di atas penipuan lainnya. Termasuk film Jejak Khilafah ini. Apakah kita akan tetap menganggapnya aman-aman saja? Kita wajib memikirkan kembali anggapan tersebut, sebelum negeri ini runtuh di tangan mereka.

Baca Juga :  HTI Bukti Nyata Perpecahan Umat Islam

Film Jejak Khilafah Ancaman yang Nyata

walau film Jejak Khilafah belum tayang dan menghipnotis ummat, membutakan mereka dari sejarah Islam Jawa yang sesungguhnya, langkah tegas wajib cepat diambil dari sekarang. Kekhilafan fatal pemerintah dalam merespons pergerakan para aktivis khilafah ialah tiadanya tindakan tegas, dan cuma melaksanakan perang wacana tandingan. Itu gamblang tidak efektif. Pemerintah akan kalah masif, secara pergerakan. Kalau mereka sampai membikin film begini, itu artinya, mereka tidak kosong saku, untuk tiap-tiap agendanya.

Film Jejak Khilafah barangkali sungguh tidak akan membikin sistem politik berubah. Tetapi, film tersebut cukup untuk memengaruhi warga agar tidak lagi simpati ke pemerintah di 1 sisi, dan menggiring ummat Islam ke dalam sejarah palsu yang dibuat-buat oleh para simpatisan Hizbut Tahrir. HTI sungguh telah habis, tetapi untuk menjelaskan pergerakan mereka musnah, kita salah besar. Mereka belum mati, mereka bergerak terus dan, sekarang, mereka mulai membesar bahkan tanpa terakomodir dalam 1 organisasi sekalipun.

Langkah yang dapat ditempuh ialah mencegah film tersebut, atau mengedukasi ummat bahwa film tersebut, seratus %, ialah manipulasi sejarah. Ummat wajib diarahkan untuk keluar dari zona indoktrinasi, zona penipuan Felix dan aktivis khilafah lainnya, soal delusi negara Islam. Indonesia tidak kurang Islami. Karenanya, film Jejak Khilafah sama sekali tidak penting, kecuali untuk membangkitkan emosi ummat melalui pembelokan sejarah oleh aktivis khilafah itu sendiri.

Baca juga : Benarkah Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Terkait Dinasti Usmaniyah di Turki ?

Dan yang terpenting, Islam di Indonesia tidak ada kaitannya dengan Turki Utsmani, bukan gabungan politik mereka. Turki Utsmani sungguh luas teritorinya dan lama memerintah, tetapi bukan di Nusantara. Diponegoro, kata Prof Peter Carey, sungguh kagum dengan Turki Utsmani, tetapi bukan bagian darinya. Kalau ada yang menjelaskan sedemikian, pasti, mutlak, orang itu ialah budak Felix dkk, atau korban penipuan-penipuan mereka.

Wallahu A’lam bi ash-Shawab…

Sumber Ahmad Khoiri : https://www.facebook.com/1014620628/posts/10220401901650337/

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda