Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Frederic Kanoute Masuk Islam Gara-gara Pertanyaan Sulit

Frederic Kanoute Masuk Islam Gara-gara Pertanyaan Sulit

Page Visited: 69
Read Time:6 Minute, 33 Second

Banyak Pertanyaan Sulit Dijelaskan dalam Islam Sebabkan Frederic Kanoute Jadi Mualaf.

Menjelang Hari Raya Idul Fitri 1441 H / 2020 kemarin, mantan striker pada klub sepak bola Sevilla, Frederic Kanoute, berhasil mengumpulkan dana senilai 1 miliar dolar AS guna membangun masjid di Kota Sevilla, Spanyol. Kanoute tergerak mengumpulkan dana Lantaran belum ada satupun masjid pada kota yg berada pada selatan Negeri Matador itu.

“waktu saya bermain buat Sevilla, aku membantu komunitas muslim yang memakai mushala ad interim. Mereka sekarang butuh bantuanmu buat membangun masjid di Sevilla, sebuah kota yg tidak memiliki masjid selama 700 tahun,” istilah Kanoute pada video pada Twitter-nya, seperti dikutip asal Anadolu Agency.

Baca juga : Kisah Mike Tyson, Petinju Paling Berkelas yang Tak Sempat Dibanggakan Ibunya

Pemain Mali yg lahir pada Prancis ini memulai kampanye donasi tadi sekitar satu tahun lalu. Kampanye itu dinamai Kanoute4SevilleMosque.

“aku merasa terhormat sebagai bagian proyek ini yang saya percaya layak buat didukung. kawasan seperti ini akan sebagai model brilian asal kehidupan Islam pada zaman kita Insya Allah. Kita semua memahami bahwa satu pemain saja tidak memenangkan pertandingan. Bergabunglah menggunakan tim kami, kami membutuhkan dukungan Anda,” ucapnya dalam video kampanye itu.

Kanoute berkata, dana akhirnya terkumpul hingga 1 miliar dolar AS pada Rabu, 20 Mei 2020 lalu. dia pun mengucapkan terimakasih kepada semua orang yang telah menyumbangkan uang ataupun yang sakadar memyebar info soal kontribusi tersebut.

“Terimakasih banyak. Semoga Allah membalas dan mengangkat Anda seluruh yang sudah berpartisipasi dalam kampanye ini, atau mereka yg berkontribusi, baik yg dalam bentuk uang atau hanya menyebarluaskannya,” katanya.

Bukan sekali itu saja, Kanoute menyampaikan kontribusinya buat umat. Gelimang uang dari industri olah raga termegah pada dunia itu justru dipergunakan penyerang kelahiran Prancis itu buat kemaslahatan umat.

Baca juga : Dianggap Ancaman, Pengikut Fethullah Gulen Terus Diburu Rezim Erdogan

beliau rela menyisihkan sebagian hartanya untuk memelihara syiar Islam. di tahun 2007, komunitas muslim Sevilla terancam tidak bisa menggelar sholat Jumat berjamaah waktu masjid di kota itu nyaris ditutup.

izin penggunaan masjid di daerah Ponce De Leon itu habis dan terpaksa dijual pada publik. Kanoute tampil sebagai penyelamat dengan membeli masjid itu seharga 700 ribu dolar Alaihi Salam atau setara dengan Rp 6,6 miliar.

Baca Juga :  Analis Politik: Gatot Nurmantyo Akan Bawa Gerakan KAMI untuk Proyeksi 2024

buat menyelamatkan masjid itu, Kanoute wajib rela menyisihkan sekitar satu tahun gajinya di Sevilla. Meski demikian, Kanoute tetap tawadlu dan enggan berkomentar atas amal mulianya itu.

“Bila Kanoute tak membelinya, mungkin kami tidak akan lagi mampu beribada shalat Jumat,” istilah seseorang juru bicara Islamic Community of Spain pada media lokal Diario de Sevilla.

kemudian, di 2010, Kanoute menjadi pesepak bola Muslim pada Eropa yg menunjukkan dukungannya eksklusif di lapangan pada sebuah pertandingan resmi atas peristiwa Palestina. beliau tampak begitu emosional saat itu.

dia berlari-lari menuju kamera TV dan para fotografer buat mengambil fotonya sembari meminta Israel dan Amerika serikat juga sekutunya menghentikan agresinya terhadap Palestina. Bahkan, di pertandingan lainnya, dia jua sempat menunjukkan sikapnya yg tegas terhadap Israel.

Itulah Frederic Kanoute. Apa yg ditunjukkannya itu ialah kecintaannya pada Islam serta umat Islam. Siapa pun yang berani menginjak-injak kehormatan Islam, Kanoute akan berada di garda terdepan buat menyuarakannya. Tentu saja, cara yg ditunjukkannya dengan cara yang tenang menggunakan prestasi gemilang pada lapangan hijau.

Baca juga : 13 Hoax Tengku Zulkarnaen Paling Populer di Medsos

Frederic Kanoute Masuk Islam

Kanoute ­ lahir di Sainte Foy-les-Lyon pada 1977 di daerah metropolitan pada pinggiran Lyon, kota terbesar kedua di Prancis setelah Paris. Ayahnya adalah warga negara Mali, negara yang bentuknya mirip kupu-kupu.

ia menetap di Paris waktu berusia 21 tahun dan menjadi pekerja pabrik. oleh ayah menikah menggunakan perempuan Prancis, seorang profesor filsafat­ mak Kanoute. Pendidikan menjadi hal penting di keluarga mereka.

Saudara laki-laki Kanoute seorang doktor, saudara perempuannya guru sekolah perawat. beliau sendiri selalu diharapkan ayah ibunya buat masuk universitas. “tapi, ayah, bunda, dan saudara-saudara aku tidak keberatan waktu aku memutuskan buat berkarier menjadi pemain sepak bola. Meski tentu saja mereka lebih suka Jika aku meneruskan kuliah,” ceritanya sambil tertawa.

menjadi Muslim, Kanoute belia mengenal Islam dari lingkungannya yang banyak dihuni para imigran berasal Afrika bekas jajahan Prancis. sebab tertarik, beliau lantas mencari kitab -kitab rujukan.

Baca Juga :  Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah Habib Ali Al-Jufri: "Tinggalkan Omong Kosong Khilafah"

sempurna di tahun pertama memulai karier profesional bersama Lyon, isu terkini 1997/1998, ketika usianya 20 tahun, dia mengucapkan kalimat syahadat. Namanya lantas berganti menjadi Frederic berganti sebagai Fr Oumar Kanoute.

dia lalu menikahi perempuan keturunan Mali, Fatima. Mereka telah dikaruniai beberapa orang anak. ia mengaku telah menghabiskan poly saat merenung mengenai agama serta kepercayaan .

“Keputusan saya bukan tanpa alasan. saya sudah menghabiskan poly ketika merenung mengenai agama dan kepercayaan . Islam mampu menandakan serta mengungkapkan pertanyaan-pertanyaan sulit soal hayati. aku membaca serta terus membaca sehingga akhirnya yakin sudah melakukan sesuatu yang sahih,” tuturnya.

Singkatnya, melalui Islam, ucapnya, Kanoute menemukan jawaban, keseimbangan, serta perdamaian. Bahkan, menggunakan kecintaannya yang teramat besar pada sepak bola, Kanoute permanen meyakini terdapat sesuatu yg lebih penting dalam hidupnya.

“saya pikir terdapat sesuatu yang lebih akbar dibandingkan sepak bola. tapi, bukan berarti sepak bola tidak penting. yg kentara aku mendapat kesadaran saat menjadi Muslim. hukum dan aturan Islam sebagai model terbaik saya pada menjalani hidup. Islam membantu saya menjalani hidup yg benar,” tegas Kanoute.

Baca juga : 5 Tokoh Penting HTI dan Perannya Ini Dibongkar Warganet

tetapi demikian, bukan tanpa halangan saat Kanoute memutuskan memeluk Islam. Apalagi di saat berbagai media internasional sedang gencar-gencarnya memberitakan bahwa Islam sangat berbahaya dan memicu aksi terorisme. “Situasinya memang sangat sulit,” kata Kanoute.

tetapi, dengan hati yang teguh, dia selalu menjawab bahwa mereka yg terlalu fanatik dan berbuat teror hanyalah segelintir umat Islam di dunia. Bukan berarti publik, istilah beliau, mampu menghakimi seluruh umat Islam. sebab, pada hatinya meyakini bahwa Islam selalu mengajarkan pemeluknya buat hayati menggunakan sahih pada perdamaian.

Umat Islam, termasuk dirinya, lebih tak jarang mendengar dan membaca poly omong kosong wacana Islam. Media, istilah dia, telah membentuk rasa takut terhadap Muslim. Sikapnya yang keras dalam membela Islam itu, diakui Frederic, membentuk beliau pernah dihina sang para pemain sepak bola lainnya.

namun, terkait hal ini, ia menyatakan siap buat menghadapi apa pun serta tak akan bergerak sedikit pun meninggalkan Islam. Seolah ingin memantapkan posisi keislamannya, Kanoute pula menerapkan sikap Islami ketika bertemu publik, baik di ruang pers maupun waktu latihan.

Baca Juga :  Ketum GP Ansor Minta MUI Instropeksi karena Lebih Sering Jadi Kompor

saat masih aktif, dia kerap melakukan shalat lima saat pada ruang ganti waktu pertandingan berjalan, permanen berpuasa dalam pertandingan serta latihan di bulan Ramadhan. dia juga tidak meminum minuman memabukan, menyelamatkan sebuah masjid di Sevilla, serta meminta kostum khusus tanpa sponsor karena Sevilla –klub daerah beliau bernaung ketika itu– disponsori oleh rumah judi.

dalam kariernya, Kanoute bukanlah pemain biasa. Kariernya menjadi pemain sepak bola dimulai ketika bermain menjadi striker di klub lokal Prancis, Olympique Lyonnais, pada 1997-2000.

setelah itu, dilanjutkannya di West Ham United pada 2000-2003. waktu bermain pada West Ham, Kanoute tampil di 84 laga dan berhasil mencetak 29 gol.

tetapi, pada akhirnya di 2003, Kanoute meninggalkan West Ham dan beralih ke klub Tottenham Hotspur hingga 2005. Selama menjalani karier menjadi pesepak bola profesional, beliau berhasil meraih sejumlah gelar bergengsi, baik beserta klub maupun personal.

bersama Sevilla, dia sudah memberikan enam gelar, yakni Piala UEFA (2006 dan 2007), Piala Super Eropa (2007), Piala Raja (2007, 2010), serta Piala Super Spanyol (2007). Sedangkan, buat gelar pribadi, dia menjadi pemain terbaik Afrika tahun 2007.

Baca juga : “Dokter Gembel” Dari Pati, Namanya Abadi Sebagai RSUD Dr Moewardi

Gelar menjadi African Footballer of the Year 2007 (pemain terbaik Afrika) artinya gelar pertama yg diraih sang seorang rakyat Afrika yang lahir pada Eropa tadi. Kanoute pula menjadi pemain Mali pertama yg sebagai pemain terbaik Afrika selesainya Salif Keita pada 1970. kandidat lain, yakni gelandang serta striker Chelsea, Michael Essien (Ghana) serta Didier Drogba (Pantai Gading).

Sebelumnya, striker berusia 33 tahun ini pula masuk nominasi menjadi pemain terbaik atas perannya meloloskan Mali ke putaran final Piala Afrika 2008. Seakan berusaha membentuk prestasinya sempurna, beliau juga membantu Sevilla menjuarai Piala UEFA serta Piala Raja. sebab itu juga, ia sebagai salah satu idola publik Ramon Sanchez Pizjuan sepeninggal Javier Saviola.

Bagikan ini :