Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Gerakan “KAMI” Tidak Sadar Sedang Merusak Bangsa

Page Visited: 1539
Read Time:2 Minute, 33 Second

Gerakan “KAMI” Tidak Sadar Sedang Merusak Bangsa

Di Tugu Proklamasi, Menteng, Jakarta Pusat pada Selasa, (18/8/2020), sederet tokoh di antaranya, Gatot Nurmantyo, Rocky Gerung, Din Syamsuddin dan Said Didu menghadiri Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang digelar pada saat itu

Lewat akun Twitter, Din Syamsuddin, mengunggah poster yang bertuliskan pernyataan dari para tokoh penggagas KAMI tersebut.

Salah satunya pernyataan dari eks Panglima TNI Jend (Purn) Gatot Nurmantyo.

Dari isi poster tersebut, Gatot mengeluarkan pernyataan keras dan kontroversial.

Ia mengajak rakyat bergabung bersama dengan KAMI untuk menghancurkan pemerintahan oligarki rezim Jokowi. Astaghfirullah al-adziim…. Sungguh pernyataan dan ajakan yang jauh dari moral, mengajak menghancurkan!

“Bersama gerakan KAMI, mari hancurkan pemerintahan oligarki ini. Sudah saatnya rakyat mengambil alih,” ujar Gatot dalam poster tersebut.

Selain itu, Gatot Nurmantyo juga menyampaikan orasinya saat menghadiri deklarasi KAMI tersebut.

Dalam orasinya, Gatot juga berbicara kondisi Indonesia akibat proxy war yang diperburuk karena berkembangnya oligarki kekuasaan.

Baca Juga :  Gatot Nurmantyo Ajak Bersyukur Banyak Petinggi KAMI Ditangkap Polisi

“Kekuasaan dimainkan, dikelola oleh kelompok orang dan tidak beruntung lagi, mereka melakukan dengan topeng konstitusi apakah benar ini terjadi pada negeri kita? Biar rakyat yang menjawab,” ujarnya.

Ketika itu, Ferdinand Hutahaean yang masih sebagai Politisi Partai Demokrat langsung merespons dan memberikan kritik terhadap munculnya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI). Menurutnya, para anggota KAMI bukan menyelamatkan Indonesia, melainkan memecah belah bangsa.

Kritik tersebut disampaikan oleh Ferdinand melalui akun Twitter miliknya @ferdinandhaean3. Kemunculan KAMI justru membahayakan bagi bangsa Indonesia.

“Mereka yang menyebut diri KAMI, tak sadar bukan sedang menyelamatkan Indonesia, tapi sedang memecah, memisah, dan mencerai beraikan sesama anak bangsa,” kata Ferdinand seperti dikutip Suara.com, Minggu (23/8/2020).

Ferdinand menyebut, para anggota KAMI merupakan korban ego politik pribadi dan kelompok.

KAMI juga dinilai memiliki tujuan memperalat demokrasi dan kebebasan berserikat. Semua itu dilakukan hanya karena ego para tokohnya.

“Mereka korban ego politik pribadi dan kelompok. Tujuannya jelas memperalat demokrasi dan kebebasan berserikat untuk ego para tokohnya,” ungkap Ferdinand.

Baca Juga :  Anda Perlu Tahu, Nama 37 Orang Teroris Ternyata dari FPI
Gerakan "KAMI" Tidak Sadar Sedang Merusak Bangsa.

Menyimak fenomena gerakan “KAMI” tersebut, generasi muda harus sadar pentingnya menjaga persatuan demi NKRI. Generasi muda Indonesia harus dapat selalu menjaga keutuhan bangsa dan mengisi kemerdekaan dengan berbagai macam kegiatan yang positif. Hal ini agar generasi muda sebagai harapan bangsa bisa terus bersatu demi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terus bersatu tak terpecah belah.

Harus ditumbuhkan kepada generasi muda bahwa dulu untuk membentuk negara harus berdarah-darah dan memberi pengorbanan yang besar. Karenanya, jangan sampai bangsa ini dirusak oleh orang-orang yang kalap ingin berkuasa, sehingga hal ini dapat menyebabkan bangsa ini terpecah belah.

Ferdinand Hutahaean memperingatkan kita bahwa kemunculan KAMI dengan para deklatornya adalah bukan mau menyelamatkan Indonesia, melainkan memecah belah persatuan anak bangsa.

“Mereka yang menyebut diri KAMI, tak sadar bukan sedang menyelamatkan Indonesia, tapi sedang memecah, memisah, dan mencerai beraikan sesama anak bangsa,” cuit Ferdinand dalam akun Twitter miliknya @ferdinandhaean3, seperti dikutip PikiranRakyat-Cirebon.com pada Senin, 24 Agustus 2020.

Lebih lanjut, Ferdinand juga menyebut para deklator KAMI sebagai deretan korban ego politik pribadi dan kelompok, sekaligus memiliki tujuan memperalat demokrasi dan kebebasan berserikat.

Baca Juga :  Mari Jaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa dari Provokasi KAMI

“Mereka korban ego politik pribadi dan kelompok. Tujuannya jelas memperalat demokrasi dan kebebasan berserikat untuk ego para tokohnya,” jelas Ferdinand ketika itu. (*)

Bagikan ini :