Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Hashd al-Shaabi Kunci Kesuksesan Operasi Kontra Terorisme di Irak

Hashd al-Shaabi Kunci Kesuksesan Operasi Kontra Terorisme di Irak

Page Visited: 101
Read Time:1 Minute, 33 Second

PM Irak Puji Peran Kunci Hashd al-Shaabi dalam Operasi Kontra Terorisme

Perdana Menteri Irak Mustafa al-Kadhimi memuji Unit Mobilisasi Populer (PMU) atau Hashd al-Shaabi, karena peran kunci mereka dalam mengalahkan kelompok teroris Daesh/ISIS Takfiri di negara Arab.

Baca juga : Fakta Sebenarnya Konflik Suriah yang Disembunyikan Media Radikal

Sebuah sumber informasi mengatakan kepada televisi Irak, Alsumaria, bahwa Kadhimi mengadakan pertemuan dengan komandan PMU dan Layanan Penanggulangan Terorisme Irak (CTS) pada Rabu malam, menyoroti peran mereka dalam memberantas terorisme.

Pertemuan itu terjadi setelah Irak membebaskan selusin anggota PMU menyusul serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya di markas besar Kataib Hezbollah, yang diduga atas perintah AS.

Anggota PMU dibebaskan pada hari Senin dan semua tuduhan terhadap mereka dibatalkan, kata juru bicara militer Kataib Hezbollah, Jaafar al-Husseini kepada AFP.

Baca juga : Iran Sebut Kematian Soleimani Hadiah Terbesar AS untuk Teroris

Penangkapan dilakukan pada Kamis lalu karena diduga merencanakan serangan roket di Zona Hijau Baghdad. Terlepas dari tuduhan Washington, Kata’ib tidak pernah mengklaim bertanggung jawab atas serangan itu.

Baca Juga :  Demonstran Afrika Tolak Afrika Jadi Tempat Ujicoba Vaksin Covid-19

Pada bulan November 2016, parlemen Irak mengakui Hashd al-Sha’abi sebagai kekuatan resmi dengan hak yang sama dengan tentara reguler, oleh karena itu secara sah menetapkannya sebagai bagian dari Angkatan Bersenjata Nasional.

PMU telah lama menolak kehadiran militer AS di negara itu sebagai penghalang yang menghambat keamanan dan stabilitas jangka panjang di Irak.

Baca juga : Mantan PM Irak Sebut Kemenangan atas ISIS Bukan karena Bantuan AS, tapi karena Bantuan Iran

Pada bulan Januari, parlemen Irak dengan suara bulat menyetujui sebuah undang-undang, menuntut penarikan semua pasukan asing yang dipimpin oleh Amerika Serikat dari negara itu setelah pembunuhan komandan militer Iran, Letjen Qassem Soleimani, dan komandan kedua di bawah komando PMU, Abu Mahdi al-Muhandis.

Kelompok-kelompok perlawanan Irak telah bersumpah untuk mengangkat senjata melawan pasukan AS, jika Washington gagal mematuhi perintah parlemen yang menyerukan pasukan AS untuk angkat kaki. (qa/ummatina)

Bagikan ini :