Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Tidak Tampak Jejak Khilafah dalam Tradisi 1 Muharram di Nusantara

Hoax Jejak Khilafah di Nusantara, Tidak Terlihat Jejak Khilafah dalam Tradisi 1 Muharram di Nusantara

Page Visited: 1157
Read Time:7 Minute, 24 Second

Tidak Tampak Jejak Khilafah dalam Tradisi Menyambut 1 Muharram di Nusantara, Membuktikan Klaim Ada Jejak Khilafah di Nusantara adalah Hoax Akbar

Tradisi Menyambut Muharram ala Nusantara; Tidak Terlihat Jejak Khilafah

Kamis, 20 Agustus 2020, umat Islam memasuki tahun baru Hijriah 1442. Pada Kamis itulah, tepat jatuh tanggal 1 Muharram, dalam kalender umat Islam. Tanggal yang menjadi permulaan tahun bagi umat Islam.

Tahun pertama penanggalan Hijriah, atau al-taqwim al-hijriah, dimulai saat Nabi Muhammad hijrah dari Makkah ke Madinah, 622 M. Penetapan penanggalan Hijriah ini dilakukan pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab.

Sebagai catatan, penanggalan dengan sistem seperti yang digunakan dalam penanggalan Hijriah telah dilakukan oleh bangsa Arab pra-Islam. Penyebutan bulan Muharram, Safar, dan seterusnya, juga telah ada pada titimangsa tersebut.

Khalil Abdul Karim, dalam al-Juzuru al-Tarikhiyah li al-Syari’ah al-Islamiyah, menunjukkan, bahwa penghormatan terhadap bulan Muharram telah dilakukan oleh orang Arab pra-Islam. Ketika Islam datang, alih-alih menyingkirkan tradisi tersebut, Islam malah melanjutkannya.

Dengan demikian, penghormatan umat Islam atas bulan Muharram, bukanlah murni ajaran Islam, melainkan merupakan warisan dari kebudayaan Arab, yang diadaptasi masuk dalam tradisi Islam.

Tidak salah jika dalam kesempatan lain, Khalil Abdul Karim, menyebut, tradisi arab sebagai bahan baku dari tradisi Islam (al-Arab maaddatul islam).

Baca juga : BICARA JEJAK KHILAFAH DI NUSANTARA, BUKAN HIZBUT TAHRIR KALAU TIDAK LICIK DAN PENDUSTA

Ketika penanggalan Hijriah ini dikenal oleh umat Islam Nusantara, hal yang sama pun berlaku. Para umat muslim nusantara juga menggelar berbagai upacara dan tradisi untuk menghargai datangnya bulan Muharram ini. Tepatnya, upacara menyambut tahun baru hijriah.

Tentu saja, upacara atau ritual penghormatan tersebut, berbasis tradisi lokal di nusantara. Kalau pun tidak mau dikatakan murni ritual lokal, setidaknya, ritual tersebut telah mengalami perjumpaan antara tradisi Islam dari Arab dengan tradisi lokal nusantara.

Sebelum Islam datang dengan penanggalan Hijriahnya, masyarakat nusantara juga telah mengenal beberapa penanggalan. Misalnya, di Jawa dikenal adanya Tahun Saka, di Bugis-Makassar, ada sistem perhitungan hari, bulan dan tahun, yang disebut kutika dan pananrang.

Seluruh sistem perhitungan tanggal di beberapa tempat di nusantara, berdasarkan peredaran bulan terhadap bumi (penanggalan qamariyah).

Dalam beberapa catatan disebutkan, Sultan Agung, Raja Mataram pada 1613-1645, berupaya mendialogkan penanggalan Saka dengan penanggalan Hijriah dengan membuat satu tradisi, yang disebut ritual “Satu Syuro.”

Baca Juga :  Film Jejak Khilafah, Propaganda HTI, Acak-acak Sejarah Islam Nusantara
Tidak Terlihat Jejak Khilafah dalam Tradisi 1 Muharram di Nusantara.

Istilah Syuro ini diambil dari Asyuro, yaitu tanggal 10 dalam bulan Muharram. Ritual “1 Syuro” dilakukan oleh Sultan Agung untuk menyambut Tahun Baru Hijriah, tetapi berbasis tradisi lokal Jawa.

Sementara dalam masyarakat Bugis-Makassar, perhitungan hari yang selama ini menggunakan kutika dan pananrang, juga dilakukan dengan mengamati penanggalan Hijriah.

Perhitungan hari baik dan hari buruk a la kutika dan pananrang, tidak hilang dengan adanya kalender hijriah.

Malah, dengan adanya kalender di rumah-rumah mereka, yang juga memuat penanggalan Hijriah, masyarakat lokal di Bugis-Makassar, bisa melihat tanggal berdasarkan bulan, tanpa harus dipusingkan untuk menghitung lagi.

Hingga hari ini, sejatinya masyarakat lokal di Bugis-Makassar dalam menentukan hari-hari baik untuk bepergian, membangun rumah, mencari rezeki, memulai menanam bibit, selalu berpedoman pada penanggalan Hijriah.

Baca juga : Film Jejak Khilafah, Propaganda HTI, Acak-acak Sejarah Islam Nusantara

Tetapi, harus dipahami, bahwa sejatinya masyarakat lokal itu sedang menerapkan perhitungan kutika mereka, melalui bantuan kalender hijriah.

Boleh dikata, penanggalan Islam ini juga diperjumpakan dengan penanggalan lokal (kutika) oleh orang-orang Bugis-Makassar dalam cara perhitungan hari-hari mereka.

Hoax Jejak Khilafah di Nusantara, Tidak Terlihat Jejak Khilafah dalam Tradisi 1 Muharram di Nusantara.

Ritual Lokal Menyambut Tahun Baru Hijriah

Dalam menyambut 1 Muharram atau tahun baru hijriah, masyarakat nusantara menggelar ritual yang menunjukkan perpaduan antara tradisi lokal dan Islam. Di antara ritual, itu adalah kirab pusaka keraton.

Kirab pusaka keraton Surakarta dilakukan dengan mengarak pusaka keraton diikuti oleh kerbau putih bernama Kiai Slamet. Kerbau dengan nama Kiai Slamet, ini adalah simbol permohonan pada Yang Maha Kuasa agar diberi keselamatan.

Ritual dalam bentuk lain dilakukan oleh masyarakat Boyolali, Jawa Tengah. Tiap satu Syuro, mereka melakukan sedekah di gunung Merapi, dengan mempersembahkan kepala kerbau di seputar puncak gunung. Ada pula yang melakukan ritual malam di Gunung Lawu dan berziarah ke Gunung Tidar.

Ritual-ritual menyambut tahun baru hijriah dengan mengunjungi gunung, jelas masih merupakan peninggalan kepercayaan lama. Dalam kepercayaan lama di nusantara, kebanyakan ritual persembahan kepada Yang Maha Kuasa dilakukan di gunung-gunung.

Selain ritual tadi, ada pula ritual ngadulag. Ritual ini dilakukan di daerah di Jawa Barat. Dalam ritual ini, ada pula proses mengarak pusaka, tetapi juga dibarengi dengan perlombaan menabuh beduk.

Di Pangkal Pinang, ada kebiasaan masyarakat disebut nganggung. Tradisi ini adalah cara masyarakat dalam merayakan hari-hari besar Islam, termasuk menyambut satu Muharram.

Tradisi nganggung ditandai dengan membawa makanan ke masjid oleh masing-masing keluarga. Tiap keluarga membawa satu nampan makanan ke masjid untuk kemudian di makan bersama-sama.

Baca Juga :  Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Bukan Bagian dari Khilafah Turki Utsmani

Di Bugis-Makakssar, lain lagi. Setiap masuk tahun baru Hijriah, biasanya masyarakatnya berbondong-bondong membeli perabot baru. Perabot yang dibelinya kebanyakan terkait dengan dapur.

Baca juga : Prof Azyumardi Azra Angkat Bicara Soal Film ‘Jejak Khilafah di Nusantara’

Hal ini juga sebagai simbol, bahwa dalam tahun baru itu, dapur yang merupakan sumber kehidupan, harus terus hidup dan diperbaharui agar kehidupan terus berlangsung. Bahkan, ada yang spesifik membeli timba, periuk, dan semua alat dapur yang berlubang.

Tak Ada Jejak Khilafah

Berbeda dengan cara masyarakat lokal nusantara menyambut bulan Muharram. Pada tahun baru Hijriah ini (1442), sekelompok umat Islam menyambutnya dengan membuat film dokumenter.

Konon, cara itulah yang lebih milenial. Konon pula, puasa sunat ataupun bikin upacara-upacara tradisi, tidak menarik lagi minat anak muda milenial.

Menyambut Muharram dengan membuat film dokumenter, cukup inovatif. Soal apakah isinya mengundang kontroversi atau tidak, itu hal lain lagi. Dan, memang, akhirnya film dokumenter menyambut tahun baru Islam itu jadi kontroversial.

Film dokumenter berjudul “Jejak Khilafah di Nusantara” ditanggapi Azyumardi Azra, sejarawan Islam Indonesia, dengan menyatakan, ada dua dosa besar dalam ilmu sejarah: Pertama, dengan sengaja membuat fakta-fakta sejarah yang palsu. Kedua, dengan sengaja menambah atau mengurangi fakta sejarah.

Azra melanjutkan, kalau hanya interpretasi sejarah saja yang keliru atau kurang tepat, itu lazim dan bisa dimaafkan. Beda halnya jika membuat-buat fakta atau menambah fakta.

Film “Jejak Khilafah di Nusantara” dianggap Azra, menambah-nambah dan membuat-buat fakta.

Menurut Guru Besar Sejarah Islam ini, kesultanan di Indonesia tidak ada yang berhubungan dalam hirarki kekuasaan dengan dinasti Islam tertentu. Baik dengan Ottoman maupun dinasti lain di Timur Tengah. Hubungan yang terjalin lebih banyak hubungan dagang.

Pernyataan Azra tersebut, saya dengar dalam satu Webinar Internasional “Relasi Agama dan Negara: Fiqh Siasah dan Siasat Politik”, di sore hari yang cukup gerah, 21 Agustus 2020.

Webinar internasional, yang juga menghadirkan Mahfud MD, Menko Polhukam, dihelat oleh UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten. Pernyataan Azra ini kemudian dibenarkan oleh Nadirsyah Hosen, yang juga menjadi narazoom dalam kegiatan tersebut.

Sebelumnya, Peter Carey, sejarawan berkebangsaan Inggris, seperti dilansir beberapa media, protes karena namanya dicatut dalam film dokumenter tersebut.

Selanjutnya, professor yang banyak meneliti sejarah di Indonesia ini, melalui Christopher Reinhart, asisten penelitinya, mengirim surel ke media-media di Indonesia.

Baca Juga :  Habib Rizieq Sebut Najis Pulang ke Indonesia, Ternyata Berita Hoax

Carey, intinya menyatakan, tidak ada bukti adanya pengaruh khilafah dalam kesultanan di Indonesia, apalagi dianggap menjadi bagian dari khilafah tertentu.

Saya tidak akan mengomentari lebih lanjut soal film dokumenter tersebut, kendati memang banyak yang janggal di dalamnya. Kalau kita tidak setuju, lebih baik membuat film tandingan saja. Tetapi yang pasti, dalam cara-cara orang lokal menyambut bulan Muharram atau tahun baru Hijriah ini, terang benderang, sama sekali tidak ada sisik melik kekhilafaan.

Kalau ada yang mengatakan, bahwa penanggalan masyarakat lokal nusantara yang banyak dipengaruhi oleh kalender Hijriah, adalah bukti pengaruh kekhilafaan Islam, jelas anggapan itu sembrono dan mungkin khilaf.

Masyarakat nusantara jauh sebelum mengenal Islam, telah memiliki penanggalan sendiri. Memang ada kesamaan dengan penanggalan Hijriah, karena penanggalan masyarakat lokal tersebut juga berdasarkan peredaran bulan.

Jika kemudian masyarakat nusantara bisa memadukan penanggalan mereka dengan penanggalan hijriah, itu bukan karena mereka berada di bawah duli kekhilafaan tertentu. Hal itu justru menunjukkan cara-cara kreatif masyarakat nusantara mendialogkan antara tradisi Islam dengan tradisi lokal yang ada pada mereka.

Baca juga : Tolak Komunis dan Khilafah, Tegagkkan Pancasila

Apalagi, jika kita menilik dengan seksama seluruh ritual-ritual yang dilakukan masyarakat nusantara menyambut Tahun Baru Hijriah. Keseluruhannya adalah cermin dialog antara tradisi lokal dengan tradisi Islam.

Mana mungkin kita temukan di tempat lain di timur tengah yang merayakan masuknya Tahun Baru Hijriah dengan berziarah ke gunung-gunung? Membuat upacara di puncak gunung? Bahkan, mempersembahkan sesajian tertentu di puncak gunung?

Mana ada pula di tempat lain, saat menyambut tahun baru hijriah mengarak pusaka keliling bersama dengan seekor kerbau? Terang sudah hal itu bukan pengaruh Kekaisaran Ottoman, atau Dinasti Abbasiah.

Tradisi menyambut Tahun Baru Hijriah yang dilakukan masyarakat nusantara, adalah gambaran Islam Nusantara.

Mengapa demikian? Karena dalam perayaan itu menunjukkan adanya penafsiran dan praktik keberislaman yang berpijak pada kebudayaan dan tradisi yang ada di nusantara. Tradisi keberislaman yang berasal dari timur tengah tidak kehilangan tempat, tetapi harus rela mengalami pergumulan dengan tradisi tempatan.

Walhasil, di banding menyebut ada jejak khilafah dalam ritual menyambut Tahun Baru Hijriah, malah lebih tepat kita bisa menyebut ada jejak Islam Nusantara di sana. Wallahu A’lam bi Sawab (qa/ummatina)

Syamsurijal (Peneliti Balai Litbang Agama Makassar)

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda