Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Indonesia Ada karena Keberagaman

Indonesia Ada karena Keberagaman dan Pancasila

Page Visited: 974
Read Time:3 Minute, 39 Second

Indonesia Ada karena Keberagaman dan Pancasila, Bukan Khilafah dan Provokasinya

Propaganda khilafah dan provokasinya yang sekarang seakan menjadi trending. Kalau hal ini tidak diatasi justru hanya akan berakibat rusaknya keragaman Indonesia. Keberagaman Indonesia, dengan ribuan suku bangsa dan lebih dari 300 bahasa merupakan kekayaan bangsa Indonesia. Keanekaragaman tersebut merupakan kekayaan milik bangsa Indonesia yang harus kita jaga dan lestarikan dalam bingkai NKRI dan Pancasila.

Menurut penelitian statistik yang dibuat Badan Pusat Statistik, melalui survei penduduk yang di lakukan tahun 2010, di Indonesia terdapat 1.128 suku bangsa. Struktur dan komposisi penduduk Indonesia menurut kelompok suku bangsa menurut Sensus Penduduk 2010 memperlihatkan Suku Jawa yang berasal dari Pulau Jawa bagian tengah hingga timur sebagai kelompok suku terbesar dengan populasi sebanyak 85,2 juta jiwa atau sekitar 40,2 persen dari populasi penduduk Indonesia.

Setiap suku bangsa mempunyai ciri atau karakter tersendiri, baik dalam aspek sosial maupun budaya. Antar suku bangsa di Indonesia memiliki berbagai perbedaan dan itulah yang membentuk keanekaragaman di Indonesia.

Persatuan dan kesatuan menjadi keharusan untuk terus dijaga terbingkai dalam dalam Bhinneka Tunggal Ika, sehingga mampu memberikan warna ketentraman dan kedamaian bagi rakyat Indonesia agar ke depan tidak banyak menimbulkan persoalan yang mengancam disintegrasi bangsa.

Baca Juga :  Pendirian Pesantren Merujuk UU Pesantren, Jadi Tidak Ada Sanksi Pidana

Meskipun berbeda suku, budaya, agama, bangsa Indonesia tetap dapat mewujudkan persatuan dan kesatuan untuk mewujudkan cita-cita bangsa yaitu melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial sebagaimana tertuang dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar tahun 1945.

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang tertulis pada Lambang Negara Indonesia Garuda Pancasila, memiliki arti “Berbeda-beda tetapi tetap satu”.

Kata “bhinneka” berarti “beraneka ragam” atau berbeda-beda, kata “tunggal” berarti “satu” dan “ika” berarti “itu”. Jadi secara harfi ah Bhinneka Tunggal Ika diterjemahkan menjadi “Beraneka Satu Itu” yang maknanya adalah meskipun berbeda-beda tetapi pada hakikatnya bangsa Indonesia tetap satu kesatuan.

Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia yang memiliki keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa daerah, agama dan kepercayaan, ras, maupun antar-golongan.

Kemanapun kita berkunjung di suatu daerah di Indonesia, tentu kita tidak hanya akan menemukan orang-orang asli daerah tersebut. Ada juga perantau yang akhirnya menetap di daerah itu atau hanya sekedar datang untuk jalan-jalan. Sebagian besar masyarakat Indonesia sudah terbiasa dengan adanya orang luar daerah mereka yang hadir di tengah-tengah mereka tanpa mengucilkan orang tersebut.

Baca Juga :  Ditegur Gus Mus, Pemkab Rembang Berkilah Tidak Wajib Pasang Bendera

Perbedaan budaya, suku, ras dan hal-hal lainnya seakan tidak lagi mempengaruhi kondisi penduduk Indonesia karena kita sama-sama warga negara Indonesia. Kita bisa merasakan rasa toleransi yang tinggi di antara masyarakat Indonesia terutama di kota-kota besar. Hal ini karena kita merasa sebagai satu bangsa yang menjujung tinggi falsafah hidup bangsa yaitu Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika.

Indonesia Ada karena Keberagaman
Indonesia Ada karena Keberagaman dan Pancasila

Khilafah dan Provokasinya

Dua ormas Islam terbesar di Indonesia, yaitu NU dan Muhammadiyah telah memberikan penegasan yang kuat bagi bangsa Indonesia, bahwa Indonesia sedikit pun tidak akan pernah menerima Khilafah. Sangat disayangkan ketika Indonesia berada dalam masa pertumbuhan besar banyak bermunculan oknum-oknum yang menginginkan berdirinya Khilafah dan menggeser persatuan bangsa.

Oknum-oknum yang mengupayakan berdirinya Khilafah sesungguhnya juga merupakan umat Islam, namun kenapa mereka sangat memaksa agar Khilafah ditegakkan dan sebenarnya mereka hanya sebagian kecil umat Islam.

Sesungguhnya Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk pemeluk agama Islam terbesar di dunia. Jumlah umat Islam yang besar ini terdiri dari beberapa ormas Islam yang mewakilinya. Adapun dua ormas Islam terbesar saat ini yaitu NU dan Muhammadiyah.

Baca Juga :  Negara Bubarkan FPI, Ini Langkah yang Diambil Polri

NU-Muhammadiyah ini sudah berdiri sejak masa sebelum kemerdekaan Indonesia. Kita bisa bayangkan betapa besar ilmu serta pengalaman yang dimiliki oleh kedua ormas Islam tersebut. Untuk itu, kita harus sadar sampai detik ini NU & Muhammadiyah tidak pernah membenarkan berdirinya negara khilafah di Indonesia. Pertanyaan terbesar kita saat ini adalah kenapa akhir-akhir ini Khilafah menjadi trending di Indonesia?

Kita sebagai masyarakat khususnya generasi milenial harus sadar bahwa para Bapak Pendiri bangsa ini tidak main-main menyatukan bangsa ini menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Selain itu, mereka yang berkontribusi menyatukan bangsa ini juga bukan orang-orang sembarangan.

Mereka semua adalah orang-orang yang berpendidikan, para pakar, berpengalaman, serta memiliki reputasi yang baik di dunia. Sehingga kita tidak bisa memandang sebelah mata dasar Negara kita Pancasila yang lahir atas buah pemikiran para founding father. Mereka yang berkontribusi dalam perumusan, terdapat perwakilan dari para ulama-ulama besar yang notabene lebih tinggi ilmunya dibandingkan para pengusung khilafah di Indonesia saat ini. (*)

Bagikan ini :