Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Indonesia Bukan Negara Islam Tapi Islami

Page Visited: 588
Read Time:3 Minute, 16 Second

Indonesia Bukan Negara Islam Tapi Islami, Perilaku Islami Lebih Penting

Indonesia bukanlah negara Islam, namun sistem yang diterapkan di Indonesia adalah sistem yang Islami. Bila kita lihat dulu pada zaman Nabi Muhammad tidak pernah melarang warganya untuk memeluk agama, di Indoneis juga tidak pernah melarang hal itu dilakukan. Bahkan Indonesia punya lima lebih agama yang dianut oleh warganya.

Menko Polkam, Mahfud MD menyatakan negara Islami artinya negara tersebut menyerap ajaran-ajaran Islam dalam aturan-aturannya, bukan menganut secara menyeluruh hukum dan ajaran yang ada dalam Islam.

Selain itu, kata Mahfud MD, Indonesia juga beragam, baik dari bahasa, suku hingga kepercayaan. Menurutnya, selama ini Indonesia justru bersatu dalam persaudaraan dan kebangsaan dengan latar belakang agama dan suku yang beragam.

“Karena Indonesia mempunyai 1.360 suku, bisa bersatu. Mempunyai 726 bahasa daerah dan mempunyai enam agama resmi dengan ratusan kepercayaan agama dan keyakinan lokal yang juga dilindungi oleh peraturan perundang-undangan,” ujarnya.

Lebih dari itu, bila dalam Islam menyeru untuk senantiasa berbuat adil dan baik sesama manusia, Indonesia juga menyuruh kepada hal yang sama yang tertera dalam sila ke-dua, kemanusiaan yang adil dan beradab. Maka, Indonesi tak perlu di-Islamkan dengan sistem khilafah karena Indonesia sudah Islami.

Baca Juga :  Mahfud MD: Gatot, Amien, RR, dan Din Syamsuddin Tak Bisa Ubah Keadaan

Dalam hal ini, Gus Dur pernah mangatakan bahwa, Indonesia bukan negara agama, tapi negara beragama. Ada enam agama di Indonesia jadi tolong hargai lima agama yang lain. Walaupun terlihat simple, kata ini bermakna dalam bagi orang yang merasakan bagaimana keragaman agama itu ada di Indonesia.

Dengan keragaman ini, Gus Dur mencoba bagaiamana semua agama bisa saling menghargai dan tidak mengklaim Indonesia sebagai negara agama, melainkan negara yang beragama.

Maka dari itu, keberagaman agama yang ada di Indonesia akan selalu saling menguatkan satu sama lain, karena pada hakikatnya agama tak pernah menyeru untuk saling membeci dan menghancurkan satu sama lain, semua agama menyeru pada kebaikan.

Indonesia Bukan Negara Islam Tapi Islami.

Perilaku Islami Lebih Penting dari Sekadar Berteriak untuk Membangun Negara Islam

Oleh karena itu, Muhammad Mahfud MD menegaskan Indonesia tidak perlu diubah menjadi negara Islam tapi cukup jadi negara islami. Menurutnya, ada perbedaan antara Islam dan islami. Kalau negara Islam adalah negara yang memformalkan ajaran Islam dalam ketata-negaraan dan produk hukum yang dihasilkannya.

Baca Juga :  Mahfud MD: Indonesia Negara Demokrasi dan Pancasila Sebagai Ideologi

Sedangkan Islami terkait negara yang warganya melaksanakan kehidupan selaras dengan nilai-nilai Islam, misalnya jujur, toleran, saling menghormati dan sebagainya.

“Justru sikap-sikap islami tumbuh di negara yang bukan Islam,” tuturnya saat menjadi narasumber dalam Seminar Islam Wasathiyah, Pancasila dan Islam Syariah di aula Madrasah Aliah Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat (5/7/2019).

Mahfud lalu mengutip hasil sebuah penelitian di Amerika Serikat yang dirilis sekitar 4 tahun lalu. Hasil penelitian tersebut, katanya, menemukan fakta bahwa negara yang paling islami di dunia adalah Selandia Baru.

Di situ tidak banyak umat Islam tapi justru perilaku warganya paling islami jika diukur dari nilai-niai Islam. Salah satu ukurannya adalah warganya toleran, jujur, tertib dan sebagainya yang itu merupakan nilai-nilai universal dalam Islam.

Mahfud mengungkapkan jika terjadi kecelakaan di Selandia Baru, maka dengan sigap dan cekatan orang-orang yang mengetahuinya memberikan bantuan, dan dompetnya ‘aman’.

“Tapi kalau di Indonesia ada orang kecelakaan juga ditolong, tapi kadang dompetnya hilang,” jelasnya.

Baca Juga :  Mahfud MD: Tak Perlu Tunggu September, Tonton Film G30S/PKI Bisa Kapan Saja

Mahfud kemudian bercerita pengalaman KH Hasyim Muzadi yang disampaikan kepada dirinya soal perilaku islami negara Taiwan. Padahal Taiwan bukan negara Islam, malah cenderung ke komunis. Suatu ketika, kata Mahfud, Kiai Hasyim naik taksi menuju kesebuah hotel. Namun sampai di hotel, Kiai Hasyim ingat bahwa tas kecilnya ketinggalan di taksi yang baru saja mengantarnya ke hotel. Kiai Hasyim bergegas menuju resepsionis untuk memberitahukan soal tas kecilnya yang tertinggal tersebut.

“Ternyata tas kecil tersebut sudah ada meja resepsionis, dikembalikan oleh si sopir taksi. Walaupun tidak kenal orangnya. Dan langsung diserahkan kepada Kiai Hasyim. Dan saya beberapa tahun lalu ke Taiwan, merasa aman-aman saja. Betul kata Kiai Hasyim,” urainya.

Mahfud menegaskan, perilaku islami lebih penting dari sekadar gontok-gontokan berteriak untuk membangun negara Islam.

“Indonesia kedepan kita bangun, namanya bukan negara Islam tapi negara yang mempuyai watak islami, warganya berperilaku islami,” pungkasnya. (*)

Bagikan ini :