Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Indonesia-dengan-Ideologi-Pancasila-Sesuai-dengan-Syariat-Islam

Indonesia dengan Ideologi Pancasila Sesuai dengan Syariat Islam

Page Visited: 857
Read Time:3 Minute, 54 Second

Indonesia dengan Ideologi Pancasila Seiring Sejalan dengan Syariat Islam yang Dianut dan Dijalankan Umat Muslim Indonesia

Seruan-seruan untuk menegakkan syariat Islam secara keseluruhan masih terus bergaung di bumi NKRI. Seruan ini diselipkan bersamaan dengan usaha-usaha dalam menyebarkan propaganda khilafahisme untuk menggerus ideologi Pancasila dan UUD 45.

Mereka berpandangan, Pancasila yang menggunakan lambang burung Garuda merupakan kemusyrikan dan bahkan disebut thogut. Di sini kita tidak akan membahas jalan pikiran mereka kenapa bisa seperti itu pandangannya, tetapi di sini kita akan membahas sekelumit tentang sila-sila dalam Pancasila yang sesuai dengan Syariat Islam.

Dalam Pancasila, tidak ada sila-sila yang dapat menyesatkan kita ke dalam kesyirikan atau ke-thogut-an. Cobalah kaji secara baik-baik setiap sila dalam Pancasila. Semuanya merupakan kalimat-kalimat bagus bernilai universal sekaligus bersesuaian dengan nilai-nilai Islam.

Sila pertama, Ke-Tuhan-an Yang Maha Esa. Sila ini dulu menjadi perdebatan yang hangat di kalangan pendiri bangsa. Dulu sebutannya ialah ‘ketuhanan dengan menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya’ atau sering juga disebut sebagai Piagam Jakarta. Namun karena ada ketidaksetujuan di sana-sini, sila ini kemudian diubah menjadi ‘ke-Tuhan-an Yang Maha Esa’ seperti yang digunakan sekarang.

Baca Juga :  Ini 4 Ibadah Sunnah yang Sering Terabaikan dalam Keseharian Kita

Sila pertama yang sekarang digunakan jelas sangat sesuai dengan semangat kemahaesaan Tuhan yang diajarkan Allah dalam berbagai ayat-ayat al-Quran, dapat dilihat pada beberapa ayat seperti: QS. An-Nisa: 36, QS. al-An’am: 151, QS. an-Nur: 55, QS. Yusuf: 40, QS. Ali Imran: 64 dan masih banyak lainnya.

Sila kedua, Kemanusiaan yang adil dan beradab. Kalu menolak semangat yang terkandung dalam sila kedua dari Pancasila ini, artinya kita menolak menjalin “hubungan baik” dengan sesama manusia secara beradab dan berakhlak.

Secara logika, kalau kita menolak “hubungan baik” dengan sesama manusia, sebutan yang cocok untuk kita ialah manusia egois, tidak bermoral, arogan dan biadab. Kita berlindung kepada Allah dari sifat buruk ini!

Dalam al-Quran, banyak sekali ayat-ayat yang berbicara mengenai posisi manusia dan kemanusiaan, seperti yang dapat kita baca pada QS. At-Taghabun: 3, Hud: 61, Ibrahim: 32-34, Luqman: 20, ar-Rahman: 3-4, al-Hujurat: 13, al-Maidah: 32 dan lain-lain.

Sila ketiga, Persatuan Indonesia. Dalam al-Quran, persatuan merupakan prinsip terpenting dalam membangun komunitas. Dalam al-Quran, ditemukan banyak anjuran untuk bersatu dan mengecam terhadap perpecahan. Bahkan persatuan disebut al-Quran sebagai tali Allah, seperti disebut dalam QS. Ali Imran: 64, 102-107.

Baca Juga :  Ini Kekayaan Gatot Nurmantyo sang Deklarator KAMI

Ayat-ayat terkait persatuan ini dapat dilihat dalam beberapa ayat al-Quran seperti QS. al-An’am: 153, QS. ar-Rum: 30-32, QS. al-Bayyinah: 1-5 dan lain-lain.

Jika mencontoh Nabi Muhammad di negara Madinah, Nabi menjalin persatuan dengan kelompok-kelompok sosial dari kalangan Ahli Kitab, Yahudi dan Nasrani, dan kalangan orang-orang musyrik seperti Bani Khuza’ah, Bani Juhainah dan lain-lain yang kemudian dikenal sebagai Piagam Madinah.

Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Semangat yang terkandung dalam sila ini ialah semangat untuk melawan segala bentuk tirani yang terejawantahkan ke dalam sistem totalitarianisme dan otoritarianisme dalam pemerintahan.

Untuk mengontrol kekuasaan yang terkumpul pada satu individu tertentu yang berpotensi untuk disalahgunakan dan rawan dari kekeliruan dalam mengambil keputusan dan kebijakan, maka perlu adanya permusyawaratan perwakilan (MPR, DPR, DPRD, dll).

Penegasan Allah untuk selalu bermusyawarah seperti ini dapat dilihat dalam QS. al-Baqarah: 233, Ali Imran: 159 dan as-Syura: 38 dan semangat pembagian kerja atau perwakilan seperti yang dapat kita temukan pada QS. an-Nisa: 35 dan QS. Yusuf: 55.

Sila kelima, Keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika ada yang menolak Pancasila, artinya orang-orang itu menolak keadilan dan membela kezaliman. Sila kelima dalam Pancasila sangat menjunjung tinggi keadilan, hal ini sesuai dengan ajaran Allah seperti dapat dilihat dalam QS. An-Nisa: 58, 135, al-Maidah: 8, al-An’am: 152-153, al-A’raf: 29, Hud: 84-86 dan lain-lain.

Baca Juga :  Pancasila Mengakomodasi Semua Perbedaan Menjadi Satu Kesatuan Indonesia

Imam al-Ghozali menegaskan, yang Islami itu bukan sekedar yang ma nataqa an-nash – ‘apa yang ada dalam al-Quran dan Sunnah’ tapi lebih dari itu, yakni, yang ma wafaqa as-syar’a – ‘yang sesuai dengan semangat syariat’.

Penegasan Imam Al-Ghozali ini cukup untuk membantah keyakinan bahwa semua hukum buatan manusia itu produk kekufuran. Asalkan hukum tersebut sesuai dengan syariat Islam, tidak menghalalkan yang haram dan tidak mengharamkan yang halal, maka jelas Pancasila dan UUD 45 bisa disebut Islami, dan Pancasila itu Islami.

Intinya, siapa saja orangnya dan apapun pahamnya yang tegas-tegas menolak keesaan Allah, menentang kemanusiaan, memecah belah persatuan, mengadopsi otoritarianisme dan menghancurkan sendi-sendi keadilan, tak diragukan lagi meraka adalah thogut sebenarnya.

Jika jaringan kaum radikal dan kelompok teroris yang mengatasnamakan Islam melawan Pancasila, bukankah dengan demikian mereka itu salah satu thogut yang harus diperangi? Silahkan berpikir secara tertib untuk menjawab pertanyaan ini.

Indonesia dengan Ideologi Pancasila Sesuai dengan Syariat Islam .
Bagikan ini :