Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Ketika Makam Imam an Nawawi Dibom Sekte Wahabi

Makam Imam Nawawi di Suriah Hancur Dibom Kaum Wahabi.

Ingatkah Anda Ketika Makam Imam An-Nawawi Dibom Kaum Wahabi ?

Page Visited: 1516
Read Time:3 Minute, 9 Second

Masih Ingatkah Anda Ketika Makam Imam an-Nawawi Dibom Kaum Wahabi yang Tergabung dalam Kelompok Jabhat A-Nusra di Suriah?

Siapa yang tidak kenal intelektual Islam abad ke-13 Masehi yang sangat dihormati dan karya jasanya sangat bermanfaat bagi umat Muslim diseluruh dunia hingga saat ini. Beliau wafat pada 24 Rajab 676 H dan di makamkan Nawa Provinsi Deraa, Suriah (dekat perbatasan Yordania saat ini).

Namun sayang beribu sayang, jika anda mungkin belum tahu, makam ulama fiqih ternama ini pernah di bom oleh sekelompok yang mengakku Jihadis pada tanggal 8 Januari 2015 lalu.

Dikutip dari kantor berita lokal wilayah Nawa merilis video berdurasi 01:03 menit yang berisi rilis pendek puing-puing makam Imam Nawawi setelah diledakkan oleh sekawanan orang tak dikenal, sehingga menambahkan komentar dalam video tersebut.

Baca juga : KH. Hasyim Muzadi Pernah Sebut HTI Akan Bentrok dengan Negara

Namun, Aljazira melaporkan bahwa pelakukanya adalah Jabhah Nusrah (JN). Pejuang al-Nusra menganggap penghormatan pada makam Imam Nawawi tersebut sama dengan menyembah berhala.

Baca Juga :  Menghina Presiden Erdogan, 3.800 Orang Dipenjara di Turki

Mereka menyamakan aksi mereka dengan penghancuran kuil berhala. Mereka menanam bahan peledak tepat di tengah-tengah makam Imam Nawawi. Suara ledakan bom ini terdengar hingga seluruh penjuru kota Nawa.

Sebelum meledakkan makam Imam Nawawi ini, Jabhah Nusrah yang berafiliasi kepada sekte Wahabi ini juga pernah meledakkan makam bagi sahabat Nabi Muhammad SAW., Ammar bin Yaser, yang juga terhubung di Suriah.

Setelah meledakkan kuburan-kuburan yang mereka anggap sebagai pusat syirik dan menyembah berhala, biasanya mereka tertawa terbahak-bahak sambil meneriakkan kalimat takbir, Allahu Akbar.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan Kementerian Wakaf Islam Suriah, PBB mengatakan 290 situs di seluruh negeri telah terkena dampak langsung pertempuran. Sebanyak 24 situs hancur, 104 rusak berat, 85 rusak sedang dan 77 kemungkinan rusak.

Baca juga : Mengenal Masirah Kubra HTI di Indonesia

Biografi Singkat Imam an Nawawi

Hampir 4 tahun lebih ia makan roti kering dan minum air putih, tidak ada waktu untuk memasak masakan enak, karena sibuk belajar. Buah-buahan yang banyak tersedia di pasar-pasar Damaskus pun jarang ia makan, karena khawatir yang dia makan itu adalah buah-buahan hasil dari tanah wakaf milik umat Islam.

Baca Juga :  Imam Masjid Dianiaya "Seorang Khawarij" karena Membaca Doa Qunut Subuh

Cerita tentang karomahnya memenuhi buku-buku yang membahas tentang karamah Ulama, antara lain disebut sebagai kompilasi menulis di malam hari, cahaya memancar dari ujung jari-jari beliau, sehingga menerangi tempat dia menulis.

Dia adalah Imam Muhayiddin Abu Zakarya Yahya bin Syaraf Nawawi, yang lebih dikenal sebagai Imam Nawawi, nisbah untuk kampung dia bernama Nawa, sebuah desa di Propinsi Dar’a di selatan Damaskus. Dia lahir di Nawa (1233 M) kemudian belajar, mengajar dan menulis karya-karyanya di Damaskus.

Pada tahun 676 H beliau kembali ke kampung halamannya di Nawa setelah mengembalikan berbagai kitab yang dipinjamnya dari sebuah badan wakaf. Beliau juga menziarahi makam para gurunya dan bersilaturahim kepada para sahabat beliau yang masih hidup.

Pada hari keberangkatan beliau ke Nawa, para jama’ah yang beliau bina melepas kepergiannya di pinggiran kota Damsyiq (Damaskus). Mereka bertanya kapan mereka dapat bertemu dengan lagi.

Namun Imam an-Nawawi menjawab bahwa mereka akan bertemu setelah 200 tahun. Awalnya mereka tidak mengerti perkataan sang Imam, namun akhirnya mereka faham bahwa yang dimaksud sang imam adalah setelah hari kiamat.

Baca Juga :  Trending Tagar #PecatTengkuzulDariMUI, Desak MUI Pecat Tengku Zul

baca juga : Bekal Berdebat Soal Khilafah dengan Orang NU Pendukung HTI

Pada saat wafatnya, kabarnya menyebar luas hingga Damaskus. Semua orang bersedih dan kehilangan atas wafatnya sang imam. Penguasa saat itu, ‘Izzuddin Muhammad bin Sha’igh datang dan menyolatkannya.

Meskipun beliau relatif muda, pada usia yang sangat produktif, yaitu 45 tahun tetapi di kalangan ulama zamannya dia sangat terhormat, seorang ulama teladan.

Beliau meninggalkan banyak karya yang luar biasa, lebih dari 20 karya besar, antara lain Syarh Sahih Muslim sekitar 12 jilid, Kitab al Majmuk Syarh Muhazzab 20 jilid, dan yang paling fenomenal menjadi Best Seller sepanjang masa adalah Riyadhus Shalihin, yang diterjemahkan ke dalam edisi berbagai bahasa dunia.

Bagikan ini :