Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

IRONISME PENYEBAR HOAX YANG MENGATASNAMAKAN PASUKAN CYBER MUSLIM

IRONISME PENYEBAR HOAX OLEH KAUM TERDIDIK DAN RAJIN IBADAH, PASUKAN CYBER MUSLIM ?

Page Visited: 107
Read Time:3 Minute, 45 Second

KENAPA KAUM TERDIDIK DAN RAJIN IBADAH MENJADI PENYEBAR HOAX? BAHKAN YANG LEBIH IRONIS LAGI ADALAH MUNCULNYA PENYEBAR HOAX YANG MENAMAKAN DIRINYA PASUKAN CYBER MUSLIM (Moslem Cyber Army).

Seorang doktor lulusan Timur Tengah aktif sekali mengirim berita-berita hoax di hampir semua group WA yang ia ikuti. Kawan satu almamaternya dulu mencoba mengingatkan bahwa berita-berita yang ia share adalah hoax, tapi ia hanya menanggapi, “Saya tahu. Sekarang kan kita sedang berperang. Dalam perang apapun boleh dilakukan, termasuk membunuh orang.”

Inilah salah satu alasan kenapa hoax tumbuh subur, mudah sekali menyebar, dan gampang beranak-pinak. Dalam kasus di atas, hoax disebarluaskan justeru oleh orang berpendidikan tinggi. Menurut sebuah penelitian yang dilakukan Kemenkominfo, kalangan terpelajar (S1) justeru yang banyak terpapar hoax. Mengapa? Ada banyak teori menjelaskan soal ini.

Bca juga : Hari Raya Idul Adha 1441 akan jatuh pada 31 Juli 2020

Sekarang ini, terutama dalam pergaulan di media sosial, kita memasuki sebuah era yang orang menyebutnya “post-truth” (pasca kebenaran). “Post” di situ bisa diartikan “setelah” atau “melampaui”. Di era post truth orang tidak lagi peduli pada “kebenaran” sebuah fakta. Bahkan, orang tidak lagi mempermasalahkan atau mempertanyakan “kebenaran”.

Baca Juga :  Hoax !!! Garam Dapur Bisa Bunuh Virus Corona dan Atasi Batuk

Hoax Bukan Sekadar Kabar Bohong

Jika Abad Modern ditandai sebuah diktum dari Descartes “cogito ergo sum” (aku berpikir maka aku ada), era post-truth mundur kembali ke sebelum Abad Modern.

Kebenaran tidak lagi diukur berdasarkan nalar dan rasionalitas, melainkan ditentukan emosi dan perasaan. Jika sebuah informasi didapat sesuai kepentingan dan perasaan, ia akan dengan mudah diterima dan disebarluaskan meskipun secara nalar kacau dan tidak sesuai dengan fakta (hoax).

Hoax bukan sekadar kabar bohong karena orang yang memproduksi atau yang menyebarluaskan tidak merasa bahwa ia sedang berbohong. Orang berbohong masih mengakui kebenaran. Ia hanya berusaha menyembunyikan kebenaran itu. Namun, bagi pembuat dan penyebar hoax, tidak akan pernah merasa dan mau mengakui bahwa ia sedang mengelabui kebenaran.

Baca juga : Tolak Khilafah dengan : “NKRI OK, ISLAM YES, KHILAFAH NO !”

Ia tidak peduli bahkan bersikap masa bodoh dengan kebenaran, karena ia sedang bermain-main dengan emosi, perasaan, dan kepentingan.

HOAX Ironisme yang Aneh

Oleh karena itu, tidaklah aneh dalam masa Pilpres 2019 kita menghadapi sekelompok orang yang mengatasnamakan dan mengidentifikasi diri sebagai “moslem cyber army” (MCA) yang sampai hari ini masih getol memproduksi dan menyebarluaskan hoax. Ini ironisme yang aneh karena Mengatas-namakan Muslim tapi cinta dengan HOAX yang dilarang oleh Islam.

Baca Juga :  Kenapa Sistem Pemerintahan Nabi Muhammad Haram Ditiru Ummatnya?

Bukankah berbohong, menyebar fitnah dan mengadu domba dilarang islam? Mengapa mereka mengaku muslim? Sebagai muslim yang waras dan masih mengakui nilai-nilai luhur islam tentu akan terus menjaga keselarasan dan keseimbangan antara ajaran dan praktik keagamaan.

Muslim yang waras tidak menyerang hoax dengan hoax karena sama halnya menghianati nilai-nilainya sendiri. Sebaliknya, ia akan konsisten menjunjung tinggi kebenaran, bersikap dan bertindak jujur, selalu menjaga perdamaian dan keharmonisan.

Meskipun mengaku sedang memperjuangkan islam, nilai-nilai tersebut tidak berlaku bagi pembuat hoax. Ia akan bersikap dan bertindak masa bodoh asalkan tujuan dan cita-cita politiknya tercapai.

Dalam imajinasinya Pilpres tahun lalu adalah “perang” melawan musuh Islam. Untuk membuat, menciptakan, dan menyeret orang dalam situasi perang, maka dibuatlah hoax-hoax bahwa lawan politik mereka “anti-Islam”, “keturunan orang kafir”, “mengkriminalisasi ulama”, dll.

Baca juga : Penjelasan Wapres KH Ma’ruf Amin Soal Larangan Paham Khilafah di Indonesia

Hoax-hoax itu dibuat dan dijadikan senjata untuk menjatuhkan lawan politik. Menurut mereka, dalam situasi perang apapun boleh dilakukan. Prinsip mereka: “al-harbu khid’atun” (perang adalah tipu muslihat).

HOAX Bukan Ajaran Islam

Mereka tidak tahu dalam perang sekalipun, Nabi Muhammad SAW tetap patuh dan memperhatikan etika perang, seperti tidak boleh merusak tempat ibadah, membunuh anak-anak, perempuan dan manula, menebang pohon, dll.

Baca Juga :  Fakta Or Hoax Berita ‘Prabowo Ingatkan Gatot-KAMI agar Tak Buat Kisruh’?

Jadi, bersikap masa bodoh, menghalalkan segala cara, mengabaikan nilai-nilai dan norma-norma agama bukanlah ajaran islam. Apalagi hanya untuk persoalan politik praktis. Namun, saya yakin sekali, logika seperti ini tidak akan diterima mereka.

Dalam imajinasi kelompok “islam politik”, selama sebuah negara atau pemerintahan belum menerapkan “ syariat islam” (syariat dalam pengertian mereka) maka masih disebut negara/pemerintah “jahiliyyah” atau bahkan “darul harb” (negara perang). Bagi mereka, perjuangan menuju cita-cita politik adalah perjuangan menegakkan agama.

Orang atau kelompok orang yang tidak setuju atau mencoba menghalang-halangi mereka langsung dicap musuh Islam yang harus “diperangi”. Bahkan, bagi kalangan Jihadis, mereka disebut “taghut” yang halal darahnya.

Baca juga : Kenapa Sistem Pemerintahan Nabi Muhammad Haram Ditiru Ummatnya?

Islam politik menganggap seluruh ajaran, praktik juga simbol-simbol keagamaan sebagai bagian dari identitas politik. Salat sebagai ritual keagamaan individual (ibadah mahdhah) saja dimaknai sebagai pesan dan identitas politik.

Sejatinya bukan agama yang mereka pejuangkan melainkan “psudo agama” sebagai bungkus kepentingan politik. (Kiyai Jamaluddin Mohammad)

Bagikan ini :