Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Jangan Lengah, Tetap Waspada Radikalisme di Lingkungan Sekolah

Jangan Lengah, Tetap Waspada Radikalisme di Lingkungan Sekolah

Page Visited: 1331
Read Time:2 Minute, 48 Second

Tetap Waspadai Eksistensi Radikalisme di Lingkungan Sekolah, Jangan sampai Kecolongan Terus-terusan

Paham radikalisme masuk ke sekolah bisa melalui buku, kurikulum, dan guru. Buku yang mengandung radikalisme mesti diperbaiki isinya. Sekolah juga tidak boleh sembarangan menerima guru yang ternyata bagian dari kaum radikal. Orang tua juga waspada pelajaran sekolah anak, jika kurikulumnya mengandung radikalisme, sebaiknya memindahkan mereka ke tempat lain.

Wakil presiden KH Ma’ruf Amin pernah mengatakan bahwa buku pelajaran yang mengandung konten radikalisme akan ditelusuri siapa penulis dan penerbitnya. Miris sekali bahwa ada buku seperti itu di tingkat SD, bahkan PAUD. Buku tersebut akan diperbaiki isinya dan ajaran radikalisme mesti dihapus, agar murid tidak lagi memperoleh pengaruh dari kaum radikal.

Sekolah juga wajib menyeleksi calon guru yang mengajar. Wajib ditunaikan psikotes, Tanya Jawab soal kebangsaan, dan dilihat juga akun media sosialnya. Jangan sampai ternyata ia member kubu radikal yang mengajarkan murid-murid soal jihad serta kebencian kepada pemerintah. 1 guru yang salah akan merusak otak ratusan murid.

Baca Juga :  Nasehat Emas Habib Umar bin Hafidz, Memiliki Kekuatan dalam Renungan

Kalau ada sekolah yang kurikulumnya ternyata pro radikalisme, maka orang tua jangan segan untuk memindahkan anak ke lembaga pendidikan lain, walau mesti berkorban uang, tidak apa-apa. Daripada anak terpapar radikalisme semenjak dini. Mereka dapat nekat kabur dari rumah dan ingin jihad ke luar negeri sebab otaknya telah terpengaruh oleh ajaran kaum separatis.

Untuk mengatasi murid yang sempat terpapar ajaran radikalisme, maka orang tua dapat membetulkannya dengan mengajarkan nilai nasionalisme. Misalnya dengan menyetel lagu-lagu kebangsaan di rumah, dan menggelar upacara bendera di rumah tiap hari besar nasional. Juga mengajak anak untuk menonton film soal sejarah kemerdekaan Indonesia.

Lingkungan sekolah tercemar radikalisme

Zaman sekarang ini lingkungan sekolah telah ada yang tercemar oleh ajaran radikalisme. Hal ini amat disayangkan sebab murid dapat bingung dan menganggap paham mereka benar. Pemerintah menanggulangi masuknya paham radikalisme di lingkungan sekolah dengan beberapa cara. Di antaranya mengganti buku pelajaran yang berisi konten radikalisme.

Publik pernah dibuat heboh dengan buku pelajaran yang memuat materi dengan kata-kata bom, jihad, perang, dan bantai. Padahal buku tersebut ditujukan untuk murid TK. Spontan langsung ditarik dari peredaran dan diselidiki, mengapa sampai diberikan untuk sebuah lembaga pendidikan untuk bocah kecil. Ternyata radikalisme telah masuk ke lingkungan sekolah.

Baca Juga :  5 Jenis Orang yang Dibenci Allah Swt

Menurut Menteri Agama Fachrul Razi, ada 3 jalur untuk tempat masuk paham radikalisme ke lingkungan sekolah.

Yang ke-1 ialah melalui kurikulum. Khususnya di sekolah yang tidak menggunakan kurikulum K-13. Mereka menggunakan kurikulum lain yang sayangnya dapat disisipi oleh ajaran radikalisme. Jadi di proses pembelajaran, murid malah diajari untuk berjihad ke Syiria.

Jalur ke-2 ialah melalui buku. Seperti yang dicontohkan di atas, ternyata ada buku pelajaran yang memuat paham radikal. Misalnya ajaran untuk memerangi kafir dengan Pertempuran dan aksi anarkis. Padahal di era modern, perang seperti ini tidak mungkin terjadi. Murid juga jadi seseorang yang intoleran sebab tidak mau bergaul dengan selain kaumnya.

Sementara jalur ke-3 ialah melalui guru. Seorang guru semestinya mengajarkan soal pengetahuan dan kebaikan. Tapi ia malah menyetelkan film soal perang Palestina dan mengajak murid untuk membantai musuh. Murid yang masih polos akan tercuci otaknya lalu menganggap ujaran guru benar, padahal pengajar tersebut ialah member kubu radikal.

Untuk mengatasinya maka sekolah mesti teliti dalam menggunakan buku untuk bahan pembelajaran di kelas. Guru dan kepala sekolah mesti membaca satu-persatu materinya sebelum mengambil keputusan untuk berbelanja buku itu. Jangan sampai salah dan ternyata ada cerita soal radikalisme yang membikin murid jadi salah kaprah dan Ada di jalur yang tidak benar. (*)

Bagikan ini :