Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Jawaban TGB atas Tuduhan Aktivis HTI Bahwa Nasionalisme Memecah-Belah Ummat

Jawaban TGB atas Tuduhan Aktivis HTI “Nasionalisme Memecah-Belah Ummat”

Page Visited: 1280
Read Time:2 Minute, 28 Second

Mantab, Inilah Jawaban TGB atas Tuduhan Aktivis HTI Bahwa “Nasionalisme Memecah-Belah Ummat”

Seorang aktivis HTI dalam sebuah diskusi menyatakan bahwa nasionalisme memecah-belah umat Islam. Pendirian negara bangsa membuat kekuatan umat Islam tidak lagi tunggal dan menyatu. Hal ini mengakibatkan umat Islam semakin lemah dan sampai saat ini, menurut aktivis HTI ini, tidak ada satu pun pemimpin Muslim yang bisa menyelesaikan persoalan umat Islam.

Aktivis HTI seperti biasa, apapun masalahnya, sosial, ekonomi, hankam, dll, semuanya adalah khilafah solusinya.

Baca juga : Penjelasan TGB Soal Bendera Nabi, HTI Bohong kepada Umat Islam Indonesia

Jawaban TGB atas Tuduhan Aktivis HTI Bahwa Nasionalisme Memecah-Belah Ummat

TGB Zainul Majdi yang juga menjadi narasumber dalam diskusi tersebut menegaskan bahwa proses lahirnya negara bangsa di Indonesia dengan negara bangsa di Timur-Tengah itu berbeda. Negara bangsa di Indonesia menyatukan, bukan memecah belah. Dulu Indonesia ada banyak kerajaan, kekuatannya tidak satu. Karena adanya nasionalisme, maka kekuatan Indonesia menyatu dari Sabang sampai Merauke.

Sementara di Timur-Tengah, kelahiran negara bangsa dianggap memecah-belah kekuatan umat Islam. Makanya, muncul gerakan untuk memunculkan kembali kekhalifahan Islam, seperti yang dikampanyekan Hizbut Tahrir di Palestina, yang kemudian menjadi gerakan global.

Baca Juga :  Mahfud MD Kunjungi Kopassus Akan Libatkan TNI Tangani Terorisme

Mereka menganggap dulunya umat Islam satu di bawah kekuasaan, seperti Turki Utsmani, tapi karena ada penjajahan dan pemberontakan kekuatan umat Islam menjadi pecah, dan banyak wilayah di Timur-Tengah memisahkan diri menjadi negara mandiri.

“Tapi kalau di Indonesia lahirnya negara bangsa yang namanya Indonesia ini justru menyatukan kekuatan. Sebelum adanya negara bangsa yang namanya Indonesia ini kita kerajaan-kerajaan kecil. Yang karena kecil, kita tidak mampu mengonsolidasikan kekuatan umat. Banyak sekali kesulthanan dan kerajaan, ketika lahir negara bangsa Indonesia, kekuatan kecil itu menyatu. Jadilah kekuatan besar umat Islam yang ada di Indonesia”, Tegas TGB.

baca juga : Kekerasan Atas Nama Islam Adalah Pelecehan Terhadap Ajaran Islam

Eks Gubernur Nusa Tenggara Barat ini menegaskan perlunya membaca konteks dari buku yang ada. Karya tentang kekhalifahan yang lahir di Timur-Tengah khususnya, itu memiliki konteks tersendiri. Buku itu tidak lahir dari ruang kosong. Anggapan bahwa negara bangsa memecah belah umat yang ditulis di Timur-Tengah sangat erat kaitannya dengan ketidakberdayaan dan runtuhnya persatuan di sana.

Baca Juga :  5 Penyataan Sikap PB PMII dalam Menyikapi Tuduhan Gatot Nurmantyo dari KAMI

Akan bisa menjadi masalah jika itu dibaca di sini, kemudian diterapkan di Indonesia. Padahal, Indonesia lahir justru berbeda maslahnya. Kalau di sana memecah belah, di sini justru menyatukan. Jangan membaca buku lepas dari konteks tempat dan waktu.

“Yang ingin saya katakan adalah mari kita cermati konteks lahirnya negara bangsa, tumbuhnya nasionalisme. Kalau di Timur-Tengah itu nasionalisme artifisial, memang dibelah-belah mereka, kalau kita, nasionalisme kita perjuangan untuk membebaskan diri dari penjajah. Itu adalah tuntunan Islam”, tambah Alumni Al-Azhar tersebut.

baca juga : Pengalaman Masuk Markas HTI, Bongkar Kebohongan HTI yang Ngaku Tak Punya Bendera

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, negara bangsa Indonesia terbentuk dari resolusi Jihad. Pendirian negara ini didorong resolusi jihad. TGB memperingatkan kepada aktivis HTI yang hadir dalam forum tersebut untuk membiasakan diri dalam membaca buku disesuikan dengan konteksnya, supaya tidak salah dalam penerapannya.

Menurut TGB, bila khilafah diwacanakan dan didirikan di Indonesia, justru yang terjadi sebaliknya: perpecahan dan pertengkaran pasti akan terjadi.

Bagikan ini :