Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Jihad di Medsos, Tangkal Radikalisme di Jawa Tengah

Jihad di Medsos, Tangkal Radikalisme di Jawa Tengah

Page Visited: 1011
Read Time:1 Minute, 57 Second

Gubernur Jawa Tengah Bersama Ulama dan Akademisi Sepakat Jihad di Medsos Tangkal Radikalisme

Jawa Tengah – SBeberapa kiai di Jawa Tengah, akademisi bersama kalangan muda menggelar pertemuan dengan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, di Pondok Pesantren Girikusumo Mranggen, Demak, Rabu (16/12/20). Pertemuan tersebut banyak membahas tentang isu-isu kebangsaan, keagamaan dan radikalisme yang sedang menyebar di tengah masyarakat.

Menyikapi situasi yang berkembang saat ini, agama yang kita ketahui adalah dimaksudkan untuk mensejahterakan, mendamaikan, mempersatukan, dan menyatukan bangsa ini. Tapi pada kenyataannya yang kita lihat bersama justru dipakai ujung tombak untuk kepentingan pribadi, kepentingan kelompok dan sebagainya.

Hal itu menjadi latar belakang berkumpulnya para Kiai dan Akademisi di Pondok Pesantren Girikusumo Mraggen, Demak, Jawa Tengah.

Pada pertemuan tersebut, KH. Muhammad Adnan, Rais Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Tengah mengatakan bahwa Jihad bukan lah perah dan juga bukan melawan pemerintahan yang sah. Menurut Kiai Adnan, jihad harus diartikan untuk penekanan pada penanaman nilai Islam yang benar dan rahmatal lil alamin (rahmat bagi semesta alam).

Baca Juga :  Tangkal Radikalisme, Berantas Paham Radikal Sampai ke Akar-akarnya

Para tokoh yang hadir sepakat untuk berjihad di medsos. Jihad yang berupa penyebaran nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil alamin. “Jangan sampai memaknai jihad itu semata-mata hanya perang, semata-mata melawan pemerintah yang sah,” jelas Kiai Adnan.

Selanjutnya, Dr. Jafar Shodiq, MSi, seorang akademisi Universitas Islam Sultan Agung (Unissula) menyebutkan bahwa permasalahan yang paling berat saat ini adalah dunia media sosial (medsos). “Orang-orang, dalam tanda kutip, selalu ingin merubah proses ideologi bangsa dengan radikalisme, dengan intoleransi itu. Umumnya mereka bermain di medsos,” ungkapnya menuturkan.

Pengasuh Pondok Pesantren Girikusumo, Abah Munif, menyampaikan bahwa pada dasarnya agama dimaksudkan untuk menyejahterakan, mendamaikan dan menyatukan bangsa Indonesia. Agama bukan digunakan untuk ujung tombak demi kepentingan-kepentingan pribadi dan kelompok.

“Berkumpulnya para akademisi, perguruan tjnggi dengan kalangan pesantren dan romo-romo kiai, karena melihat bahwa situasi yang sekarang berkembang ini sangat mencekam,” jelas Abah Munif.

Menurut beliau, forum tersebut bertujuan untuk membentuk agama Islam yang bisa menjadi payung, pemersatu yang utuh, yang ada dalam semboyan rahmatal lil alamin.

Baca Juga :  Urgensi Jihad Media dan Stop Share Konten Propaganda Khilafah

Di akhir pertemuan, Ganjar Pranowo ikut menyampaikan rasa terima kasih atas inisiatif yang diberikan oleh para ulama dan akademisi.

“Saya senang, berterimakasih, karena ada inisiatif dari akademisi dan para ulama di Jawa Tengah, untuk bicara tentang bangas, negara dan kondisi kekinian. Mudah-mudahan nanti bisa menjadi policy brief untuk pemerintah,” ujarnya. (ummatina/dakwahnu.id)

Bagikan ini :