Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

KAMI-Didirikan-oleh-Mereka-yang-Alami-Post-Power-Syndrome

KAMI Didirikan oleh Mereka yang Alami Post Power Syndrome?

Page Visited: 956
Read Time:2 Minute, 10 Second

KAMI Didirikan oleh Mereka yang Mengalami Post Power Syndrome, Bukan Hanya karena Tujuan Politik Semata

Tidak salah jika banyak orang membicarakan KAMI dan menyebut KAMI didirikan oleh mereka yang sedang mengalami “Post Power Syndrome”.

Tokoh-tokoh yang dikenal vokal mengkritisi pemerintah, berkumpul membentuk sebuah gerakan bernama Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Beberapa tokoh tergabung dalam gerakan KAMI antara lain Din Syamsuddin dan Gatot Numantyo. Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo sendiri sudah cukup lama tidak muncul di layar kaca.

Namun mendadak Gatot Nurmatyo turut hadir dalam acara indonesia Lawyers Club, dan berbicara tentang KAMI pada Selasa (18/8/2020).

Deklarasi KAMI digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta, pada Selasa (18/8) atas inisiasi Din Syamsuddin, mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, yang menyebutnya sebagai gerakan moral untuk menuntut keadilan sosial.

Din Syamsuddin bersama mantan panglima TNI, Jenderal TNI (Purn) Gatot Nurmantyo, dan mantan Rektor Universitas Negeri Yogyakarta, Rochmat Wahab, menjadi presidium dalam deklarasi KAMI tersebut.

Baca Juga :  Gatot Nurmantyo Kini: "Sah-sah Saja Kalau Saya Ingin Jadi Presiden"

Adapun Din Syamsuddin, menjelang Pilpres 2019, nama Din Syamsuddin lalu masuk bursa cawapres. Bahkan kelompok relawannya, Jaringan Matahari, mendorong Din Syamsuddin menjadi Cawapres Jokowi, yang maju untuk periode kedua Presiden jokowi.

Din Syamsuddin menyatakan tersanjung didukung relawan untuk maju sebagai Cawapres. Ia juga menyatakan siap jika diminta mendampingi Jokowi sebagai cawapres di Pilpres 2019.

Namun kemudian, Presiden Jokowi tidak memilih Din Syamsuddin untuk menjadi Cawapres di Pilpres 2019. Jokowi lebih memilih dan menunjuk KH Ma’ruf Amin, yang merupakan Ketum MUI setelah Din.

Jokowi pun kembali terpilih sebagai presiden. Din tidak mendapat posisi apa-apa di kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin.

Din kemudian lebih dikenal beberapa kali tampil memberi kritikan terhadap kebijakan pemerintah. Salah satunya terkait kebijakan larangan shalat berjemaah di masjid ketika awal pandemi virus Corona (Covid-19) terkait kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). (https://smol.id/2020/08/19/kini-motori-kami-din-syamsuddin-dulu-siap-jadi-cawapres-jokowi/)

Terkait post power syndrome yang kerap datang saat karir meredup atau usia mengharuskan seseorang pensiun. Itu sebabnya, sindrom yang satu ini kerap dialami oleh mereka yang sebelumnya aktif bekerja atau punya jabatan cukup tinggi.

Baca Juga :  Nasehat Emas Habib Umar bin Hafidz, Memiliki Kekuatan dalam Renungan

Tahukah anda bahwa post power syndrome merupakan sebuah gangguan psikologis yang dialami oleh seseorang yang biasanya masih terbayang-bayang dengan berbagai hal hebat dan besar yang pernah dilakukan sebelumnya.

Hal-hal ini masih sering terpikirkan sehingga akan membuat penderitanya akan kesulitan untuk menerima realita hidup di masa sekarang.

Post power syndrome kerap didapatkan oleh para orang tua, khususnya orang tua yang memiliki karir, jabatan, atau bahkan pengalaman hebat saat masih dalam usia yang aktif sehingga saat mereka kini hidup di masa pensiun yang kurang begitu menyenangkan dan cenderung membosankan, mereka kurang bisa menerima realita ini. (*)

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda