Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Kamp Pengungsi Suriah, Wanita dan Anak Australia Diculik

Kamp Pengungsi Suriah, Wanita dan Anak Australia Diculik

Page Visited: 469
Read Time:1 Minute, 45 Second

Wanita dan Anak-anak Warga Australia Diculik dari Kamp Pengungsi Suriah

AL HAWL – Warga Australia yang terdiri dari para wanita dan anak-anak eks penduduk negara khilafah ISIS diculik dari kamp pengungsi Al-Hawl yang dikelola Kurdi di Suriah timur laut.

Penculikan itu berlangsung pada Sabtu tengah malam oleh kelompok pria bersenjata yang tiba di kamp itu. Mereka mengikat tangan empat wanita dan sepuluh anak yang semuanya warga Australia eks anggota ISIS. Mereka dipaksa masuk mobil van dan dibawa pergi dari kamp itu.

Baca juga : Fakta Sebenarnya Konflik Suriah yang Disembunyikan Media Radikal

Lembaga amal asal Inggris, Save the Children memperingatkan aksi penculikan itu. Direktur Australia Save the Children Mat Tinkler menyatakan insiden itu digambarkan sangat mengkhawatirkan.

“Kami sangat menyesalkan kejadian itu. Mereka diambil dari kamp itu,” kata Tinkler.

Adapun para penculiknya tak diketahui dan belum diketahui afiliasinya dengan kelompok mana pun, dia menjelaskan, “Kami tidak tahu keberadaan mereka saat ini, jadi kami sangat khawatir dengan kondisi mereka.”

Baca Juga :  5 Negara Pemegang Hak Veto Serukan Gencatan Senjata di Yaman

Kamp Al-Hawl merupakan satu dari banyak kamp yang dikontrol dan dijaga Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang dipimpin suku bangsa Kurdi dan Unit Proteksi Rakyat (YPG).

Tak Ada Prospek warga Australia Kembali ke Negara Asalnya

Kamp itu menampung puluhan ribu anggota keluarga mantan pejuang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Banyak dari mereka yang ditahan di kamp itu adalah warga negara asing yang lari ke Suriah dari negara asalnya untuk bergabung ISIS atau mereka yang lahir di Suriah dari orang tua warga asing itu.

Baca juga : Perang Suriah Terbaru: Tentara Suriah Bersiap Hadapi Serangan Baru ISIS

Di kamp Al-Hawl menampung sekitar 70.000 pengungsi, dengan sekitar 20 wanita dan 47 anak Australia.

Tinkler menambahkan, meski motif para penculik masih tak diketahui, dia yakin pelakunya telah diizinkan oleh milisi Kurdi. “Ini mungkin mengindikasikan mereka dipindah ke tempat lain,” kata dia.

Juru bicara pemerintah Australia menyatakan mereka terus memantau situasi itu. Meski demikian, prospek warga Australia itu kembali ke negara asalnya tak akan terjadi.

Baca Juga :  Prancis Tutup Masjid di Paris, Buntut Aksi Radikal Pemenggelan Kepala Guru

“Kemampuan kita untuk memberi bantuan konsuler dan bantuan paspor pada warga Australia di Suriah dan Irak tetap sangat terbatas karena situasi keamanan yang sangat berbahaya,” ujar Tinkler. (qa/ummatina)

Bagikan ini :