Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Kaum Radikal, Kenapa Banyak dari Kalangan Eksakta

Kaum Radikal, Kenapa Banyak dari Kalangan Eksakta?

Page Visited: 1331
Read Time:2 Minute, 24 Second

Dulu saya punya teman Facebook yang pada awalnya sangat anti dengan radikalisme Wahhabiyah. Ketika itu tahun 2012 dia baru jadi mahasiswa semester pertama fakultas kedokteran di Univeritas Negeri di Surabaya. Dilihat dari pemahamannya yang cenderung Aswaja, sepertinya dia selama masih di kampung dia hidup di lingkungan tradisi nahdhiyyin.

Dia sangat militan menghujat paham Wahhabi, bahkan menurut saya, dia terlalu kelewatan dan tanpa dasar pengetahuan yang cukup tentang Wahhabisme. Setiap ada postingan terkait paham Wahhabi dishare, pasti dia antusias memberi komentar dengan nada menghujat. Sehingga kesannya hanya mengandalkan semangat tinggi sebagai kaum aswaja tanpa dibarengi dengan keilmuan yang cukup. Begitulah awalnya, yang saya tahu.

Seingat saya, dia seperti itu sampai tahun 2013. Karena sejak itu saya tidak menyimak lagi sepak terjangnya. Sering status atau postingannya muncul di wall FB saya, tapi saya tidak tertarik untuk membacanya. Hingga tahun 2016-an saya mulai terusik karena dia membuat status yang rasanya beda.

Baca Juga :  Syekh Ali Jum’ah: Kini Banyak Penceramah Tak Kompeten Tapi Pengikutnya di Mana - Mana

Dia membuat status menyerang pemerintah atau mencelanya, intinya dia selalu sinis dengan setiap kebijakan pemerintah. Dalam pandangan saya, dia berubah jadi radikal. Dan ternyata paham keagamaannya juga sudah berubah. Ya, berubah menjadi rasa Wahhabi. Sampai akhirnya saya jadi sering bersitegang dengannya mendiskusikan persoalan yang dipostingnya. Sampai kemudian mencoba mengingatkan bahwa dia dulu sangat Aswaja tapi kenapa sekarang menjadi Wahhabi banget.

“Kamu kayaknya kuwalat dengan Wahhabi. Mungkin kamu dulu selalu menghujat Wahhabi dengan tanpa ilmu alias ngawur, sehingga kamu kuwalat akhirnya menjadi pengikut Wahhabi. Sing sopo modo bakal jodo.” Kata saya mencoba mengingatkan dengan keras. Sing sopo modo bakal jodo, artinya siapa yang terlalu mencela akan jadi jodohnya.

Tapi kemudian teguran saya itu membuatnya murka dan memutus pertemanan dengan saya di Facebook. Sejak itu saya sudah tidak bisa melihat postingan-postingannya di wall saya. Oh ya, terakhir saya tahu dia sudah menjadi dokter di lingkungan TNI Angkatan Udara. Mungkin sudah sembuh dari virus radikalisme.

Baca Juga :  Pelajaran dari Hilangnya Makam Ki Bagus Hadikusumo

Kenapa Kaum Radikal Banyak dari Kalangan Eksakta, Inilah Jawaban Ayik Heriansyah:

Ada pertanyaan klasik di kalangan pengamat gerakan Islam. Kenapa gerakan Islam lebih mudah diterima di kalangan maha siswa eksakta (Kedokteran, MIPA dan teknik) dibandingan maha siswa jurusan agama, humaniora dan sosial politik?

Respon sementara saya. Sebab pola indoktrinasi gerakan Islam seirama dengan cara berpikir saintis yang menyatukan fakta empiris dengan realitas. Apa yang dilihat dan didengar dari “ustadz” mereka itulah realitas. Tidak ada fakta/realitas lain selain itu. Itulah yang rasional. Lalu menjadikannya selaku kebenaran mutlak dan “syar’i.”

Adapun mahasiswa jurusan agama, humaniora, sosial dan politik menganggap ada sesuatu di balik apa yang dilihat dan didengar. Mereka Melepaskan fakta dengan realitas. Bagi mereka fakta selaku jalan untuk mengetahui realitas sesungguhnya. Lalu menjadikan realitas di balik fakta selaku objek kajian.

Sebab itu mereka tidak dapat menerima begitu saja indoktrinasi yang diberikan. Mereka menampung lalu menganalisa dan membangun pengetahuannya sendiri mengenai hal realitas di balik fakta yang bisa jadi tak sama dengan narasi yang didoktrinkan untuk mereka.
Ayik Heriansyah*
Sumber: https://www.facebook.com/100047208737142/posts/166696711580619/

Bagikan ini :