Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Keluarga Korban Bom Bali Anggap Abu Bakar Baasyir Tetap Berbahaya

Keluarga Korban Bom Bali Anggap Abu Bakar Baasyir Tetap Berbahaya

Page Visited: 2548
Read Time:1 Minute, 31 Second

Abu Bakar Baasyir Bebas, Keluarga Korban Bom Bali: Tetap Bahaya, Bunuh 202 Orang

Keluarga korban Bom Bali menilai Abu Bakar Baasyir tetap berbahaya setelah melakukan serangkaian tindakan pembunuhan atas nama ‘jihad’. Hal itu dikatakan keluarga dari korban yang tewas dalam peristiwa bom Bali tahun 2002.

Abu Bakar Baasyir bebas hari Jumat (8/1/2021). Abu Bakar Baasyir dipenjara karena sebagai pemimpin spiritual Jemaah Islamiyah, kelompok yang melakukan serangan di Kuta Bali dan menewaskan 202 orang, 83 di antaranya warga Australia.

Putra dari Sandra Thompson, Clint Thompson yang berusia 29 tahun adalah salah satu dari 88 warga Australia yang tewas dalam ledakan bom Bali tersebut.

Sandra Thompson mengatakan bahwa Abu Bakar Baasyir adalah salah orang yang harus bertanggung jawab atas ledakan di kawasan Kuta yang terjadi 18 tahun lalu.

“Dia tidak membunuh satu orang, dia membunuh 202,” katanya.

baca juga: Bebas Murni, Ini Profil Abu Bakar Baasyir yang Terjerat Terorisme

Baca Juga :  Bocah Penderita Lumpuh Otak Ini Hafal 30 Juz Alquran

Clint Thompson ketika itu sedang berada di Bali untuk merayakan masa berakhirnya kompetisi rugby bersama timnya Coogee Dolphins.

Mereka berada di Sari Club ketika terjadi ledakan yang menewaskan enam anggota tim rugby tersebut.

Dalam waktu yang bersamaan juga terjadi ledakan bom di Paddy’s bar dan di luar konsulat Amerika Serikat di Denpasar.

Serangan itu juga membuat 209 orang lainnya mengalami cedera dan merupakan peristiwa di mana warga Australia menjadi korban terbanyak dalam sebuah serangan teror.

Tahun 2008 Abu Bakar Baasyir dipenjara dengan tuduhan berkomplot melakukan serangan di Bali, namun hukuman tersebut dibatalkan di tingkat banding.

Baca juga: Kasus Baasyir, HRS, dan Bahar Smith Bukan Kriminalisasi Ulama

Sandra Thompson mengatakan meski peristiwa ledakan bom Bali itu sudah terjadi 18 tahun yang lalu, Baasyir masih tetap berbahaya.

“Dia akan kembali mengajarkan apa yang diajarkannya sebelumnya,” kata Sandra.

“Dia tidak pernah mengatakan menyesal, dia tidak pernah meminta maaf. Dia masih berpikir dia melakukan hal yang benar. (*)

Bagikan ini :