Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Prof Oman Fathurahman - Nusantara Bukan Bagian dari Khilafah Turki Utsmani

Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Bukan Bagian dari Khilafah Turki Utsmani

Page Visited: 812
Read Time:2 Minute, 45 Second

Benarkah klaim-klaim yang ada di dalam Film Jejak Khilafah di Nusantara?

“Pada awal Mukarram tahun ini telah diluncurkan film dokumenter tentang Jejak Khilafah di Nusantara. Di YouTbe banyak beredar film Jejak Khilafah ini. Dalam film dikatakan bahwa kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara adalah bagian dari wilayah kekholifahan Turki Utsmani. Benarkah klaim-klaim yang ada di dalam film Jejak Khilafah di Nusantara?”

Berikut ini jawaban dari Prof Oman Fathurahman Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga mencerahkan kita semua….

Film Jejak Khilafah di Nusantara, Kesultanan di Nusantara Bukan Bagian dari Khilafah Turki Utsmani.

Prof Oman Fathurahman Menegaskan Bahwa Kerajaan-kerajaan Islam di Nusantara Bukan Bagian dari Kekholafahan Turki Utsmani

Akademisi yang akrab disapa Kang Oman itu menjelaskan, kesultanan yang ada di wilayah Nusantara merupakan kelanjutan dari kerajaan-kerajaan yang sudah ada di masa pra Islam. “Kesultanan Islam berdasarkan referensi dalam manuskrip Islam dan pra Islam itu bahkan kelanjutan dari kerajaan masa pra Islam,” katanya.

Guru Besar Filologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tersebut menegaskan bahwa wilayah Nusantara bukanlah bagian dari Turki Utsmani. Hal itu ia sampaikan saat berbincang langsung dengan Pemimpin Redaksi Historia.id di kanal YouTube-nya, Selasa (25/8/2020).

Baca Juga :  Dengan KAMI Gatot Nurmantyo Berat Jadi Capres, Kata Pengamat Politik

Baca juga : Kesultanan di Nusantara Bukan Jejak Khilafah Seperti yang Dipropagandakan HTI

Namun, jika disebutkan ada kontak diplomatik antara kerajaan-kerajaan di Nusantara dengan Turki Utsmani itu, menurut dia, bisa dibenarkan. Bahkan, ia mengaku punya bukti yang cukup banyak untuk wilayah Melayu. Namun, klaim Nusantara bagian dari wilayah Utsmani itu menurutnya tidak benar.

“Kalau mengklaim Nusantara adalah bagian dari khilafah Utsmaniyah itu persatuan Islam dunia yang sudah dimusnahkan 1924, saya kira terlalu mengglorifikasi,” ujar Kang Oman.

Lebih lanjut, alumnus Pesantren Cipasung Tasikmalaya itu menjelaskan, memang Kesultanan Aceh pernah meminta diri menjadi bagian dari Turki Utsmani. Namun, pengajuan tersebut ditolak oleh pihak yang diajukan. Mengutip penjelasan Ismail Haqqi, ia menyebut alasan mendasar penolakan tersebut, yakni jarak yang cukup jauh dan ketiadaan keuntungan langsung.

“Secara jarak sangat jauh. Tidak ada keuntungan langsung yang bisa didapatkan oleh Turki Utsmani. Kalau ngurusi Aceh, salah satu keberatannya jarak yang jauh,” ungkap Kang Oman.

Di samping itu, hasil rapat para pejabat Turki Utsmani yang khusus membahas proposal Aceh itu juga beralasan akan adanya pengajuan-pengajuan dari wilayah lainnya.” Kalau Aceh minta, nantinya yang lain minta juga. Sebagai saudara, membantu iya,” ujarnya.

Baca Juga :  Dua Kesalahan Kelompok Pro Khilafah, Apa Saja?

Saat itu, Aceh meminta bantuan Turki Utsmani untuk melawan Portugis dan Belanda. Pengajuan bantuan itu dilakukan karena melihat kerajaan tersebut merupakan negara superpower di masa itu. Berdasarkan hal tersebut, Kang Oman melihatnya lebih pragmatis, bukan sentimen atas nama persatuan Islam.

“Saya kira lebih ke situ ya. Kalau memang sentimennya persatuan Islam mengapa tidak menjalin dengan semua kesultanan di Nusantara, satuin dulu. Tetapi, ini minta bantuannya ke pihak yang secara pragmatis bisa membantu,” terangnya.

Baca juga : Hizbut Tahrir Pernah Memaksakan Khilafah dengan Kudeta Militer

Permintaan bantuan Aceh itu, lanjut dia, dikabulkan oleh Turki Utsmani dengan adanya pengiriman tentara lengkap dengan persenjataannya untuk mengusir penjajah dari tanah kekuasaannya, dalam hal ini Portugis.

Namun, sekali lagi ia menegaskan bahwa Aceh sebagai sebuah kesultanan tersendiri tidak menjadi bagian dari Turki Utsmani. Sebab, tidak ada baiat yang dilakukan oleh Aceh kepada daulah tersebut.

“Jadi, sultan itu harus membaiat, sumpah setia, kepada sultan yang dianggap sebagai khalifah itu. Itu tidak terjadi dalam konteks Nusantara,” kata Staf Ahli Menteri Agama tersebut.

Baca Juga :  Buku Propaganda HTI Menyusup ke Sekolah Negeri

Perihal bukti ada hubungan antara Nusantara dan Utsmani, Kang Oman mengaku tidak meragukannya. Tetapi, soal bukti sistem negaranya, ia menegaskan tidak ada. (qa/ummatina)

Bagikan ini :