Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Kisah Ayah Berjuang Sembuhkan Anaknya dari Racun Doktrin Khilafah HTI

Kisah Ayah Berjuang Sembuhkan Anaknya dari Racun Doktrin Khilafah HTI

Page Visited: 4059
Read Time:4 Minute, 33 Second

Kisah Ayah Berjuang Sembuhkan Anaknya dari Racun Doktrin Khilafah HTI. Geram Anaknya Diracuni Doktrin “KHILAFAH”, Seorang Ayah Labrak Kelompok Pengajian HTI

Pemilik akun @Bengkeltanah1 membongkar kesesatan HTI yang telah meracuni anaknya ketika kuliah di salah satu PTN.

Akun @Bengkeltanah1 bercerita bagaimana perubahan putrinya sejak bergabung dengan HTI, dia sudah berani mengkritisi cara beribadah kedua orang tuanya bahkan menyinggung tentang khilafah.

Baca : Propaganda Khilafah HTI Bisa Jadi Bom Waktu di Indonesia

Berikut kultwit akun @Bengkeltanah1 yang membongkar kesesatan HTI:

‘HTI MERACUNI PTN’

  1. Sbg org tua saya sangat bangga ketika anak saya perempuan diterima di sebuah PTN ternama di Surabaya pada tahun 2015. Krn dia perempuan mk setiap brgkt kuliah saya antar jemput sendiri setiap hari. Pada masa awal kuliah semua berjalan baik2 saja.
  2. Memasuki bulan ke 3 masa kuliah anak saya mohon ijin u/ ikut kelompok pengajian di Kampus katanya. Saya berpikiran positif saja, mk saya ijinkan tp dng syarat ketua kelompok pengajian hrs ktm saya di rumah. Selang bbrp hari datanglah seorang perempuan berjilbab ke rumah.
  3. Kedatangannya u/ minta ijin mau mengajak anak saya u/ aktuf di kelompok pengajian yg dia adakan. Akhirnya saya ijinkan anak saya u/ ikut kelompok pengajian tersebut. Dalam seminggu kelompok pengajian berkumpul 1 – 2 kali di Masjid Kampus anak saya, stlh 1 minggu aktif
  4. Di kelompok pengajian tersebut mulai ada yg aneh dlm pribadi anak saya, dia sangat tekun Sholat 5 waktu dan sering berjilbab meski di dlm rumah, prilakunya jg sdh mulai berubah dan sering mengkritisi ibadah orang tua dan saudaranya, tp tetap saya biarkan dan ikuti terus apa mau.
  5. Kemudian tempat kelompok pengajian mulai berpindah dr satu tempat ke tempat lain, dng jumlah peserta 5 – 10 mahasiswi, tetap saya ikuti dng sabar. Masuk minggu ke 2 kepribadian anak saya mulai berubah krn lbh fokus ke pengajian drpd kuliah, saya msh sabar dan ikuti.
  6. Minggu ke 3 kelompok pengajian yg diikuti anak saya mulai diisi dng ceramah agama, dan ada penceramahnya. Sekilas saya melihat Si penceramah bukanlah mahasiswi semester 1, krn penampilannya agak beda dng yg lain. Krn saya menunggu di luar samar2 terdengar materi ceramah.
  7. Tidak hanya masalah agama saja tp sdh membicarakan ttg kemayarakatan dan pemerintahan. Di sini saya mulai tdk nyaman, tp saya mencoba bijak dan terdiam. Dlm hati saya mengatakan kelompok pengajian ini tdk baik. Sbg ortu saya tetap berkewajiban membimbing anak saya.
  8. Setelah sampai di rumah mulai saya bicara dr hati ke hati dng anak saya ttg pengajian yg dia ikuti. Semua hal yg baik sesuai agama saya terima dng bijak, saya kaget ketika anak saya mulai bicara Khilafah, sbg ortu saya hrs tetap sabar. Pembicaraan akhirnya saya alihkan.
  9. Ke arah pendidikan, saya katakan dng lembut kpd anak saya ”kamu pilih belajar ilmu umum sesuai keinginan dan cita2 mu ato kamu mau belajar ilmu agama” sambil tetap tenang saya sampaikan bahwa ortu banting tulang buat biaya kamu kuliah agar kamu sukses. Lama anak saya terdiam.
  10. Akhirnya sambil menangis dia menyatakan saya tetap ingin belajar ilmu umum sampe lulus nanti. Dari sini saya baru punya keberanian masuk lbh dlm bertanya kpd anak saya ttg kelompok pengajian tsb. Ternyata kelompok pengajian tersebut dimentori oleh orang HTI. Dan selalu bergerak.
  11. Dari satu kampus ke kampus lainnya, melalui kelompok2 kecil 5 – 10 org. Mereka yg sdh fasih pemahamannya akan bertemu kelompok lain yg levelnya lbh tinggi. Dan akhirnya akan dilibatkan dlm suatu kelompok pengajian umum dlm suatu acara dan tempat yg mereka tentukan
  12. Pembicara dlm ceramah umum menghadirkan orang2 senior di HTI. Disinilah racun mulai ditebar kpd kelompok2 pengajian yg telah direkrut sbg kader mudah dr kaum intelektual . Tepat pada akhir minggu ke 4 saya minta kpd anak saya u/ bertemu dng temannya perempuan yg prnh dtg.
  13. Ke rumah bln lalu, anak saya bersedia. Besok nya saya temuai perempuan itu di sebuah Masjid di dlm kampus dan saya ajak dialog dr hati ke hati ttg anak saya dan kelompok pengajian tsb. Dia saya giring agar mempertemukan saya dng pimpinan di atas nya, alhamdulillah bersedia.
  14. Singkat cerita saya bertemu pimpinan ato senior dia di sebuah tempat. Terjadilah perdebatan antara saya dng mereka 3 orang, mereka menyerang saya dr sisi agama tetap saya dengarkan saja, intinya mereka mengatakan ”kami mengajar anak bapak ttg ajaran Khilafah“
  15. Di sini saya mulai geram, saya berdiri dan tatap mata mereka satu per satu, saya hormati kelompok pengajian ini, tp tolong hormati hak saya sbg ortu u/ mendidik anak saya dng ilmu pengetahuan umum bkn dng ilmu agama, krn anak saya kuliah di Pergurun Tinggi Negeri.
  16. Mereka tetap ceramah agama di dpn saya ttg Khilafah tp tdk saya hiraukan. Lalu saya mencoba tenang, saya tanya satu per satu apakah mereka belajar di Kampus yg sama dng anak saya. Saya semakin emosi ketika ada salah satu yg menyatakan dia dr Kampus yg berbeda. Di sinilah saya emosi.
  17. Saya maki2 semuanya ”kalian mahasiswa bajingan semua berani meracuni anak saya dng doktrin ajaran sesat” Ayo tunjukkan kpd saya siapa pemimpin mu di sini ? Akhirnya ada seorang pemuda mungkin seniornya mencoba meredahkan emosi saya, dia mengatakan ”silakan anak bapak tidak ikut kelompok pengajian ini.
  18. Akhirnya mereka minta ma’af kpd saya dan anak saya. Setelah kejadian itu kelompok pengajian di Kampus anak saya tdk ada kegiatan. Tp tetap saya pantau anak saya agar tdk didekati oleh kelompok mereka. Sejak itu saya berpikiran bahwa msh Banyak Kampus PTN lain di seluruh Indonesia yg disusupi oleh org2 HTI.
  19. Pengkaderan ini sangat berbahaya krn merekrut anak2 mahasiswa PTN yg memiliki kecerdasan intelektual di atas rata2. Alhamdulillah setelah tahun lalu Lulus anak saya sdh bekerja sesuai cita2 nya. (qa/ummatina/suaraislam)
Bagikan ini :