Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Pasukan Rusia Lihat Mayat-mayat Tentara Armenia Bergelimpangan di Jalan

Mayat-mayat Tentara Armenia Bergelimpangan di Jalan, Pasukan Rusia Jadi Saksinya

Page Visited: 678
Read Time:3 Minute, 35 Second

SHUSHA – Mayat-mayat tentara etnik Armenia bergelimpangan di jalan-jalan di Nagorno-Karabakh saat pasukan penjaga perdamaian Rusia memasuki wilayah itu dengan kendaraan militer.

Konvoi truk dan kendaraan pengangkut tentara Rusia tampak masuk ke wilayah itu setelah kesepakatan damai antara Armenia dan Azerbaijan.

Rusia mengerahkan hampir 2.000 tentara bersama sejumlah tank dan kendaraan lapis baja lainnya untuk mengamankan gencatan senjata yang disepakati pekan ini setelah perang enam pekan di daerah kantong etnis Armenia di Azerbaijan itu.

Skala kehancuran akibat perang itu terlihat jelas pada Jumat di Nagorno-Karabakh. Situasi juga menunjukkan keputusasaan tentara Armenia dalam perang itu.

Satu pasukan Rusia, didampingi wartawan Reuters dari perbatasan Armenia, melewati sekitar seratusan jasad tentara etnis Armenia yang berserakan di pinggir jalan.

Terlihat satu jasad tentara terbaring sujud di tengah jalan saat konvoi Rusia tersebut mendaki bukit.

Mobil-mobil, pecahan peluru, dan mobil van berserakan di pinggir jalan serta satu tank yang terbakar dan kendaraan militer lainnya yang rusak.

Beberapa mayat tergeletak di dalam mobil ambulans militer yang dipenuhi peluru. Salah satu kaki tentara yang mati itu dibalut perban, orang mati lainnya membawa tourniquet yang tampaknya untuk mengobati temannya.

Baca Juga :  China-India Setuju Hentikan Pengiriman Pasukan ke Perbatasan Himalaya

Beberapa batu nisan di pinggir jalan rusak, dan beberapa kendaraan yang dipenuhi peluru memiliki gambar grafiti, termasuk Swastika. Tidak jelas siapa yang menggambar grafiti.

Di Lachin, lebih dekat ke Armenia, sekelompok pria etnis Armenia mengatakan mereka telah berjuang mempertahankan Nagorno-Karabakh. Mereka mengku tidak senang dengan kesepakatan damai tersebut.

Salah satu dari mereka, Suren Zarakyan, 50, mengatakan dia telah pindah ke wilayah Lachin dari Yerevan, ibu kota Armenia, pada 1990-an setelah orang-orang Armenia mengambil wilayah itu dalam perang pertama di Nagorno-Karabakh.

Dia merasa malu ketika mendengar tentang perjanjian gencatan senjata, yang membekukan perolehan wilayah Azerbaijan dan membuka jalan bagi penempatan pasukan Moskow di daerah tersebut.

“Saya mengharapkan lebih banyak dari Rusia dan lebih cepat,” ujar dia. “Tapi Rusia tertarik dengan pangkalan dan tujuannya. Tidak masalah apakah itu di Azerbaijan atau di Armenia. Mereka tertarik untuk tidak membiarkan orang Turki di sini.”

Terapkan Bumi Hangus, Armenia Bakar Rumah Sebelum Serahkan Desa ke Azerbaijan

CHAREKTAR – Masih memakai seragam kamuflase untuk bertempur melawan pasukan Azerbaijan sepekan lalu, etnis Armenia Arsen menyalakan api di bawah meja ruang makan saudara perempuannya di desa kecil Charektar.

Baca Juga :  Capres Biden kepada Trump: "Inshallah, Kita Akan Lihat Pajak Anda"

Saat apinya membesar dengan bantuan potongan kertas, dia menggunakan kursi kayu untuk menghancurkan jendela-jendela agar api segera menghabiskan seluruh rumah.

“Mereka sudah akan berada di sini besok pagi. Etnis Azeri (Azerbaijan). Persetan. Biarkan mereka tinggal di sini, jika mereka bisa,” ujar dia, saat api mulai membakar rumah tersebut.

Di sebelah, asap abu-abu mengepul dari sisa-sisa rumahnya sendiri yang hangus terbakar.

Orang-orang etnis Armenia melakukan bumi hangus saat jam terus berdetak menuju penyerahan wilayah itu ke Azerbaijan sesuai kesepakatan perdamaian yang ditengahi Rusia.

Kesepakatan damai itu mengakhiri enam pekan pertempuran antara pasukan etnis Armenia dan pasukan Azerbaijan di daerah Nagorno-Karabakh dan sekitarnya.

Terletak di pegunungan, Charektar adalah desa kecil di distrik Kalbajar di Azerbaijan, yang berbatasan dengan Nagorno-Karabakh.

Wilayah itu diakui secara internasional sebagai bagian Azerbaijan, tetapi telah dikendalikan etnis Armenia sejak perang di Nagorno-Karabakh pada 1990-an. Pada Minggu, Azerbaijan akan kembali dan mengambil kendali atas daerah tersebut.

Arsen, 35, mengatakan dia dan etnis Armenia lainnya tidak ingin meninggalkan sesuatu yang berguna untuk Azerbaijan. “Mereka harus membangun rumah sendiri dari awal,” tegas dia.

Baca Juga :  Seluruh Sekolah di Seoul Ditutup karena Virus Corona Mewabah Lagi

Wartawan Reuters melihat enam rumah, sekitar setengah desa, terbakar di Charektar pada Sabtu.

Seorang pria, yang menolak menyebutkan namanya, mengatakan orang-orang Armenia mengangkut semua yang mereka bisa saat truk di dekatnya memuat barang-barang rumah tangga.

Beberapa penduduk Armenia mengunjungi daerah itu pada Sabtu untuk melihatnya, mungkin untuk yang terakhir kalinya, dan menyaksikan desa terbakar.

Seorang wanita Armenia menangis saat melihat pemandangan itu.

Arsen mengatakan dia telah mengetahui kesepakatan damai dari pejuang lain.

“Mereka menelepon saya dan berkata, ‘Pulanglah dan bawa semua yang Anda miliki. Mereka (suku Azeri) harus memasuki wilayah itu paling lambat tanggal lima belas (November),” kenang dia.

Dia dan istrinya berencana pergi bersama keempat anak mereka ke Armenia dan menyewa flat di sana.

Ditanya mengapa dia dan penduduk desa lainnya takut untuk tetap tinggal, dia berkata mereka takut Azerbaijan akan membunuh mereka. “Pernahkah Anda melihat orang Armenia dan Azeri tinggal bersama?” ujar dia.

“Kami meninggalkan semua batu nisan (kerabat kami) di sini. Mimpi buruk bukanlah kata yang tepat untuk ini,” pungkas dia. (*)

Bagikan ini :