Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Simpatisan FPI Di Tangkap Polda Kalteng Unggah Ujaran Kebencian Di Medsos

Memiliki 35 Akun Medsos, Simpatisan FPI Di Tangkap karena Unggah Ujaran Kebencian

Page Visited: 1217
Read Time:1 Minute, 28 Second

PENDUKUNG FPI PUNYA 35 AKUN UNTUK MEMFITNAH PEMERINTAH & POLRI

FA simpatisan FPI ditangkap Polda Kalteng karena unggah ujaran kebencian di medsos.

Seteleh menyebar ujaran kebencian di media sosial, Ditreskrimsus Polda Kalteng membekuk pelaku berinisial FA (30) di Jalan Bukit Tinggi Kelurahan Beriwit Kecamatan Murung Kabupaten Murung Raya, Kalteng, Selasa (15/12/2020) lalu.

Hal tersebut disampaikan Kapolda Kalteng Irjen Pol. Dr. Dedi Prasetyo, M.Hum., M.Si., M.M., melalui Kabidhumas Kombes Pol. Hendra Rochamawan, S.I.K., M.H., ketika press release tindak pidana UU ITE di Aula Ditreskrimsus Mapolda Jalan Tjilik Riwut Km 01 Kota Palangka Raya, Rabu (23/12/2020) pagi.

“Postingan yang berhasil ditemukan di IG atas nama sry_mutmut_zee ini terbukti melakukan tindak pidana di bidang ITE & memenuhi unsur SARA,” kata Kabidhumas yang didampingi Dirreskrimsus Kombes Pol Pasma Royce, S.I.K., M.H.

Sementara itu di tempat sama, Dirreskrimsus menerangkan, dalam media sosial ia menjiplak akun milik orang lain tsb, banyak ditemukan postingan isinya mengandung kebencian kepada pemerintah, masyarakat bahkan salah satu ulama terkenal yaitu Abah Guru Sekumpul.

Baca Juga :  Pembela Islam Gaya Komunis, Penjelasan Ayik Heriansyah

“Dari hasil interograsi yang kami lakukan, diperoleh informasi bahwa FA ini adalah seorang simpatisan dari Front Pembela Islam (FPI). Tidak hanya foto tetapi dalam bentuk video berikut captionnya mengandung kata² kebencian,” terangnya.

Pemuda tsb adalah seorang warga yg tidak pernah bersosialisasi ke lingkungan masyarakat tetapi media sosial merupakan tempatnya berkomunikasi selama ini.

“Terbukti, dari seorang FA, kami telah menemukan 35 akun dari sejumlah HP yg dimilikinya,” jelasnya

Atas perbuatannya, lanjut Dirreskrimsus, pihaknya akan menjerat pelaku pasal 45 ayat (2) jo pasal 28 ayat (2) UURI nomor 19 tahun 2016 perubahan atas Undang Undang RI nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi & Transaksi Elektronik. “Pidana penjara paling lama enam tahun atau denda maksimal berjumlah Rp. 1 Miliar,” pungkasnya.

Bagikan ini :