Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Mencegah Radikalisme di Kalangan Pemuda

Page Visited: 895
Read Time:2 Minute, 42 Second

Mencegah Radikalisme Berkembang di Kalangan Generasi Muda

Masa muda identik dengan masa pencarian jati diri. Hal tersebut dapat berakibat terhadap tingginya kerentanan penyebaran radikalisme di kalangan pemuda. Oleh karena itu, mereka perlu perhatian intens agar tidak terpapar paham yang bertentangan dengan ideologi Pancasila dan nilai-nilai kemanusiaan.

Kelompok teroris menyadari problem psikologis generasi muda. Kelompok teroris memang mengincar mereka yang selalu merasa tidak puas, mudah marah dan frustasi baik terhadap kondisi sosial maupun pemerintahan. Mereka juga telah menyediakan apa yang mereka butuhkan terkait ajaran pembenaran, solusi dan strategi meraih perubahan, dan rasa kepemilikan. Kelompok teroris juga menyediakan lingkungan, fasilitas dan perlengkapan bagi remaja yang menginginkan kegagahan dan melancarkan agenda kekerasannya.

Sangat memperihatinkan ketika melihat berbagai fakta yang mempertontonkan kedekatan pemuda dengan budaya kekerasan. Kehadiran Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) menjadi momok baru yang menakutkan bagi kalangan generasi muda dengan berbagai provokasi, propaganda dan ajakan kekerasan yang menggiurkan. Sejak kemunculannya menghentakkan situasi keamanan bangsa ini, ISIS setidaknya telah mampu menggetarkan gairah anak muda untuk ikut terlibat dalam gerakan politik kekerasan di Suriah. Beberapa contoh yang bisa disebutkan adalah meninggal di Irak saat bergabung dengan ISIS.

Baca Juga :  Katakan Tidak pada Radikalisme, Katakan Tidak Kepada Terorime

Baca juga : Radikalisme dan Terorisme Merajalela Ketika Kaum Moderat Memilih Diam

Wildan merupakan santri di Pondok Al Islam di Tenggulun, Lamongan, yang dikelola oleh keluarga Amrozi terpidana bom Bali 2002. Dalam usianya yang masih belia pemuda asal Lamongan ini memilih mengkahiri hidupnya di tanah penuh konflik. Tidak hanya dari kalangan laki-laki, Asyahnaz Yasmin (25 tahun), termasuk satu dari 16 warga negara Indonesia yang ditangkap pemerintah Turki. Gadis asal Bandung ini setelah dipulangkan ke Indonesia, ia ditolak keluarganya dan bupati setempat. Kemensos RI pun menampungnya kembali di rumah perlindungan dan trauma centre. Dan tentu saja masih banyak cerita lainnya.

Fakta-fakta tersebut memperlihatkan bagaimana kerentanan kalangan generasi muda dari keterpengaruhan ajaran sekaligus ajakan yang disebarkan oleh kelompok radika baik secara langsung maupun melalui media online yang menjadi sangat populer akhir-akhir ini.

Membentengi generasi muda dari ajaran radikalisme

Karena itulah, upaya membentengi generasi muda dari keterpengaruhan ajaran dan ajakan kekerasan menjadi tugas bersama. Ada tiga institusi sosial yang sangat penting untuk memerankan diri dalam melindungi generasi muda.

Baca Juga :  Sertifikasi Ulama, Hanya di Indonesia Sertifikasi Ulama Ditentang Ulama

Pertama Pendidikan, melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda.

Kedua, Keluarga, melalui peran orang tua dalam menanamkan cinta dan kasih sayang kepada generasi muda dan menjadikan keluarga sebagai unit konsultasi dan diskusi.

Ketiga, komunitas: melalui peran tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat dalam menciptakan ruang kondusif bagi terciptanya budaya perdamaian di kalangan generasi muda.

Baca juga: Awas! Radikalisme Terus Berusaha Mengikis Nasionalisme Kita

Selain peran yang dilakukan secara institusional melalui kelembagaan pendidikan, keluarga dan lingkungan masyarakat, generasi muda juga dituntut mempunyai imuntas dan daya tangkal yang kuat dalam menghadapi pengaruh dan ajakan radikal terorisme.

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan sendiri oleh kalangan generasi muda, dalam rangka menangkal pengaruh paham dan ajaran radikal, yakni:

1). Tanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI,
2). Perkaya wawasan keagamaan yang moderat, terbuka dan toleran,
3). Bentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan dan pola rekruitmen teroris baik di lingkungan masyarakat maupun dunia maya,
4). Membangun jejaring dengan komunitas damai baik offline maupun online untuk menambah wawasan dan pengetahuan dan
5). Bergabunglah dengan komunitas yang antusian menyuarakan perdamaian dan cinta NKRI. (*)

Bagikan ini :