Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Mengenal 5 Strategi Kaum Radikal Kuasai Indonesia

Mengenal 5 Strategi Kelompok Radikal Kuasai Indonesia

Page Visited: 753
Read Time:2 Minute, 8 Second

Mengenal 5 Strategi Kelompok Radikal dalam Upaya Menguasai Indonesia

JAKARTA – Dalam riset yang diterbitkan bentuk buku berjudul Wajah Para Pembela Islam (2010), Setara Institute Jakarta menyebutkan bahwa berbagai kelompok Islam radikal telah menyusun strategi dan taktik yang lebih canggih dalam pergerakan mereka. Pernah dimuat Harian Bernas pada 5 Agustus 2016.

Dengan berbagai aksi untuk mendapatkan simpati dari kelompok masyarakat Islam lainnya, kelompok radikal mengeksploitasi tema-tema seperti penistaan agama, ancaman PKI, ancaman Syiah, dll. Semua ini merupakan isu yang “marketable” untuk meraih simpati masyarakat Islam. Ini bertujuan juga untuk menghancurkan kelompok Islam lainnya tersebut.

Mengenal dan memahami strategi dan taktik kelompok radikal ini sangat penting agar pemerintah, para ulama, organisasi, serta masyarakat secara umum waspada akan gerakan mereka. Strategi tersebut adalah:

  1. Aliansi Politik
    Kelompok radikal membangun dukungan politik dengan politisi atau penguasa. Biasanya saat ada momen politik pemilu atau pilkada. Ada hubungan simbiosis mutulisme dalam aliansi ini.
  2. Cari Dukungan dari Tokoh dan Ormas Islam Moderat
    Dikarenakan jumlahnya sedikit, maka kelompok intoleransi tersebut membangun hubungan dengan tokoh agama atau ormas yang moderat. Mereka mengembangkan berbagai taktik, di antaranya adalah aktif melobi tokoh dan para habib serta berbagai ormas Islam untuk berjuang bersama-sama mereka.
  3. Infiltrasi MUI
    Sejak tahun 2005, kelompok radikal memandang memerlukan dukungan lembaga ulama yang memiliki otoritas tertinggi di Indonesia (MUI). Taktik yang dipakai adalah masuk menjadi pengurus ke MUI dan mendesakkan agenda radikal mereka atas nama MUI.
  4. Aksi Hukum dan Aksi Jalanan
Baca Juga :  Tetap Waspada Terhadap Perekrutan Teroris Melalui Jejaring Offline

Belakangan ini, kelompok Islam radikal mengembangkan strategi advokasi yang memadukan advokasi non-litigasi (di luar pengadilan) dengan advokasi litigasi (lewat pengadilan). Mereka tampaknya sadar bahwa tanpa sokongan produk hukum, perjuangan mereka akan sulit berhasil. Namun, mereka juga sadar bahwa untuk menghasilkan sebuah produk hukum yang pro agenda perjuangan mereka, diperlukan aksi-aksi jalanan agar bisa menekan aparat hukum dan pemerintah.

  1. Jaringan Aksi Antarkota
    Sudah sejak lama kelompok Islam radikal sudah mengembangkan strategi dengan membangun jaringan aksi. Mereka berusaha agar setiap aksinya didukung oleh kelompok lainnya. Tujuannya agar isu yang diperjuangkan menjadi lebih kuat gaungnya dan bisa menjadi agenda perjuangan bersama.

Mereka berpikir, dengan semakin bergaungnya aksi, dan makin banyaknya kelompok lain yang memperjuangkan, akan makin besar kemungkinannya untuk berhasil. Oleh karena itu, kelompok ini membangun taktik jaringan aksi antarkota.

Silakan dianalisis tulisan ini, hubungkan saja dengan kejadian saat ini, apakah ada kesesuaian atau tidak. Fenomena kasus penistaan agama di Jakarta hanyalah salah satu tragedi politik kotor yang dimainkan oleh beberapa kelompok radikal untuk terus tetap bergema.

Baca Juga :  Analis Politik: Gatot Nurmantyo Akan Bawa Gerakan KAMI untuk Proyeksi 2024

Gaungnya akan terus dipelihara dengan berbagai aksi untuk mendapatkan simpati dari kelompok masyarakat Islam lainnya. Tema penistaan agama, ancaman PKI, ancaman Syiah adalah isu yang “marketable” untuk meraih simpati masyarakat.

Bagikan ini :