Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Mengenal Ciri-ciri Ulama Menurut Habib Abdullah Al-Haddad, Yaman

Mengenal Ciri-ciri Ulama Menurut Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad, Yaman

Page Visited: 634
Read Time:1 Minute, 43 Second

Mengenal Ciri-ciri Ulama Menurut Imam Al-Habib Abdullah Al-Haddad, Yaman

Karena mendengar isu sertifikasi MUI yang viral, seorang teman bertanya :

Bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang bisa dianggap atau patut/ layak disebut ulama sehingga pantas masuk jadi pengurus MUI (Mejelis Ulama Indonesia)? Apa ciri-cirinya?

Baca juga : Sekjen MUI Anwar Abbas Ancam Mundur Tolak Sertifikasi Dai

Habib Abdullah Al-Haddad, dalam kitabnya yang sangat terkenal dan dijadikan sumber pengetahuan etika di pesantren, al-Nashaih al- Diniyyah, menyebut sejumlah tanda/indikator karakter ulama:

فمن علامات العالم : ان يكون خاشعا متواضعا خاءفا مشفقا من خشية الله زاهدا فى الدنيا قانعا باليسير منها منفقا الفاضل عن حاجته مما فى يده. ناصحاً لعباد الله. رحيما بهم أمرا بالمعروف ناهيا عن المنكر. مسارعا فى الخيرات ملا زما للعبادات . ووقار واسع الصدر لا متكبرا ولا طامعا فى الناس ولا حريصا على الدنيا ولا جامعا للمال ولا مانعا له عن حقه ولا فظا ولا غليظا ولا مماريا ولا مخاصما ولا قاسيا ولا ضيق الصدر ولا مخادعا ولا غاشا ولا مقدما للاغنياء على الفقراء ولا مترددا الى السلاطين”

Baca Juga :  Kesalahan Sistem Khilafah Menurut Ketum PP Muhammadiyah

“Tanda/ciri orang alim (ulama) antara lain : pembawaannya tenang, rendah hati (tawadhu’), selalu merasa takut kepada Allah, bersahaja, “nrimo”, suka memberi, membimbing umat, menyayangi mereka, selalu mengajak kepada kebaikan dan menghindari keburukan/maksiat, bersegera dalam kebaikan, senang beribadah, lapang dada, lembut hati, tidak sombong, tidak berharap pada pemberian orang, tidak ambisi kemegahan dan jabatan, tidak suka menumpuk-numpuk harta, tidak keras hat/keras kepalai, tidak kasar, tidak suka pamer, tidak memusuhi dan membenci orang, tidak picik, tidak menipu, tidak licik, tidak mendahulukan orang kaya daripada orang miskin, dan tidak sering-sering mengunjungi penjabat pemerintahan/penguasa”.

Jadi kalau seseorang tidak punya ciri-ciri itu, maka tidak bisa dan tidak patut disebut ulama, dus tidak pantas juga masuk jadi pengurus teras MUI (Majelis Ulama Indonesia).

Teman itu masih bertanya : “kalau Testing, bagaimana?”
Aku bilang, “Mudah : baca kitab berbahasa Arab “gundul”, I’rab dan Tasripan.”

Mendengar itu si teman terkekeh-kekeh saja.
Maaf ya?

Baca juga : Para Ulama Aswaja Angkat Bicara Soal Khilafah Hizbut Tahrir

Baca Juga :  Nasehat Imam Al-Haddad Soal Kematian Su'ul Khotimah

KH Husein Muhammad

Sumber: https://www.facebook.com/1106288500/posts/10223377693286324/

Bagikan ini :