Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

_Syaikh Adnan Afyouni dan habib Luthfi bin Yahya

Mengenal Para Syuhada Pejuang Perdamaian di Dunia Islam

Page Visited: 3641
Read Time:7 Minute, 4 Second

Para Pejuang Perdamaian yang Menjadi Syuhada’, dari Ahmad Kadyrov Hingga Syekh Adnan Al-Afyuni

Para Syuhada adalah mereka yang mati syahid karena berjuang di jalan Allah. Suasana damai dan upaya perdamaian adalah perintah Allah yang harus ditegagkkan, maka para pejuang perdamaian ini jika diniatkan beribadah kepada Allah jika dia mati dalam perjuangan tersebut layak baginya mendapatkan kematian sebagai mati syahid yang jaminannya adalah surga.

Jadi, jihad di jalan Allah itu bukan hanya sebatas perang membela agama Allah, tetapi berjuang menegakkan perdamaian juga adalah jihad di jalan Allah. Berikut ini adalah para Syuhada’ yang istiqomah berjuang menegagkkan perdamaian di dunia, khususnya di dunia Islam.

Ahmad Kadyrov

Ahmad Kadyrov

Ahmad Kadyrov, Mufti Ichkeria yang kemudian menjadi Presiden Cechnya pasca Perang Rusia-Cechnya jilid 1, gugur dalam ledakan bom saat parade militer, 2005. Pelakunya, militan pimpinan Shamil Basayev yang terafiliasi dalam jaringan Wahabi ekstremis. Basayev juga bertanggung jawab atas berbagai serangan dan penyanderaan warga sipil di Rusia.

Kadyrov dibunuh, karena dianggap antek Moskow setelah damai dengan Putin. Dia dijuluki anjing-nya Putin, karena keputusannya ini. Padahal, yang dia inginkan hanya kedamaian di wilayah yang dipimpinnya. Hal tersebut agar rakyat hidup tenang dan anak-anak bisa belajar Islam dengan lebih baik tanpa disibukkan dengan perang.

Kaderisasi ulama harus dijalankan daripada hanya mengundang milisi dari negara lain atas nama “ukhuwah dan jihad” untuk masuk ke negaranya, lantas ikut andil dalam suasana perang yang mencekam. Rakyat jadi korban. Dakwah macet dan pendidikan terbengkalai.

Ketika Ahmad Kadyrov menjadi pemimpin bangsanya, kombatan yang mengusung cita-cita berdirinya Negara Islam Cechnya melawannya. Mereka bergerilya dan pada saat yang dianggap tepat, meledakkan bom di Stadion Grozny. Mufti yang kemudian memimpin negara itu gugur.

Kemudian anaknya, Ramzan Kadyrov menggantikannya. Sama dengan ayahnya, dia dimusuhi oleh ekstremis seagamanya, hanya karena ingin menjaga stabilitas negaranya. Di tangan Ramzan yang eksentrik, dakwah di kawasan Kaukasus berkembang, pendidikan juga bagus, dan untuk menunjukkan stabilitas politik negaranya. Dia juga mengundang ulama dari berbagai negara untuk mengadakan kongres ulama Ahlussunah wal Jamaah beberapa tahun silam.

Kelompok muslim garis keras sewot, merasa tidak diundang. Selain itu, di berbagai website caci maki terhadap Ramzan dan Ahmad Kadyrov bertebaran. Dituduh musyrik, pengamal bid’ah, karena menyelenggarakan maulid Nabi secara besar-besaran di jantung kota Grozny. Dan tentu saja dituduh sebagai anjing peliharaan Putin gara-gara kedekatannya dengan bos besar Rusia.

Baca Juga :  Felix Siauw Contoh Ustadz Good Looking

Stabilitas politik di Cechnya harus ditebus dengan nyawa Ahmad Kadyrov lima belas tahun silam. Sampai saat ini, ekstremis bekas anak buah Shamil Basayev tetap berkeliaran. Sebagian kemudian berangkat ke Suriah bergabung dengan ISIS.

Syekh Burhanuddin Rabbani di Afganistan

Jika di Cechnya nyawa Kadyrov melayang. Di Afganistan giliran Syekh Burhanuddin Rabbani yang terbunuh. Beliau adalah ulama yang memimpin perlawanan bangsanya terhadap invasi Uni Soviet 1979-1990. Senioritas dan reputasi keilmuannya mambuatnya didapuk sebagai presiden Afghanistan 1992-1996. Namun, ketika Kabul dikuasai milisi Taliban, beliau terusir dari negaranya.

Syekh Burhanuddin Rabbani Bersama Gus Mus

Ketika kondisi Afganistan tak kunjung damai, Rabbani pulang dari pengasingannya pada tahun 2011. Beberapa kelompok sudah dikontak untuk terlibat dalam upaya perdamaian. Semua sepakat merajut kerukunan lagi. Di hari ulangta hunnya yang ke-71, seorang tamu datang memeluknya dan kemudian meledakkan bom yang ada di tubuhnya. Bom bunuh diri sekaligus merenggut nyawa Rabbani, pemimpin kharismatik bangsa Afganistan yang berasal dari etnis Tajik.

Habib Idrus bin Sumaith

Di Yaman, karena dakwah dan seruannya agar menghentikan konflik dan senantiasa meyerukan untuk damai, Habib Idrus bin Sumaith dieksekusi oleh teroris pada awal Maret 2018. Sajadahnya berlumuran darah yang menjadi saksi kesyahidan beliau.

Habib Idrus bin Sumaith

Di Irak, ketika ISIS menguasai Mosul pada 2014, lebih dari 10 imam masjid dibunuh. Mereka menolak bergabung dan berusaha melindungi warga dari kekejaman prajurit ISIS.

Di Mesir, Masjid Al-Rawdah di Bir al-Abid yang berada di Kota Al-Arish, kota terbesar di Provinsi Sinai Utara, teroris yang berafiliasi dengan ISIS menembaki jamaah yang baru selesai salat Jum’at pada November 2017. Bahkan, pelaku juga menembaki ambulans yang berada di lokasi. Aksi ini juga disertai dengan bom bunuh diri.

Para bajingan di Sinai terafiliasi dalam organisasi Anshoru Baitil Maqdis. Organisasi ini memang terkoneksi dengan jaringan ISIS. Mereka menarget tokoh sufi dan komunitas tarekat.

Pada tahun 2016, para bedebah ini menculik dan mengeksekusi tokoh sufi dari Tarekat al-Jaririyah al-Ahmadiyah, Syaikh Sulaiman Abu Haraz yang usianya hampir 100 tahun. Syaikh Sulaiman dieksekusi dengan cara dipancung dan videonya disebarkan oleh ISIS.

Baca Juga :  Apa Maksud Menag Fachrul Razi soal Agen Radikalisme ‘Good Looking’?

ISIS menuduh Syaikh Sulaiman yang kharismatik itu telah musyrik, kafir, dan mengamalkan sihir serta menjadi pengikut Dajjal. Sebentar, silahkan cek orang-orang di sekitar kita yang seringkali mengucapkan kalimat ini untuk menuduh orang lain. Ada kan? Nah, mereka ini “sel tidur” yang berpotensi membunuh sesama Islam jika punya kesempatan. Waspada!

Syekh Said Ramadhan al-Buthy

Di Suriah, Syekh Said Ramadan al-Buthy adalah salah satu ulama yang berusaha mendamaikan pihak-pihak yang berkonflik. Beliau tidak mau negerinya porak poranda. Tentu, beliau mendapatkan tudingan mengerikan sebagaimana biasanya: penjilat Bashar Assad, ulama su’, ulama pro rezim, dan julukan ngawur lainnya.

Syekh Said Ramadan al-Buthy Bersama KH Maemun Zubair (Mbah Mun)

Di akun-akun pendukung al-Qaidah dan ISIS serta Free Syrian Army (FSA) di Indonesia, tuduhan ini bertebaran. Di tengah desingan peluru, penulis berbagai kitab ini tetap istikamah menyuarakan perdamaian antar anak bangsa yang sedang berperang. Hingga pada akhirnya, beliau syahid oleh ledakan bom saat sedang mengajar tafsir di salah satu masjid pada 21 Maret 2013.

Syekh Badruddin Hassun

Di negeri ini pula, Syekh Badruddin Hassun, Garand Mufti Suriah berkali-kali nyaris terbunuh oleh serangan al-Qaidah, FSA maupun ISIS. Wajah teduhnya berubah, bercampur ketegaran dan kesedihan di saat mengucapkan pidato menjelang pemakaman putra tercinta yang gugur dalam salah satu serangan bom beberapa tahun silam.

Syekh Badruddin Hassun, Garand Mufti Suriah

“Ya Allah, darah kami akan menjadi saksi di hadapan-Mu, bagi siapa yang berfatwa untuk membunuh kami. Bagi siapa yang memotivasi orang-orang untuk membunuh rakyat Suriah, bagi siapa yang mengirim senjata ke Suriah, bagi siapapun yang mengirimkan uang (untuk pemberontakan) di Suriah.”

Ada getir dalam getar suara Syaikh Badruddin Hassun, Mufti Suriah, saat mengucapkan pidato ini tatkala detik-detik pemakaman putranya. Kita pasti akan menangis melihat ekspresi beliau saat mengucapkan kalimat demi kalimat dalam pidato pemakaman. Getar duka cita dalam retorika yang tetap sistematis dan menggetarkan.

Syekh Adnan al-Afyuni

Jika Syekh Badruddin beberapa kali lolos serangan bom, tidak dengan Syekh Adnan al-Afyuni. Beliau syahid dalam ledakan bom yang dipasang di mobilnya pada Sabtu, 23 Oktober 2020. Dalam upaya merajut perdamaian, Syekh Adnan mempertaruhkan nyawanya untuk menjalin komunikasi dengan beberapa pihak agar meletakkan senjata dan menghentikan konflik. Tentu, sebagai Mufti ibukota Suriah, beliau dituduh sebagai antek rezim, ulama su’, “anjing” Bashar Assad, dan sebagainya.

Baca Juga :  Sugi Nur Tidak Mau Ditahan, Pengacara Bawa Ratusan Surat Jaminan
Syekh Adnan Al-Afyuni Bersama Habib Luthfi Pekalongan

Silahkan diingat beberapa orang di Indonesia yang sering mengucapkan kalimat yang sama sembari menuduh ulama-ulama kita. Banyak, kan?

Beliau Mufti Damaskus. Bertubuh tinggi besar, berwajah teduh, bersuara lembut, dan berhati emas. Beliaulah yang selama ini menjamin nasib para pelajar dari berbagai negara, termasuk Indonesia agar tetap teguh mencari ilmu di Syam. Di tengah desing peluru dan ancaman pembunuhan, beliau tetap konsisten mengembangkan lembaga Ma’had Syam ad-Dauly sebagai salah satu proyek penempa para kader ulama dari berbagai negara.

Bersama Syekh Badruddin Hassun, beliau beberapa kali hadir dalam undangan konferensi bela negara yang digelar oleh Habib Lutfi bin Yahya ataupun dalam acara pertemuan ulama Internasional yang dihelat oleh PBNU. Di Indonesia bersama Syekh Rajab Dieb, beliau juga banyak mengunjungi berbagai pesantren.

Dalam beberapa pertemuan dengan para ulama Indonesia maupun para santri berbagai pesantren, beliau menintip pesan damai dan perdamaian dan kerukunan. Tak ada provokasi. Tak ada ajakan memberontak, apalagi menyembelih sesama muslim. Tidak ada. Bahkan, ketika ada panitia pertemuan di Aceh menitip pesan agar Syekh Adnan dalam pidatonya menyerukan ajakan memusuhi kelompok lain dalam Islam, wajah beliau langsung berubah menahan marah. Penolakan disampaikan dengan lembut dan dalam pidatonya beliau bersikap teguh menyampaikan ajaran kerukunan dan perdamaian.

Tidak heran jika Syekh Adnan menyampaikan pesan damai dan moderatisme. Sebab, negaranya porak-poranda akibat ujaran kebencian dan nafsu perang. Syekh Adnan tidak ingin Indonesia bernasib sama dengan Suriah.

Pesan Syekh Adnan al-Afyuni untuk NU dan Indonesia

Pesan yang pernah beliau sampaikan kepada salah satu santrinya, yang kini menjadi Ketua PCNU Kota Pasuruan, Gus Nailurrohman, sesaat setelah beliau tiba di Indonesia pada November 2018:

“Kalau negaramu ingin aman, jagalah Ahlussunnah wal Jama’ah. Maka, jagalah Nahdlatul Ulama, karena yang menjaga Ahlussunnah wal Jama’ah di negeri ini adalah NU.”

Syekh Adnan Al-Afyuni Bersama KH Said Aqil Siroj Ketum PBNU

Wallahu A’lam Bisshawab…. (sumber: Rijal Mumazziq Z, https://www.facebook.com/penerbit.imtiyaz/posts/3401141896634089)

Bagikan ini :