Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Mengenal Strategi Penetrasi Paham Khilafah di Kampus

Mengenal Strategi Penetrasi Paham Khilafah di Kampus

Page Visited: 326
Read Time:3 Minute, 28 Second

Mengenal Strategi Penetrasi Paham Khilafah di Kampus

Meskipun HTI sudah dilarang sebagai ormas, tetapi sepak terjang para eks HTI di kampus masih terus menggeliat menyasar ke mahasiswa di kampus. Dalam hal ini dihimabau kepada para mahasiswa di kampus-kampus manapun sebaiknya memahami akan bahaya paham khilafah bagi tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam memuluskan tujuan politiknya, HTI menggunakan tiga strategi, yakni pembinaan dan pengkaderan (marhalah al-tatsqif) untuk membentuk inti kepemimpinan; interaksi dengan umat (marhalah tafa’ul ma’a al-ummah) untuk membangun pengikut loyal; dan pengambilalihan kekuasaan (marhalah istilam al-hukm) untuk merubah pemerintahan. HT/HTI secara selektif menyasar kelompok masyarakat tertentu sebagai basis rekrutmen politik.

Baca juga : Ayik Heriansyah Tentang Pasang Surut Hubungan FPI dan HTI

Maraknya paham Khilafah dalam lingkungan perguruan tinggi jelas merupakan bagian dari operasi politik HTI untuk merekrut dan membina kader dari kalangan mahasiswa. Keuntungan dari operasi ini adalah HTI memperoleh klaim untuk menjustifikasi gerakannya sebagai “gerakan yang intelektual dan ilmiah”, dan di sisi lain memperoleh sumber daya kader yang memiliki energi dan semangat tinggi untuk merealisasikan tujuan politik jangka panjang HTI.

Baca Juga :  Jejak Muslimah HTI di Balik Insiden Penghapusan Kata Khilafah di DPRD Kota Cirebon

Kalangan mahasiswa memiliki persepsi tentang “noblesse oblige” atau “kewajiban mulia” yang dapat dimanipulasi oleh HTI sebagai bentuk “Jihad” untuk menerapkan tujuan-tujuan HTI itu sendiri.

Kesadaran kelas di kalangan mahasiswa yang dilingkupi dengan heroisme tentang kelompok pembaharu, agen of social change, pejuang kepentingan rakyat, kekuatan kritis, dan sebagainya dieksploitasi sedemikian rupa oleh HTI dengan melekatkannya pada doktrin politik Khilafah sebagai landasan ideologis bagi perjuangan mahasiswa selanjutnya.

Baca juga : Ayik Heriansyah : HTI Catut Umat Islam untuk Serang PDIP

Sehingga ketika mahasiswa itu selesai dan memasuki ruang pengabdian pada masyarakat, doktrin Khilafah akan menjadi pedoman untuk berkiprah dalam berbagai institusi-institusi publik. Dapat dibayangkan jika lulusan kampus yang telah didoktrin HTI ini mengendalikan pemerintahan, maka jalan HTI untuk merubah jalannya negara akan semakin mulus.

Sementara itu, interaksi dengan umat dilakukan HTI dengan menggelar berbagai kegiatan public expo seperti ceramah, rally, mimbar bebas, diskusi, seminar, symposium, konferensi, dan sebagainya. Kegiatan ini dikemas dalam isu dakwah dan “intellectual discourse” untuk menyelubungkan watak politik sesungguhnya HTI.

Kader HTI menyusup ke kelompok muda terdidik

Kegiatan-kegiatan semacam ini dikemas secara menarik untuk mensugesti masyarakat dengan cara mengkonfrontir berbagai persoalan kehidupan pribadi dan masalah kenegaraan dengan konsep-konsep HTI secara sepihak untuk menunjukan keunggulan konsep HTI sebagai jawaban atas berbagai persoalan kehidupan. Model one side issue ini apapun bentuk kegiatannya, merupakan hal elementer dari teknik pencucian otak atau “brain washing” dalam indoktrinasi politik. Tujuannya adalah menciptakan pengikut yang loyal karena telah tercuci otaknya dan merepresi kesadaran kritis dari massa.

Baca Juga :  Ideologi Khilafah Itu Intoleran, Radikal dan Melahirkan Terorisme

Baca juga : 4 Langkah Mengamankan Masjid dari Kelompok Radikal

Secara piawai, para kader HTI yang menyusup ke kelompok muda terdidik ini mengeksploitasi berbagai kondisi yang melingkupi mahasiswa dan menyodorkan paham Khilafah sebagai satu-satunya “obat mujarab” yang bisa simsalabim menyembuhkan semua penyakit dan masalah. Berbagai konsep, kebijakan, nilai, pranata dan praktek kenegaraan yang ada di Indonesia akan diserang kredibilitasnya dengan menampilkan apa yang disebut sebagai “fakta-fakta kegagalan” untuk menunjukan keunggulan konsep Khilafah.

Secara ekplisit, pengusung paham Khilafah ini tidak hanya menantang realitas kenegaraan yang telah baku dan diwariskan oleh pendiri bangsa, tetapi juga melekatkan secara stereotype segala aspek di luar ajaran HTI. Karena itu, wajar jika kader-kader HTI selalu menentang dan menyerang Pancasila, UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika, dan NKRI sebagai ancaman eksistensi mereka.

Sebagai ideologi yang ekstrim, Khilafah ala HTI merupakan produk dari interpretasi sejarah dan keagamaan yang terdistorsi. Karena itu, pengikut yang militan dan loyal menjadi sarat penting bagi kelangsungan hidup HTI. Keberadaan kelompok kritis justru akan menjadi ancaman karena dapat menggoyang cengkeraman politik dan ideologis yang sesungguhnya penuh dengan patologis dan sama sekali lemah landasan teologis dan empirisnya. HTI memungkiri fakta tentang keragaman dalam Islam dalam menafsirkan bentuk pemerintahan dan otoritas politik.

Baca Juga :  Hizbut Tahrir Ditolak di Negara-negara Muslim

Baca juga : Kita Beruntung karena Pemerintah Tidak Menjalankan Locdown

Hingga saat ini tidak ada kesepakatan apapun di antara potensi dalam umat Islam yang secara final dan eksplisit menyatakan konsep Khilafah ala HTI sebagai satu-satunya formulasi politik dalam menata pemerintahan dan negara. Begitupula dengan dasar empiris dimana kekhalifahan yang absolut baik sebagai otoritas politik maupun agama dalam kekuasaan imperium ala HTI juga tidak pernah dipraktekan dalam sejarah peradaban politik Islam.

Oleh: Otjih Sewandarijatun – Alumnus Universitas Udayana, Bali.

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda