Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Mengenal Tahapan Politik Hizbut Tahrir, Waspadalah Indonesia!

Mengenal Tahapan Politik Hizbut Tahrir, Waspadalah Indonesia!

Page Visited: 767
Read Time:4 Minute, 13 Second

Mengenal Tahapan Politik Hizbut Tahrir, Waspadalah Indonesia!

Berdirinya negara khilafah masih terus menjadi impian sebagaian umat Islam di zaman sekarang. Impian ini bukan saja oleh sebagian muslim yang ada di Timur Tengah, bahkan di Indonesia pun mereka masih terus bermimpi dan berupaya dengan barbagai cara agar negara khilafah bisa berdiri di Indonesia. Walaupun HTI yang menjadi wadah perjuangan mereka telah dibubarkan.

Dalam tulisannya kali ini Abdul Hadi mengurai tahapan-tahapan politis Hizbut Tahrir dalam upaya mewujudkan negara khilafah. Tulisan berjudul “Waspadalah! Inilah Tahapan Politik Hizbut Tahrir“, semoga bisa menyadarkan kita bahwa Indonesia masih menjadi incaran Hizbut Tahrir sebagai tempat berdirinya negara khilafah. Waspadalah!

Baca juga : Para Ulama Aswaja Angkat Bicara Soal Khilafah Hizbut Tahrir

Selamat membaca semoga bermanfaat …..

Waspadalah! Inilah Tahapan Politik Hizbut Tahrir

Sebagai sebuah gerakan politik, Hizbut Tahrir memiliki tahapan-tahapan politik strategis dalam mewujudkan cita-citanya mendirikan Khilafah Islamiyah. Tahapan poltik Hizbut Tahrir ini menurut sang pendiri Taqiyuddin Annabhani (1909–1977 M) merupakan tahapan yang bersumber dari teladan yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Tahapan politik Hizbut Tahrir tersebut terdiri dari tiga yaitu: 1. Kaderisasi 2. Interaksi dan 3. Pembentukan Pemerintahan. (baca Hizb ut-Tahrir Britain, The Method to Re-Establish the Khilafah and Resume the Islamic Way of Life (London: Al-Khilafah Publications, 2000), 88-110.)

Baca Juga :  Kisah Abu Hurairah Diajari Ayat Kursi oleh Setan

Baca juga : 5 Tokoh Penting HTI dan Perannya Ini Dibongkar Warganet

Kaderisasi

Kaderisasi gerakan atau Atatsqif al Jama’iy merupakan tahapan paling awal, yang ditujukan untuk menjaring dan mengumpulkan orang-orang yang menerima dan meyakini kosnsep-konsep Hizbut Tahrir sebagai sebuah konsep yang benar dan layak diperjuangkan.

Kader-kader utama ini dibina melalui kajian terbatas dan khusus yang biasa disebut dengan istilah Halaqoh murokkazah dengan materi-materi yang bersumber dari gagasan-gagasan Annabhani dalam membangun Khilafah Islamiyah sebagai cita-citanya. (Hasanudin, Edi Sabara Manik; Strategi Hizbut Tahrir Dalam Menegakkan Khilafah di Indonesia, 94).

Dari proses ini lahirlah kader-kader yang menguasai betul paham-paham keagamaan yang digagas Annabhani, mereka disebut sebagai Syakhsiyah Islamiyah yang kelak akan membentuk Gerakan atau Partai yang mengusung cita-cita pendirian “Khilafah Islamiyah ala Manhaz Nabhaniyah” kekhalifahan Islam menurut metode Annabhani. istilah ini untuk memposisikan secara jelas bahwa Khilafah yang diusung oleh Annabhani dengan Hizbut Tahrirnya bukanlah Khilafah ala Manhaj Annubuwah sebagaimana klaim mereka -untuk bahasan ini akan diuraikan dalam kesempatan lain-.

Interaksi

Setelah terlahir kelompok pertama yaitu kader-kader militan yang mampu membentuk sebuah gerakan yang mengusung cita-cita pendirian Khilafah, maka tahapan politik Hizbut Tahrir berikutnya adalah Tanmiyat al Jismi al Hizb penguatan tubuh gerakan/politik dengan cara melakukan kaderisasi umum dan penyebaran secara massif ide-ide dan gagasan mereka tentang Islam dan khilafah Islamiyah. (Mengenal Hizb At-Tahrir: Partai Politik Islam Ideologis, terj. Abu Afif dan Nur Khalish (Depok: Pustaka Thariqul Izzah, 2000), hal. 3-4 dan 32.)

Baca Juga :  KH Said Aqil Siroj Soal Kaum Radikal yang Gemar Teriak Khilafah!

Baca juga : Ulama Ahlus Sunnah Wal Jamaah Habib Ali Al-Jufri: “Tinggalkan Omong Kosong Khilafah”

Tahapan kedua ini memiliki target terkumpulnya kekuatan besar dari masyarakat yang menerima dan meyakini gagasan-gagasan Hizbut Tahrir tentang kebangkitan Islam dan tentang Khilfah Islamiyah. Kelompok besar inilah yang akan dijadikan kekuatan oleh Hizbut Tahrir untuk melangkah pada tahapan akhir dari tiga Tahapan Politik Hizbut Tahrir tersebut, yaitu merebut kekuasaan dan merubahnya dengan sistem Khilafah. Sebelum melangkah pada tahap akhir, Hizbut tahrir terlibeih dahulu melakukan Langkah yang disebut dengan Dharbul ‘alaqah atau membenturkan antara rakyat dan penguasa dengan cara menciptakan ketidak percayaan masyarkat pada penguasa, hal ini tentu dimaksudkan untuk mempermudah proses akhir gerakan politik mereka.

Perebutan Kekuasaan

Tahapan Politik Hizbut Tahrir yang terakhir adalah Istilamul Hukmi atau perebutan dan pengambil alihan kekuasan kemudian menerapkan Syariat Islam dan Khilafah Islamiyah sebagai sistem pemerintahan yang akan disebarkan ke seluruh dunia dengan target bergabungnya dunia dalam satu kekuasan Islam yaitu Khilfah Islamiyah.

Baca juga: Hizbut Tahrir Pernah Memaksakan Khilafah dengan Kudeta Militer

Annabhani menegaskan bahwa untuk dapat mempercepat tiga proses itu maka dibutuhkan Nushrah min ahl al Quwwah/ bantuan dari pemegang kekuasaan seperti militer, politisi dan lain sebagainya. Termasuk melakukan upaya Kudeta demi memperoleh kekuasan sebagaimana yang dilakukan di negara mesir pada tahun 1947. Dan beberapa percobaan Kudeta yang merka lakukan (Mohammad Nuruzzaman; Catatan Hitam Hizbut Tahrir; 2017.)

Baca Juga :  Habib Muannas Ingin Refly Harun Ditangkap Polisi

Pada tahapan terkahir inilah kelak Hizbut Tahrir akan menerapkan seluruh konsep Annabhani dalam praktik kehidupan bernegara, baik dalam konsep ekonomi kemasyarakatan tatanan politik dan juga ekonominya.

Pertanyaaannya adalah: benarkan konsep-konsep yang ditawarkan oleh Annabhani merupakan konsep Islam yang disepakati oleh seluruh Ulama? Jawabannya tentu tidak, sebab banyak ulama-ulama islam yang berbeda pandangan terkait konsep Khilafah islamiyah, bahkan jauh sebelum Annabhani lahir dengan gagasan politiknya ini para ulama terdahulu juga sudah memperdebatkan tentang system khilafah, seperti Al Farabi (870 -950 M,) Al Mawardi (975-1059 M,) Ghozali (1058-1111 M,) Ibnu Taimiyah (1263-1329 M,) dan Ibnu Khaldun (1332-1382 M,) (Muhammad Topan, Kekuasaan menurut Taqiyuddin Nabhani).

Ketidak sepakatan ulama tentang sistem tata negara itu mengindikasikan bahwa tidak ada sistem baku dalam Islam terkait kekuasan dan pemerintahan yang kemudian menegaskan bahwa gagasan Khilafah yang di usung oleh Taqiyuddin Annabhani bukanlah Khilafah ala Manhajinnubuwah yang di-Nubuwatkan oleh Rasululah saw, akan tetapi gagasan Khilafahnya Taqiyuddin Annabhani disebut sebagai Khilafah ala Manhaj Annabhaniyah. Wallahu a’lam. (Abdul Hadi)

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda