Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Menolak-KAMI-Selamatkan-Bangsa-dari-Kegaduhan-dan-Perpecahan

Menolak KAMI Selamatkan Bangsa dari Kegaduhan dan Perpecahan.

Menolak KAMI Selamatkan Bangsa dari Perpecahan

Page Visited: 544
Read Time:2 Minute, 33 Second

Menolak KAMI Selamatkan Bangsa dari Kegaduhan dan Perpecahan

Gerakan KAMI (Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia) dideklarasikan pertama kali pada 18 Agustus 2020 di Jakarta. Tetapi kemudian pada deklarasi berikutnya di beberapa kota mendapat penolakan masyarakat, termasuk yang paling ramai beritanya adalah penolakan deklarasi KAMI di Surabaya, penolakan dilakukan oleh beberapa komponen masyarakat Surabaya.

Deklarasi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) yang digelar di Surabaya dibubarkan massa bersama polisi, Senin (28/9/2020). Pembubaran acara deklarasi tersebut merupakan tindakan tepat, mengingat adanya kekhawatiran melanggar protokol kesehatan Covid-19.

Acara deklarasi KAMI di Gedung Juang 45, Jalan Mayjen Sungkono, dihadiri mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo. Gatot Nurmantyo merupakan salah satu deklarator KAMI. Kenapa Acara deklarasi di Surabaya tersebut dihentikan polisi, karena dinilai tidak mengantongi aizin berkumpul, apalagi diselenggarakan di tengah pandemi Covid-19. Jika sesuai protokol kesehatan mungkin tidak masalah, tetapi tidak ada yang bisa menjamin, apalagi Surabaya atau Jatim masuk zona merah Covid-19.

Baca Juga :  8 Tokoh KAMI Ditangkap Polisi, Gatot Nurmantyo : KAMI Sudah Perhitungkan Segala Risiko!

Selain dkhawatirkan melanggar protokol kesehatan Covid-19, sejak kelahirannya, 18 Agustus 2020 di Tugu Proklamasi, Jakarta Pusat, bagi sejumlah kalangan, gerakan KAMI dianggap berbahaya.

Gerakan KAMI yang dideklarasikan pertama kali oleh Gatot Nurmantyo, juga ada beberapa tokoh yang selama ini dikenal vokal seperti Said Didu, akademisi Rocky Gerung, Refly Harun, MS Kaban, Jumhur Hidayat, hingga Sri Bintang Pamungkas. Bagi yang rajin mengikuti perkembangan berita politik pastilah tahu siapa nama-nama yang disebutkan di atas.

Akan tetapi di Surabaya, sejumlah organisasi kemasyarakatan di Kota Surabaya melakukan aksi bersama menolak acara KAMI. Mereka mendukung kepolisian membubarkan acara deklarasi KAMI tersebut. Pemerintah yang mengalami kesulitan ekonomi dan lainnya akibat penanganan dampak pandemi Covid-19 seharusnya dibantu bukan malah dibebani dengan berbagai masalah baru.

“Lebih baik monggo bareng-bareng melawan Covid-19. Kalau mau nyapres nanti 2024, itupun kalau ada partai yang mau mengusung dan rakyat mendukung. Sabar jenderal, Jatim dan Surabaya tidak mudah untuk diprovokasi politik,” kata Ketua Jaringan Masyarakat Melek Politik Kota Surabaya Ismail Busro.

Baca Juga :  Polisi Ungkap KAMI Mungkin Terlibat Demo Rusuh Tolak UU Cipta Kerja di Medan

Ketua Forum Komunikasi Kyai Kampung Indonesia Gus Maftuh meyakini gerakan KAMI adalah gerakan yang kental dengan nuansa politik.

“Mereka hanya ingin mencari panggung, gerakan yang sakit hati atau tidak puas atas kekalahan Pilpres 2019 kemarin,” kata Gus Maftuh.

Secara khusus Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar juga menyampaikan pesan kepada Gatot Nurmantyo setelah terjadi keributan di Taman Makam Pahlawan Kalibata:

“Jika Pak Gatot ingin membangun gerakan moral sebagai bentuk tanggung jawabnya terhadap bangsa, itu. Namun mohon harus betul-betul gerakan moral, jangan menjadi suatu gerakan politik. Gerakan moral itu tentunya harus diikuti dengan moral yang tinggi,” ujarnya.

Nah, itulah beberapa kekhawatiran selain melanggar protokol kesehatan Covid-19. Kekhawatiran yang cukup punya alasan, mengingat nama-nama tokoh para deklarator KAMI yang dikenal masyarakat sebagai orang-orang yang memiliki bacground politis dan vokal kepada pemerintah yang sah.

Jadi, menolak KAMI adalah bagian dari upaya kita menyelamatkan bangsa ini dari kegaduhan dan perpecahan. Alangkah indahnya jika kita bisa bersatu padu dalam menangani bermacam kesulitan yang merupakan dampak dari pandemi Covid-19.

Baca Juga :  Dengan KAMI Gatot Nurmantyo Berat Jadi Capres, Kata Pengamat Politik

Di Argentina separuh menduduknya jatuh miskin akibat dari pandemi Covid-19. Semoga Indonesia tidak sampai seperti Argentina, mari bersatu padu mengatasi pandemi Covid-19. (UMMATINA)

Bagikan ini :

Mungkin Luput dari Anda