Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Nilai-Islam-Ada-di-dalam-Pancasila

Nilai Islam Terdapat di Dalam Pancasila

Page Visited: 1099
Read Time:5 Minute, 17 Second

Sudah Tahukah Anda, Nilai Islam Terdapat di Dalam Pancasila?

Bangsa Indonesia semuanya tahu Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Sebagai dasar negara berarti juga sebagai ideologi bangsa. Nah, walupun demikian tentu saja Pancasila memang bukan agama, akan tetapi nilai-nilai yang terkandung di dalamnya senapas dengan ajaran agama Islam. Sila-sila yang terkandung di dalamnya, adalah senapas dengan ajaran agama. Karena keberadaannya yang senapas ini, maka Pancasila termasuk nota kesepahaman yang Islami.

Sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa, merupakan landasan teologis dari negara Indonesia. Sila pertama ini bersifat menjiwai keempat sila lainnya, menjadi cermin bagi konsepsi tauhid sebagaimana tertuang dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas. Nilai yang terkandung dalam sila-sila Pancasila, dipandang mampu mewadahi semua etnis, suku, dan golongan yang terdapat di seluruh wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Secara tidak langsung, nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila juga merupakan cerminan bahwa para pendiri bangsa (founding fathers) Indonesia, yang mayoritas mereka beragama Islam, sangat memahami keragaman yang ada di wilayah Indonesia dan memasukkan kaidah universal ajaran Islam ke dalam sila-sila Pancasila tersebut sebagai solusi jalan tengah (wasathan). Untuk itu, sangat layak bila kemudian dikatakan bahwa Pancasila itu sangat Islami, karena senapas dengan pengamalan ayat yang Artinya:

“Demikianlah Kami menjadukan kalian sebagai umay penengah agar kalian menjadi saksi atas seluruh manusia dan agar Rasul menjadi saksi atas kalian” (QS al-Baqarah [2] : 143)

Dengan kata lain, menurut ayat di atas, Pancasila yang dirumuskan oleh para founding fathers yang terdiri atas mayoritas muslim, adalah hasil produk uji coba pertama kali pengamalan Islam Wasathiyah (Islam moderat) dalam konteks kenegaraan dan kebangsaan.

Baca Juga :  Syekh Adnan Al-Afyouni dan Pancasila

Dalam konteks berbangsa dan bernegara, Pancasila merupakan sebuah bagian dari pilar kehidupan berbangsa dan bernegara Republik Indonesia. Pancasila sendiri selain sebagai dasar negara, bagi bangsa Indonesia Pancasila hakikatnya sebagai ideologi negara dan falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Bukti nyata dari nilai ajaran Islam yang ada dalam Pancasila dapat dilihat mulai dari sila pertama Pancasila yaitu “Ketuhanan Yang Maha Esa” seperti dijelaskan di atas.

Tidak hanya sila pertama Pancasila, melainkan sila-sila Pancasila lainnya juga memiliki relevansi dari nilai ajaran Islam.

Setelah sila pertama kemudian sila kedua yang bunyinya, “Kemanusiaan yang adil dan beradab”. Isi makna dari sila kedua ini tidak jauh berbeda dari surat yang ada di Al-Quran yaitu An-Nisa Ayat 135 yang terjemahan berbunyi, “Wahai orang-orang yang beriman. Jadilah kamu penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap ibu-bapak dan kaum kerabatmu”.

Dari tafsir surat ini memiliki inti yang hampir sama dari makna sila kedua Pancasila yang membicarakan tentang keadilan. Tidak hanya surat An-Nisa Ayat 135, dalam Al-Quran juga masih ada surat-surat yang membicarakan tentang keadilan semisalnya surat An-Nahl ayat 90.

“Persatuan Indonesia”, adalah bunyi dari sila ketiga Pancasila, Indonesia dikenal dengan beragam suku, budaya, ras, dan agama. Persatuan tersebut bertujuan sebagai pilar untuk melindungi seluruh masyarakat dari peperangan dan perpecahan akibat tidak keberagaman, inilah membuktikan bahwa Pancasila sebagai falsafah kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sila ini memiliki kesamaan makna dari surat yang ada di Al-Quran, yaitu surat Al-Hujurat Ayat 13 menjelaskan bahwa Allah menciptakan manusia dari seorang laki-laki (nabi Adam as) dan seorang perempuan (Hawa) dan menjadikan manusia berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya mereka saling mengenal dan tolong menolong.

Baca Juga :  Rahma Sarita Lecehkan Pancasila, Viral di Jagad Facebook

Kemudian selanjutnya sila keempat Pancasila, “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan”. Terdapat beragam tafsir atau makna dari sila keempat tersebut, semisalnya kedaulatan negara ada di tangan rakyat, demokrasi, dan musyawarah atau mufakat. Bila ditelaah dari prinsip musyawarah, maka sila ini memiliki relevansi dengan surat Ali ‘Imran Ayat 159, surat ini berpesan bahwa segala persoalan-persoalan tertentu lebih baik haruslah di memusyawarahkan.

Dan sila terakhir Pancasila yaitu sila kelima, “Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”. Dalam sila kelima ini menekankan prinsip justice and equality bagi seluruh rakyat Indonesia. Dan dalam ajaran islam prinsip justice and equality tercantum dalam Al-Quran surat An-Nahl ayat 90, yang terjemahan bunyinya “Sesungguhnya Allah menyuruh (manusia) berlaku adil dan berbuat kebaikan, memberi (sedekah) kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu (manusia), agar kamu dapat mengambil pelajaran”

Dengan demikian secara aspek filosofis maka dapat dibenarkan bahwa Pancasila memiliki kandungan nilai-nilai syariat islam berdasarkan atas kitab sucinya yakni Al-Quran. Selain itu dibenarkan juga secara logisnya bahwa agama Islam sudah lahir amat sejak lama ketimbang Indonesia dan Pancasila, maka dapat dikatakan ketika dalam perumusan sila-sila Pancasila founding father bangsa Indonesia memungkin meratifikasi syariat Islam untuk Pancasila. Logisnya dapat dibuktikan dengan cara melihat aspek historis lahirnya Pancasila.

Awal mula lahirnya Pancasila berawal dari Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI). Salah satu agendanya BPUPKI adalah membentuk dasar negara Republik Indonesia. Secara de jure dan de facto lahirnya Pancasila adalah 18 Agustus 1945, bukan 1 Juni 1945. 1 Juni 1945 adalah gagasan rumusan dasar negara yang dikemukakan oleh Soekarno pada sidang BPUPKI, selain Soekarno tokoh yang ikut mengagas rumusan dasar negara Indonesia pada sidang BPUPKI adalah Mr. Prof. Mohammad Yamin, S.H dan Prof. Mr. Dr. Soepomo. Namun sampai akhir dari masa persidangan BPUPKI, masih belum ditemukan titik temu kesepakatan dalam perumusan dasar negara Republik Indonesia yang benar-benar tepat, sehingga dibentuklah Panitia Sembilan oleh BPUPKI.

Baca Juga :  Gus Yaqut Jadi Menag, Ferdinand Hutahaean Sebut Jokowi Serius Lawan Radikalisme

Dibentuknya Panitia Sembilan guna untuk menggodok berbagai masukan dari konsep-konsep sebelumnya yang telah dikemukakan oleh para anggota BPUPKI dalam perumusan dasar negara Republik Indonesia. Sesudah melakukan perundingan yang cukup alot maka pada tanggal 22 Juni 1945 Panitia Sembilan menghasilkan rumusan dasar negara Republik Indonesia yang kemudian dikenal sebagai “Piagam Jakarta”. Terhitung tanggal 22 Juni 1945 sampai dengan 17 Agustus 1945 dasar negara Indonesia menggunakan Piagam Jakarta, rumusan sila-sila yang ada di Piagam Jakarta adalah sila-sila Pancasila yang ada saat ini. Yang membedakan Piagam Jakarta dengan Pancasila terletak pada sila pertama Piagam Jakarta dan Pancasila.

Sila pertama Piagam Jakarta berbunyi, “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Dari sila pertama Piagam Jakarta ini membuktikan bahwa founding father Panitia Sembilan ketika itu memungkin telah meratifikasi atau mengadopsi nilai-nilai syariat agama Islam dalam perumusan dasar negara Indonesia. Namun tanggal 18 Agustus 1945, Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia atau PPKI menghapus tujuh kata sila pertama Piagam Jakarta tersebut dengan mengganti menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Dan akhirnya dikenal sebagai Pancasila dasar negara Republik Indonesia. Terbukti kemudian sampai hari ini Pancasila tidak bertentangan dengan syariat Islam tetapi justru nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila senapas dengan syariat Islam. (*)

Bagikan ini :