Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Nusantara-dari-Sabang-sampai-Merauke-Menolak-Radikalisme

Nusantara dari Sabang Sampai Merauke Menolak Radikalisme

Page Visited: 673
Read Time:2 Minute, 18 Second

Nusantara dari Sabang Sampai Merauke Menolak Radikalisme

Tiga tahun yang lalu, di Tugu Pahlawan Surabaya, Kamis (29/11/2018), Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa Nusantara (BEMNUS), menolak keberadaan faham radikalisme di Indonesia. Penolakan tersebut disampaikan ketika mereka melakukan deklarasi bersama di depan tugu Pahlawan tersebut.

Koordinator Pusat BEMNUS Riyan Israyudin, mengatakan radikalisme merupakan musuh bangsa yang harus diberantas dari bumi Indonesia. Karena sudah melenceng dari cita-cita pendiri bangsa yang menyatukan rakyat dari Sabang sampai Merauke.

“Pancasila sudah final dan menjadi ideologi negara yang sah. Jadi siapapun yang menolak Pancasila tidak layak mendiami NKRI,” katanya saat deklarasi.

Mahasiswa yang datang dari sejumlah perguruan tinggi se-Nusantara, ketika itu menyatakan dukungan mereka atas terlaksananya pemilihan presiden dan wakil presiden yang damai, aman, dan sejuk dengan mengedepankan politik gagasan.

“Kami menolak politisasi SARA yang berujung pada black campaign dan hoax yang menyesatkan,” tegas Riyan Israyudin.

“Kami BEMNUS siap mengawal semua program pemerintah yang baik dan transparan. Kami juga akan memastikan program tersebut terealisasi dari pusat sampai daerah, sehingga dapat dirasakan oleh masyarakat,” lanjutnya.

Baca Juga :  Hukuman Bagi ASN Terlibat Ideologi Khilafah Akan Diberhentikan Tidak Hormat
Nusantara dari Sabang sampai Merauke Menolak Radikalisme.

Setahun kemudian di Solo, untuk mewujudkan Solo kota layak huni, sejumlah warga dari berbagai daerah di Nusantara yang tinggal di Kota Bengawan menyatakan siap menjaga kedamaian dengan segala keberagamannya. Itu dibuktikan dengan Deklarasi Merajut Kebhinekaan, Memperkokoh NKRI, Jumat malam (30/8/2019). Isi deklarasi terdiri empat poin.

Pertama, setia kepada NKRI yang berdasarkan ideologi Pancasila dan UUD 1945.

Kedua, menghormati dan menghargai perbedaan suku, agama, ras dan golongan yang menjunjung tinggi nilai-nilai Bhineka Tunggal Ika.

Ketiga, menolak segala bentuk intoleransi, rasialisme, radikalisme, separatisme yang mengancam dan menimbulkan perpecahan di masyarakat. Terakhir, saling menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, bahu-membahu serta saling bekerja sama satu sama lain tanpa memandang suku, ras, agama dan golongan.

Usai pembacaan deklarasi, satu per satu perwakilan suku menandatangi komitmen bersama. Salah seorang perwakilan warga Papua Rycko Irianto mengaku senang bisa ikut deklarasi tersebut. Karena sejatinya sebagai warga Papua juga mencintai kedamaian.

Waktu itu, Koordinator Aliansi Masyarakat Nusantara Listyanto mengatakan, deklarasi tersebut menunjukkan bahwa Solo damai dan tenang, serta tidak ada rasisme, meski masyarakatnya beragam.

Baca Juga :  Dua Kesalahan Kelompok Pro Khilafah, Apa Saja?

“Selama tinggal dan bekerja di Solo, saya tidak hanya bergaul dengan orang Jawa saja. Namun juga dari daerah lain, dari Sabang sampai Merauke. Saya tidak pernah merasa dibedakan dan membedakan,” kata Listyanto.

Menolak radikalisme berarti harus selalu berupaya memperkuat persatuan bangsa. Saudara kita dari Papua, Flores, Batak, dan lainnya itu sudah bukan suku lagi, tapi warga negara Indonesia. Agar kita tidak mudah terprovokasi, harus sering berkumpul biar paham dan punya semangat persatuan serta merawat kebhinekaan.

Adanya deklarasi Mahasiswa Nusantara dan tekad persatuan warga Nusantara di Solo tersebut menunjukkan radikalisme harus ditolak dari Sabang sampai Merauke. Radikalisme adalah penyebab perpecahan bangsa yang akan menggerogoti keutuhan NKRI. Karena itu kita perkuat persatuan, tolak radikalisme, NKRI harga mati! (*)

Bagikan ini :