Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Pancasila Is The Best, Pilihan Final NU dan Muhammadiyah

Page Visited: 1217
Read Time:2 Minute, 57 Second

Pancasila Pilihan The Best dan Final bagi NU dan Muhammadiyah

Bagi organisasi Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), Pancasila Adalah pilihan the best dan final. Sebab, Pancasila Adalah hasil perjanjian semua elemen bangsa. Dalam pemahaman Muhammadiyah, Pancasila ialah darul ‘ahdi wa al-syahadah (Negara Konsensus dan Kesaksian). Adapun NU memahami Pancasila selaku mu’ahadah wathaniyah (Komitmen Kebangsaan).

Kesimpulan tersebut mengemuka dalam sidang terbuka Promosi Doktor Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) dengan promovendus atas nama Said Romadlan.

Dalam siaran pers yang diterima Warta Batavia, Senin (27/7) malam, Said menyampaikan pemeriksaan disertasinya berjudul ‘Diskursus Gerakan Radikalisme dalam Organisasi Islam (Studi Hermeneutika pada Organisasi Islam Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama mengenai hal Dasar Negara, Jihad, dan Toleransi)’.

“Peneguhan sikap Muhammadiyah dan NU Soal Pancasila tersebut sekaligus jadi kritik dan perlawanan atas upaya-upaya kubu tertentu untuk mengganti dan merubah Pancasila selaku ideologi bangsa,” ucap Said menguraikan.

Baca Juga :  Mengajak Mantan Anggota HTI Kembali ke Pancasila

Dalam bagian kesimpulan hasil penelitiannya, Said menjelaskan bahwa pemahaman dan sikap Muhammadiyah dan NU atas Pancasila selaku pilihan the best dan final Adalah hasil penafsiran ayat Al-Qur’an dan refleksi ke-2 organisasi Islam terbesar Indonesia tersebut atas Pancasila.

Muhammadiyah berpatokan pada al-Qur’an Surat Saba’ ayat 15 ‘baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur’ (sebuah negeri yang baik dan Ada dalam ampunan Allah Swt). Kalimat tersebut oleh Muhammadiyah ditafsirkan selaku Negara Pancasila. Adapun NU mengacu pada Al-Qur’an Surat al-Baqarah ayat 30 ‘khalifah fil ardhi’. Kata ‘khalifah’ ditafsirkan NU selaku melakukan amanat Allah melalui NKRI dan Pancasila.

“Pancasila selaku pilihan the best dalam pandangan Muhammadiyah dan NU bukanlah pandangan politik yang didasarkan atas kepentingan pragmatis dan jangka pendek. Pandangan ke-2 organisasi Islam moderat ini dihasilkan melalui proses refleksi dan dialektika keduanya atas sejarah lahirnya Pancasila, di mana para figur publik Muhammadiyah dan NU terlibat langsung dalam proses lahirnya Pancasila selaku dasar negara,” terang Said Romadlan.

Baca Juga :  Tak Ada Kriminalisasi Ulama, Mereka Dihukum karena Tindak Pidana

“Kecuali itu, secara kontekstual peneguhan sikap Muhammadiyah dan NU atas Pancasila juga Adalah perlawanan ke-2 organisasi Islam ini kepada upaya-upaya kelompok-kelompok tertentu yang hendak mengganti dan merubah Pancasila” sambungnya.

Jihad dan toleransi

Kecuali meneguhkan pandangan dan sikap mengenai hal Pancasila selaku pilihan the best dan final, dalam disertasinya diuraikan pula Soal pandangan Muhammadiyah dan NU mengenai hal jihad dan toleransi kepada non-muslim. Dalam pandangan Muhammadiyah dan NU, jihad bukanlah diwujudkan dalam bentuk aksi anarkis, apalagi terorisme.

“Bagi Muhammadiyah jihad ialah jihad lil-muwajahah, ialah bersungguh-sungguh menciptakan sesuatu yang unggul dan kompetitif. Adapun bagi NU, jihad ialah selaku mabadi’ khaira ummah, yaitu bersungguh-sungguh mengutamakan kemaslahatan ummat,” kata Said.

“Muhammadiyah dan NU semenjak awal dikenal selaku organisasi Islam yang toleran kepada non-muslim. Bagi Muhammadiyah, toleransi kepada non-muslim selaku ukhuwah insaniyah (brothership kemanusiaan). Adapun bagi NU, selaku ukhuwah wathaniyah (brothership kebangsaan),” ujarnya menyoal toleransi kepada non-muslim.

Dalam disertasinya, Said merekomendasikan perlunya peran Muhammadiyah dan NU selaku power civil Islam untuk melaksanakan gerakan penyadaran dan perlawanan kepada gerakan radikalisme yang dinilai antidemokrasi dan melenceng dari ajaran Islam selaku agama rahmatan lil ‘alamin.

Baca Juga :  Rahma Sarita Lecehkan Pancasila, Viral di Jagad Facebook

“Bagian bentuk penyadaran dan perlawanan kepada gerakan radikalisme ialah dengan terus menciptakan narasi-narasi selaku kontra-diskursus atas pemahaman kelompok-kelompok Islam radikal Soal isu-isu radikalisme yang selama ini dominan dan dinilai benar adanya, yang disuarakan melalui media-media legal organisasi, lembaga pendidikan, dan pengajian-pengajian,” papar Said.

Tim promotor promovendus Said Romadlan terdiri dari Prof Dr Ibnu Hamad MSi (Promotor) dan Prof Effendi Gazali, MSi, MPSID, PhD (Kopromotor). Said menjalankan sidang terbuka yang dihelat secara daring, Senin (27/7) siang. Oleh tim penguji, ia dinyatakan lulus dengan predikat amat memuaskan. (Musthofa Asrori)

Bagikan ini :