Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Pancasila Sumber Kehidupan Harmonis Umat Beragama di Indonesia

Pancasila Sebagai Energi Kehidupan Harmonis Umat Beragama

Page Visited: 6828
Read Time:2 Minute, 49 Second

Pancasila Sumber Energi Kehidupan Harmonis Umat Beragama di Indonesia

Berdirinya sebuah tatanan negara yang merdeka haruslah berlandaskan pada sebuah “Philosofische Gronslag”. Dengan kata lain, bahwa negara yang baru berdiri itu akan didasarkan atas pandangan hidup macam apa? Sejarah mencatat, setelah melalui proses yang panjang dan berliku akhirnya ditetapkan Pancasila sebagai dasar negara.

Begitulah, Pancasila sebagai dasar negara merupakan hasil kompromi, persetujuan yang indah, dan wujud harmonisasi, secara langsung, antara kelompok yang mengatasnamakan wakil masyarakat muslim yang menghendaki dasar Islam dengan kelompok nasionalis yang mengedepankan dasar kebangsaan dan secara tak langsung, antara mayoritas dengan minoritas.

Realitas semacam ini harus dirawat oleh generasi selanjutnya, diwariskan sebagai nilai luhur yang tiada taranya, di tengah iklim pluralitas Indonesia yang niscaya. Mayoritas memang harus bersikap lapang dada, tidak boleh semena-mena terhadap minoritas.

Mayoritas harus menghargai dan turut menjaga hak-hak minoritas. Di sinilah dibutuhkan sikap understanding others berbasis simpati dan empati, tidak justru melanggengkan sikap hegemoni dan dominasi mayoritas atas minoritas.

Baca Juga :  Pancasila Sudah Final Sebagai Dasar Berbangsa dan Bernegara

Namun pada implementasinya, keragaman suku, budaya dan agama yang ada di Indonesia akhir-akhir ini mulai muncul perbedaan pandangan di masyarakat terhadap pengamalan nilai-nilai Pancasila. Untuk mencegah hal tersebut, nilai-nilai yang terkandung di dalam agama dan Pancasila harus dapat dipahami secara menyeluruh, sehingga akan tercipta kerukunan dan persatuan bangsa.

Melihat kondisi di era milenial sekarang, rasanya masih terus diperlukan pemahaman Pancasila secara utuh sebagaimana dirumuskan dan dipahami oleh para pendiri bangsa. Pancasila tidak boleh didorong ke arah pemahaman yang menyimpang seperti sekularisme, liberalisme, atau komunisme. Di sisi lain, agama juga seharusnya dipahami secara moderat dengan tanpa mengorbankan ajaran-ajaran dasar agama dan sebaliknya, bukan pemahaman yang bersifat radikal, ekstrim, atau liberal.

Mewujudkan kehidupan harmonis antar umat beragama

Pemahaman yang menyeluruh tersebut, perlu diiringi dengan upaya-upaya mewujudkan kehidupan yang rukun dan harmonis antar umat beragama, baik dalam kehidupan sosial maupun politik. Sebab, kerukunan merupakan faktor penting penunjang keberhasilan pembangunan nasional.

Pancasila sudah terbukti mampu menjaga kerukunan seluruh bangsa, sehingga tercipta integrasi nasional. Dengan demikian, kita harus mampu menangkal berkembangnya paham-paham yang mengancam Pancasila dan persatuan nasional. Karena persatuan nasional merupakan prasyarat bagi terwujudnya stabilitas nasional, sementara stabilitas nasional merupakan prasyarat bagi kelancaran dan keberhasilan pembangunan nasional.

Baca Juga :  Sistem Khilafah dengan Kepemimpinan Tunggal Adalah Utopia Tak Sesuai Zaman

Menurut Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, ada empat pendekatan sebagai upaya menghindari konflik dan menciptakan kerukunan antar umat beragama tersebut:

  • Pertama bingkai politis (politik kebangsaan), yakni melalui penguatan wawasan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang meliputi tiga konsensus, Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”, Pancasila dan Undang-undang Dasar 45.
  • Kedua, bingkai teologis, yakni melalui pengembangan teologi kerukunan, dimana agama tidak dijadikan sebagai faktor pemecah belah tetapi menjadi faktor pemersatu dengan memperhatikan kondisi obyektif bangsa Indonesia yang majemuk.
  • Ketiga, bingkai sosiologis, yakni melalui penguatan budaya kearifan lokal, karena setiap daerah atau suku memiliki nilai-nilai budaya yang dianggap sebagai kearifan lokal (local wisdom).
  • Keempat, bingkai yuridis, yakni melalui penguatan regulasi tentang kehidupan beragama secara komprehensif dan terintegrasi, baik dalam bentuk Undang-undang maupun peraturan hukum di bawahnya.

Hubungan Pancasila dan agama sangat erat, keduanya tidak bisa dipisahkan, karena sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sebagai simbol harmonisasi umat beragama, nilai-nilai Pancasila harus selalu diaktualkan dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila harus menjadi energi kehidupan harmonis antar umat beragama.

Baca Juga :  Pancasila dan “Orang Madura"

Dengan cara, salah satunya adalah publikasi yang terus menerus yang mendorong harmonisasi kehidupan beragama agar “mendarah-daging” dalam seluruh komponen masyarakat, sehingga tidak mudah diombang-ambingkan oleh paham radikal yang senantiasa mencoba menggerogoti Pancasila. (qa)

Pancasila Sumber Kehidupan Harmonis Umat Beragama di Indonesia.
Bagikan ini :