Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Pelajaran dari Hilangnya Makam Ki Bagus Hadikusumo

Pelajaran dari Hilangnya Makam Ki Bagus Hadikusumo

Page Visited: 3763
Read Time:1 Minute, 57 Second

Hilangnya makam Pahlawan Nasional Ki Bagus Hadikusumo di Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, membuat kaget banyak pihak. Hal ini baru terungkap setelah tokoh organisasi kemasyarakatan Islam tertua di Indonesia, Muhammadiyah, itu ditetapkan menjadi pahlawan nasional pada 5 November 2015.

Masalah makam tokoh yang terbengkalai membuat Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir bersuara dengan nada prihatin. Dia menyatakan ziarah kubur itu perlu dilakukan sebagai bentuk menghargai tokoh atas jasa-jasanya selama hidupnya. Inilah pelajaran berharga dari hilangnya makam Ki Bagus Hadikusumo di Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta

“Ziarah kubur kan sunnah juga, diperbolehkan. Yang tidak boleh mengeramatkan kuburan tersebut,” katanya setelah acara refleksi sejarah pahlawan di kantor PP Muhammadiyah, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, 10 November 2015.

Baca juga : Masjid Hadiah untuk Presiden Jokowi Akan Dibangun, Mirip Grand Mosque

Haedar lantas bercerita, Nabi Muhammad mengajarkan kalau ziarah kubur ingatlah akan kematian. Itu artinya, menurut dia, ziarah di makam dapat digunakan sebagai cara untuk mengenang atau meneladani perilaku si mati sekaligus mengikuti amalnya.

Baca Juga :  Bahaya Tidak Menjaga Lisan dengan Baik

Menyedihkan memang karena ini terjadi belum terlalu lama dari wafatnya sang tokoh tersebut. Ya, makam Ki Bagus di Pakuncen, Wirobrajan, Yogyakarta, tak ada bekasnya lagi. Sudah ditumpuk beberapa makam. Bahkan, rencana memindahkan makam ke Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta, menemui kendala karena tak diketahui pasti di mana pusaranya.

Ki Bagus Hadikusumo, beliau diangkat menjadi pahlawan nasional dengan Keputusan Presiden 116/TK Tahun 2015.

Baca juga : Tekad Jokowi Tarik Uang di Luar Negeri 11.000 Triliun Segera Terwujud !

Dia mengakui budaya atau tradisi kalangan Muhammadiyah memang tidak mengenali makam tokohnya. “Mungkin saking puritannya.” Haedar berpendapat, sebaiknya pemahaman untuk berziarah dibiarkan mengalir tanpa paksaan.

“Itu tradisinya tetapi sekarang mulai ada pemahaman bahwa ziarah kubur itu perlu juga,” ucap Haedar. Tapi, dia mewanti-wanti agar ziarah jangan membuat orang mengeramatkan orang yang dalam kubur itu, sekalipun kiai.

Namun, dia menerangkan, kalangan Muhammadiyah tahu bahwa Ki Bagus dimakamkan di Yogyakarta. Apalagi, setelah Ki Bagus diangkat menjadi pahlawan nasional. Memang pada umumnya tokoh-tokoh Muhammadiyah dimakamkan di Pakuncen.

Baca Juga :  Gatot Nurmantyo Kini: "Sah-sah Saja Kalau Saya Ingin Jadi Presiden"

“Tjokroaminoto juga makamnya di Pakuncen. Mungkin banyak orang juga tidak tahu makam Tjokroaminoto di situ,” tutur Haedar.

Baca juaga : Singapura Was-was dengan Kemajuan Indonesia di Tangan Jokowi !

Di Muhammadiyah memang tidak kenal dengan kebiasaan ziarah kubur seperti saudaranya di NU yang justru cinta dengan ziarah kubur. Selama ini di Muhammadiyah, ziarah kubur dianggap mendekati kemusyrikan. Sebaliknya di NU menganggap ziarah kubur sebagai Sunnah Nabi untuk mendoakan penghuni kubur.

Bagikan ini :