Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Pendidikan Agama Sejak Kecil Penting dalam Menangkal Radikalisme

Pendidikan Agama yang Moderat Penting dalam Menangkal Radikalisme

Page Visited: 2930
Read Time:1 Minute, 38 Second

Pendidikan Agama yang Moderat Penting dalam Menangkal Radikalisme

Mendidik anak sejak dini dengan pendidikan agama yang moderat adalah sangat penting dilakukan. Hal ini bisa menyelamatkan anak-anak kita dari bahaya paham radikal. Pemahaman agama yang moderat akan menjadikan anak-anak kita sebagai pribadi tangguh dalam memegang prinsip beragama dan berakhlak mulia.

Prof. Dr. Muhammad Ibrahim Al-Ashmawy, Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas Al-Azhar Mesir mengatakan ada tanda-tanda seseorang telah keluar dari manhaj Al-Azhar yang moderat dan akhirnya mereka menjadi radikalis dan ekstrimis.

Baca juga : Humor Gus Dur : Agama Gus Dur Paling Jauh dari Tuhan

Berikut tanda-tanda telah keluarnya seseorang dari manhaj wasathiyah (moderat) Al-Azhar Asy-Syarif:

  1. Memfitnah dan menghujat metodologi akidah para ulama mazhab Asy’ari.
  2. Memfitnah dan menghujat tasawuf dan seluruh tokohnya tanpa terkecuali.
  3. Meninggalkan mazhab-mazhab fikih yang diakui dan ganti mengikuti apa yang secara serampangan disebut sebagai “Fikih Dalil”.
  4. Seringkali menjadikan pendapat Ibnu Taimiyah dan model pemahamannya sebagai pijakan dalam semua hal, walaupun terdapat pendapat ulama lain yang lebih pakar dan lebih diakui keilmuannya.
  5. Bersikap ekstrim dan fanatik berlebihan.
  6. Sering mengucapkan istilah-istilah seperti: tauhid, syirik, bid’ah, penyembah kuburan, thogut.
  7. Lantang menyampaikan penolakan dan pengingkaran terhadap para ulama mazhab Asy’ari dan para sufi dengan mencela dan menuduh mereka telah melanggar Sunnah bahkan sampai pada level mengkafirkan mereka.
  8. Gemar menyalahkan orang lain yang berbeda pandangan dengannya serta selalu memonopoli klaim kebenaran
  9. Bersikap keras terhadap pihak-pihak yang berbeda darinya bahkan sampai mengeluarkan mereka dari agama.
  10. Mementingkan simbol-simbol beragama tanpa mengambil (mendalami) substansi ajarannya.
  11. Tidak mengakui sistem negara dan institusi-instistusi di dalamnya, walaupun secara lahir pura-pura mengakuinya karena adanya kepentingan.
Baca Juga :  Mencegah Radikalisme Masuk Lingkungan Sekolah

Baca juga : HTI Bukti Nyata Perpecahan Umat Islam

Demikianlah, jika kita menemukan orang-orang dengan ciri-ciri yang disebutkan oleh Prof. Dr. Muhammad Ibrahim Al-Ashmawy, Guru Besar Ilmu Hadits di Universitas Al-Azhar Mesir, maka sebaiknya jangan didekati. Perkataannya janganlah ditelan mentah-mentah agar tidak tertular virus radikalisme yang telah bersarang di otaknya.

Bagikan ini :