Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Penjelasan Wapres KH Ma'ruf Amin Soal Larangan Paham Khilafah di Indonesia

Penjelasan Wapres KH Ma’ruf Amin Soal Larangan Paham Khilafah di Indonesia

Page Visited: 1099
Read Time:1 Minute, 49 Second

Terkait Soal Larangan Paham Khilafah di Indonesia, Ini Penjelasan Wapres KH Ma’ruf Amin

Wakil Presiden (Wapres) KH Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia yang Muslim tidak boleh membawa paham khilafah ke dalam kehidupan kebangsaan kita. Apa sebabnya, karena hal tersebut melanggar kesepakatan yang ada dalam wujud Pancasila, UUD 1945, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Penjelasan tersebut disampaikan Wapres saat menanggapi pertanyaan seorang peserta kuliah umum Lemhanas yang dilaksanakan secara virtual, Kamis (9/7/2020), terkait persoalan dikotomi nasionalis dan agamis.

Kata KH Ma’ruf Amin, seharusnya tak ada dikotomi antara nasionalis dan agamis di Indonesia. Sebab para pendiri bangsa sudah menuntaskan persoalan hubungan agama dan negara melalui kesepakatan nasional itu. Kesepakatan itulah yang mengikat keindonesiaan hingga saat ini, sebagai landasan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila, UUD 1945, dan NKRI.

Baca Juga: Hukuman Bagi ASN Terlibat Ideologi Khilafah Akan Diberhentikan Tidak Hormat

“Bagi Muslim, tak boleh dia mambawa paham-paham lain dalam kehidupan kebangsaan kita itu. Termasuk misalnya orang membawa sistem khilafah karena dianggapnya sebagai sesuatu yang islami,” kata Wapres KH Ma’ruf Amin.

Baca Juga :  Obat Anti Galau Menurut Gus Mus

Jika dipersoalkan apakah islami atau tidak, Kiai Ma’ruf Amin menjelaskan bahwa yang islami bukan hanya khilafah. Kerajaan juga bisa islami seperti Kerajaan Arab Saudi. Begitupun emirat juga islami, terbukti dengan adanya Abu Dhabi, Kuwait, dan Qatar. Republik juga islami dengan contoh Indonesia, Mesir, Pakistan, dan Turki.

“Itu juga islami. Makanya kita katakan tak boleh membawa sistem lain selain republik karena kita sudah menyepakati bahwa negara kita ini republik, NKRI. NKRI itu harga mati,” ucap Kiai Ma’ruf Amin.

Baca Juga: Pesan dari Yaman : Jika Bendera Hitam Mulai Tersebar di Negara Kalian, Pertanda Awal Semua Kekacauan

Karenanya, Kiai Ma’ruf menekankan bahwa khilafah ditolak di Indonesia karena menyalahi kesepakatan, bukan karena ia tidak islami. Oleh karena itu, seorang muslim Indonesia haruslah menjadi Muslim yang nasionalis sekaligus agamis. Jika masih ada yang medikotomikannya, dipastikan dia belum memahami konteks keagamaan dan kebangsaaannya.

Dalam konteks itu pula, dilakukan upaya menghilangkan paham radikal melalui deradikalisasi dan kontra-radikalisasi untuk memastikan bahwa paham yang tak sesuai dengan keislaman serta kebangsaan Indonesia diupayakan harus terkikis.

Baca Juga :  Masih Bermimpi Menegakkan khilafah? Belajar dari Sesal WNI eks ISIS

“Maka itu saya mengatakan kita itu harus Muslim dan Indonesia, harus Indonesia yang muslim. Islam kita adalah islam yang memiliki kesepakatan,” pungkasnya. (qa/ummatina/beritasatu)

Bagikan ini :