Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

Penyebaran Radikalisme di Indonesia, Haruskan Terus Diwaspadai

Penyebaran Radikalisme di Indonesia, Haruskah Terus Diwaspadai?

Page Visited: 682
Read Time:2 Minute, 25 Second

Eksistensi radikalisme, saat ini memiliki banyak pintu masuk baik secara ofline ataupun online. Hal ini bisa menjadi sebab banyak orang terpapar radikalisme. Yang jelas, mulai kalangan orang tua hingga anak muda yang masih produktif, ada potensi cukup rentan tertularr virus radikalisme. Jadi, memang seharusnya masyarakat terus mewaspadai penyebaran radikalisme, khususnya paham anti Pancasila yang mana hal ini bisa menjadi sebab runtuhnya NKRI.

Radikalisme harus dianggap sebagai musuh bersama. Untuk menangani hal ini, tentu saja semua pihak harus ikut membendung arus penyebaran virus radikalisme tersebut. Dalam hal ini para pemuka agama mempunyai posisi penting dalam menjaga kebhinekaan dan persatuan bangsa, juga sebagai sistem penyejuk hati masyarakat dan sekaligus pengayom. salah satu contoh nyata, pemuka agama seperti ini bisa lihat pada sosok Habib Luthfi bin Yahya yang tak bisa dibantah lagi perannya dalam menjaga kebhinekaan dan persatuan bangsa.

Menurut Ketua MPR Bambang Soesatyo mengatakan, bahwa para pemuka agama saat ini memiliki tantangan yang tidak ringan. Selain dituntut merekatkan ikatan kebangsaan, pemuka agama juga harus menjadi bagian dari penyejuk masyarakat, bangsa dan negara. Mantan Ketua DPR yang akrab disapa Bamsoet ini menegaskan, kerukunan antarumat beragama menjadi fondasi utama bagi kelangsungan NKRI. Jangan sampai Indonesia mengikuti negara-negara seperti di Timur Tengah yang selalu berkonflik antarsatu dengan yang lainnya. Apalagi, konflik yang mengatasnamakan agama.

Baca Juga :  Awas! Radikalisme Terus Berusaha Mengikis Nasionalisme Kita

Munculnya paham radikal yang mampu menarik minat WNI untuk bergabung ke ISIS di Suriah, jelas menunjukkan bahwa paham radikalisme mampu mengajak orang untuk meninggalkan tanah airnnya dengan kebencian. Buktinya mereka rela membakar pasport-nya, mereka lebih memilih untuk pergi jauh dari negara yang gemah ripah loh jinawi ini.

Semua pihak harus waspada penyebaran radikalisme, lebih-lebih ketika ada berita provokasi yang berisi ujaran kebencian maupun sikap intoleransi.

Para penganut paham radikal cenderung memiliki pemahaman yang sempit, keras, dan selalu ingin mengoreksi paham orang lain yang bertentangan dengan ideologinya. Hal inilah yang menyebabkan keharmonisan dalam kehidupan sosial menjadi rusak. Parahnya, mereka secara terang-terangan mengakui dirinya sebagai seseorang yang anti terhadap Pancasila, dan tidak ingin negara Indonesia berdiri dengan azas Pancasila. Mereka ingin mengubah tatanan negara Indonesia yang pancasilais menjadi negara khilafah.

Kaum radikal cenderung melihat pemerintah adalah rezim yang zalim. Mereka akan menggoreng segala kebijakan pemerintah untuk memuluskan agenda kelompoknya. Di masa awal-awal seragan pandemi Covid-19 misalnya, ketika pemerintah menganjurkan untuk beribadah di rumah dan tidak di tempat ibadah, maka kaum radikalis akan dengan lantang menyuarakan di laman media sosialnya bahwa hal itu adalah kezaliman pemerintah .

Baca Juga :  Pusat Latihan Generasi Teroris JI Dibongkar Densus 88 Polri


Kita saling membutuhkan dan tidak semestinya saling memusuhi antar sesama saudara sebangsa. Jangan sampai kita mengklaim sebagai pejuang Islam, tetapi kelakuan kita sangat jauh dari karakter Islam yang mencintai persatuan dan kedamaian.

Perlu disadari bahwa khilafah yang digaungkan oleh kelompok radikal tidak bisa berkembang di Indonesia karena bertolak belakang dengan sistem negara Demokrasi Pancasila yang sudah disepakati bersama sejak Kemerdekaan 1945. Ideologi bangsa sudah semestinya tidak perlu diperdebatkan, Pancasila sebagai ideologi negara telah disepakati sebagai ideologi NKRI yang mampu merekatkan bangsa Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Bagikan ini :