Ummatina

Ummat Islam Cinta NKRI

_Pilpres 2024 Bakal Ramai, 4 Orang Ini Ingin Jadi Presiden Gantikan Jokowi

Pilpres 2024 Bakal Ramai, 4 Orang Ini Ingin Jadi Presiden Gantikan Jokowi

Page Visited: 1548
Read Time:3 Minute, 41 Second

4 Orang Ini Ingin Jadi Presiden Gantikan Jokowi, Pilpres 2024 Bakal Ramai?

Berikut ini adalah 4 orang tokoh di Indonesia yang kelihatannya ingin jadi presiden Indonesia. Track record di media massa menunjukkan mereka ada keinginan menjadi presiden. Kalau benar mereka nanti maju jadi capres 2024, pasti bakalan ramai. Inilah keempat orang tokoh tersebut.

Gatot Nurmantyo: Para Ulama Mendoakan Saya jadi Presiden juga untuk Menyelamatkan Bangsa Ini

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo menegaskan bahwa Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia ( KAMI) bukanlah alat politik untuk membidik Pilpres 2024.

“Boleh-boleh saja kalau menyangka KAMI saya gunakan untuk nyapres. Namanya juga politikus pasti dikaitkan dengan politik. Saya hargai itu,” jelas Gatot.

Gatot menegaskan hal tersebut di kediaman salah satu anggota KAMI, Daday Hudaya, di Telukjambe, Karawang, Rabu, 30 September 2020.

Bagi Gatot, mereka yang mengkritik dirinya, berarti telah mendengarkannya baik-baik. Gatot juga mengingatkan para kritikus untuk berpikir lebih jauh agar bisa lebih paham.

Selain itu, Gatot juga menanggapi pertanyaan wartawan saat ditanya perihal dukungan dan doa para ulama yang menginginkan dirinya menjadi presiden.

Baca Juga :  Sertifikasi Ulama, Hanya di Indonesia Sertifikasi Ulama Ditentang Ulama

“Saya yakin para ulama mendoakan saya menjadi presiden dan juga berdoa juga untuk menyelamatkan bangsa ini,” kata Gatot.

Gatot juga menyatakan bahwa KAMI adalah organisasi moral dan tidak akan berubah jadi partai politik. Bahkan dirinya juga menyatakan akan keluar jika organisasi tersebut berubah jadi partai.

“Kalau menjadi partai politik pasti saya, Farudin, Prof Wahab, dan yang lainnya akan keluar dari KAMI,” ujarnya.

Dirinya tak mau membohongi masyarakat dengan mengubah KAMI menjadi partai politik, karena organisasi tersebut memang tidak diniatkan untuk menjadi partai.

Diketahui, setelah acara di Rengasdengklok dibubarkan, acara KAMI dilanjutkan di rumah salah satu anggota KAMI, Daday Hudaya, di Telukjambe, Karawang.

Sebelum ke Telukjambe, Karawang, Gatot sedianya menghadiri acara deklarasi KAMI di Tugu Proklamasi Regasdengklok, Karawang, Rabu (30/9/2020).

Namun, acara tersebut akhirnya dibubarkan karena mendapatkan penolakan dari ormas.

(*/https://www.bentengsumbar.com/2020/10/gatot-nurmantyo-para-ulama-mendoakan.html)

Skakmat Jokowi, Din Syamsuddin: Saya Lebih Tepat Jadi Presiden

Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Din Syamsuddin sempat dikabarkan bakal digaet Joko Widodo alias Jokowi jadi Wapres pada Pilpres 2019.

Saat itu Din disebut-sebut akan diplot sebagai wakil presiden untuk mendampingi Jokowi. Din pun disebut-sebut melampiaskan rasa sakit hatinya dengan menginisiasi KAMI.

Baca Juga :  Habib Muannas, Habib yang Berani Beri Nasehat ke Habib Rizieq

Apakah rumor tersebut benar? Din pun blak-blakan mengenai kemunculan isu tersebut. Menurut Din, saat itu dirinya keluar dari Istana Negara.

Dia lantas ditanya awak media mengenai kesiapannya menjadi calon wakil presiden.

“Saya bilang, saya tidak mau meremehkan Muhammadiyah, organisasi besar yang saya pimpin dua periode,” kata Din dalam acara diskusi virtual bertajuk Tanya Jawab Cak Ulung, Kamis, 8 Oktober 2020.

Din lantas disindir karena ada yang tidak mengenyam bangku pendidikan yang layak, tetapi bersedia menjadi cawapres.

Namun, dia hanya merespons sindiran itu dengan diplomatis. Menurut dia, ada upaya pihak tertentu untuk menyudutkan tokoh KAMI.

“Saya sadar bukan orang yang punya parpol. Judulnya siap, dipakailah untuk kira-kira mendeskritkan saya pernah punya keinginan gitu,” kata Din.

Tokoh asal Nusa Tenggara Barat (NTB) itu pun mengaku akan menolak jika diminta menjadi cawapres.

“Lihat siapa calon presidennya, ya. Saya maunya sebagai mantan Ketum Muhammadiyah. Saya jadi nomor satu, jangan nomor dua,” ucap Din.

Menurut pria kelahiran 31 Agustus 1958 itu, dirinya lebih cocok menjadi orang nomor satu.

Baca Juga :  Soal Deklarasi KAMI yang Ditolak di Mana-mana

“Saya lebih tepat jadi presiden. Jangan jadi nomor dua,” sambung Din.

(genpi/https://www.bentengsumbar.com/2020/10/skakmat-jokowi-din-syamsuddin-saya.html)

Andai Jadi Presiden, Rizal Ramli Bakal Atur Soal Ini

Suara.com – Ekonom Rizal Ramli melakukan pertemuan dengan beberapa pengasuh pondok pesantren Nahdlatul Ulama se-Jawa Timur dan Jawa Tengah melalui webinar pada Senin (24/8/2020) sore. Dalam diskusi itu, Rizal mengungkapkan ide-idenya dalam mengatasi masalah ekonomi yang terjadi sekarang ini.

Rizal Ramli berpendapat, saat ini pendapatan petani belum maksimal. Bahkan, para petani mengalami kerugian.

Pertama, karena adanya sistem kartel dalam perdagangan komoditi di Indonesia. Selain itu, kata dia, pemerintah tidak mengatur harga bahan pangan pokok. Sehingga sewaktu-waktu harga produksi tidak stabil, maka pendapatan petani turun.

“Kenapa pemerintah Indonesia belum pernah menerapkan harga price policy? (padahal) di Jepang di Korsel diatur harga supaya petani setiap panen untung. Bahkan zaman Pak Harto diatur,” kata mantan anggota Tim Panel Ekonomi PBB.

Intinya adalah Rizal Ramli ingin jadi Presiden dengan menumpang NU. Pertanyaannya maukah NU nanti ditumpangi orang ini? Masih lama,sulit dijawab sekarang. Tapi kalau boleh menjawab, NU nggak sudi.

(https://www.suara.com/news/2020/08/25/061336/andai-jadi-presiden-rizal-ramli-bakal-atur-soal-ini)

(*/dari berbagai sumber)

Bagikan ini :